Hadits Malaikat Pengembara yang Mencari Majelis Zikir
1. Pembukaan
Di tengah hiruk-pikuk zaman ini, banyak orang mendapati dirinya lelah tanpa tahu sebabnya. Jadwal yang padat, target pekerjaan yang terus naik, gawai yang tak henti berdenting, dan pergaulan yang lebih sering membicarakan urusan dunia membuat hati terasa sempit dan gelisah. Orang pun mencari ketenangan di banyak tempat: hiburan, belanja, wisata, bahkan pelarian yang justru merusak. Sementara itu, majelis yang mengingatkan kepada Allah kerap dianggap membosankan, kurang produktif, atau sekadar urusan orang tua. Akibatnya, lingkungan yang membentuk kita hari demi hari lebih banyak menarik kepada kelalaian daripada kepada kesadaran akan Allah.
Padahal, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, menyingkap sesuatu yang tidak tertangkap mata: ada malaikat-malaikat khusus yang berkeliling di jalan-jalan bumi, bukan untuk mencari harta atau kedudukan, melainkan untuk mencari orang-orang yang sedang berzikir. Hadits ini menjadi penawar bagi jiwa yang resah, sebab ia menunjukkan bahwa duduk mengingat Allah bukan perkara sepele. Kegiatan itu dicari, dikelilingi, dan disaksikan oleh makhluk-makhluk langit, lalu berujung pada ampunan Allah. Karena itulah hadits ini penting untuk dipelajari, dihayati, dan diamalkan oleh setiap peserta kajian.
2. Matan Hadits
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ. قَالَ: فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا. قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ، وَيُمَجِّدُونَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا. قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ: يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً. قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari ahli zikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka saling menyeru: Marilah menuju keperluan kalian! Maka para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia. Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu. Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat-Ku? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihat-Mu. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihat-Mu, tentu mereka lebih giat beribadah kepada-Mu, lebih besar dalam mengagungkan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu. Allah bertanya: Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka memohon surga kepada-Mu. Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat surga? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka lebih bersemangat mengejarnya, lebih sungguh-sungguh mencarinya, dan lebih besar kerinduannya kepadanya. Allah bertanya: Dari apa mereka memohon perlindungan? Para malaikat menjawab: Dari neraka. Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat neraka? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka lebih kuat lari darinya dan lebih besar rasa takutnya kepadanya. Allah berfirman: Maka Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka. Seorang malaikat berkata: Di antara mereka ada si fulan yang bukan bagian dari mereka; ia datang hanya karena suatu keperluan. Allah berfirman: Mereka itulah kaum yang teman duduknya tidak akan celaka."
HR. Al-Bukhari (6408) dan Muslim (2689). Lafaz di atas adalah lafaz Al-Bukhari; Muslim meriwayatkannya dengan redaksi yang sedikit berbeda, antara lain memakai sebutan malā'ikah sayyārah.
3. Syarah per Perkataan
Perkataan 1: Malaikat yang Berkeliling Mencari Ahli Zikir
a. Teks dan makna
إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan, mencari ahli zikir."
b. Penjelasan makna per kata
إِنَّ adalah huruf penegas yang menjadikan kabar sesudahnya pasti dan meyakinkan. Nabi ﷺ membuka sabdanya dengan penegasan agar hati para pendengar percaya pada perkara gaib yang tidak dapat mereka saksikan dengan mata.
لِلَّهِ memuat huruf lam yang bermakna kepemilikan sekaligus pemuliaan. Para malaikat itu milik Allah, bekerja atas perintah-Nya, dan tidak bergerak atas kehendak sendiri.
مَلَائِكَةً adalah bentuk jamak dari malak, makhluk gaib yang taat sepenuhnya kepada Allah. Kata ini berbentuk nakirah (tanpa awalan al-), sehingga yang dimaksud bukan seluruh malaikat, melainkan sekelompok malaikat yang diberi tugas khusus.
يَطُوفُونَ berasal dari akar kata thawaf, yaitu berputar atau mengelilingi. Bentuk kata kerja masa kini di sini menunjukkan pekerjaan yang berulang dan tidak putus.
فِي الطُّرُقِ berarti di jalan-jalan. Bentuk jamak ini mencakup semua jalur yang dilalui manusia. Malaikat tidak menunggu di satu tempat, tetapi menelusuri ke mana pun manusia berlalu-lalang.
يَلْتَمِسُونَ bermakna mencari dengan sungguh-sungguh dan penuh harap. Ini bukan pencarian asal-asalan, tetapi pencarian orang yang tahu persis apa yang ia inginkan.
أَهْلَ الذِّكْرِ terdiri atas dua kata. Ahl berarti orang yang akrab dan menjadi pemilik sesuatu, sedangkan adz-dzikr berarti mengingat dan menyebut Allah dengan lisan maupun hati. Ahli zikir bukan orang yang sesekali saja menyebut nama Allah, melainkan orang yang zikir telah menjadi kebiasaan dan jati dirinya. Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah berikut:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Al-Kahfi 18: 28):
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Artinya: "Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya."
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ agar duduk bersama orang-orang yang mengingat Allah, yang bertahlil, bertahmid, bertasbih, dan bertakbir, tanpa memandang apakah mereka kaya atau miskin, kuat atau lemah.[1] Jika Nabi ﷺ saja diperintahkan bersabar duduk bersama para pezikir, dapat dipahami bahwa kedekatan dengan para pezikir adalah kedudukan yang mulia, dan hadits berikut menunjukkan bahwa para malaikat pun mencari mereka. Makna kebersamaan dengan para pezikir dalam ayat di atas kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Rasulullah ﷺ melalui haditsnya:
d. Dalil Hadits Penguat
إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضْلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ
"Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang senantiasa berkeliling lagi memiliki keutamaan; mereka menelusuri majelis-majelis zikir." (HR. Muslim 2689 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Menurut An-Nawawi, makna sayyārah dalam hadits ini adalah para pengembara di muka bumi.[2] Ibnu Hajar al-'Asqalani menegaskan bahwa malaikat yang mencari majelis zikir ini termasuk golongan malaikat sayyārah, yaitu malaikat di luar para malaikat pencatat amal.[3] Dengan demikian, pencarian ini adalah tugas tersendiri yang berlangsung terus-menerus, dan sasarannya jelas: majelis zikir.
e. Pelajaran dari Perkataan 1
Dari keterpaduan ayat dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa majelis zikir adalah sasaran yang dicari oleh langit, sehingga mencari dan menghadirinya berarti menyelaraskan diri dengan kehendak Allah dan para malaikat-Nya.
Perkataan 2: Seruan Malaikat dan Naungan Sayap
a. Teks dan makna
فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ. قَالَ: فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا.
"Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah, mereka saling menyeru: Marilah menuju keperluan kalian! Beliau bersabda: Maka para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia."
b. Penjelasan makna per kata
وَجَدُوا berarti menemukan. Kata kerja lampau ini menunjukkan kepastian: setelah pencarian yang panjang, para malaikat benar-benar mendapatkan yang mereka cari, dan ada kegembiraan dalam penemuan itu.
قَوْمًا berarti sekelompok orang, dan bentuknya nakirah. Hadits tidak menyebut siapa mereka, berapa jumlahnya, atau apa kedudukannya. Yang menentukan bukan status sosial, melainkan kegiatan yang sedang mereka lakukan.
يَذْكُرُونَ اللَّهَ berarti mereka berzikir kepada Allah. Bentuk kata kerja masa kini menggambarkan bahwa mereka sedang berzikir pada saat ditemukan; keadaan itulah yang dicari oleh para malaikat.
تَنَادَوْا berarti saling memanggil. Pola kata tafā'ala menunjukkan seruan yang berbalas antarpihak: satu malaikat memanggil yang lain, lalu yang lain menyambut.
هَلُمُّوا adalah ajakan yang bermakna "marilah" atau "kemarilah". Ia dipakai untuk mengajak dengan penuh semangat.
حَاجَتِكُمْ berarti keperluan atau tujuan kalian. Menarik bahwa para malaikat menyebut orang-orang yang berzikir itu sebagai "keperluan" mereka. Menemukan majelis zikir adalah tujuan pekerjaan mereka.
فَيَحُفُّونَهُمْ berasal dari kata hafafa, yaitu mengitari dari segala sisi. Ini gambaran lingkaran penjagaan sekaligus penghormatan.
بِأَجْنِحَتِهِمْ berarti dengan sayap-sayap mereka; ia bentuk jamak dari janāh. Sayap adalah bagian dari hakikat penciptaan malaikat sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an.
إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا berarti sampai ke langit yang paling dekat dengan bumi. Frasa ini menggambarkan naungan para malaikat yang memenuhi ruang antara majelis zikir dan langit dunia; hadits tidak merinci bentuk penataannya, sehingga kita tidak perlu menambah gambaran di luar teks. Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Fathir 35: 1):
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga, dan empat."
Menurut Ibnu Katsir, para malaikat sebagai utusan Allah memiliki sayap yang jumlahnya berbeda-beda: ada yang dua, ada yang tiga, dan ada yang empat. Beliau juga menyebutkan riwayat bahwa Rasulullah ﷺ melihat Jibril pada malam Isra dengan enam ratus sayap.[4] Keterangan ini membantu kita membayangkan betapa agungnya naungan sayap para malaikat yang mengelilingi sebuah majelis zikir. Untuk memperjelas penerapan makna ayat ini dalam keseharian, perhatikan pula sabda Rasulullah ﷺ berikut:
d. Dalil Hadits Penguat
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah suatu kaum duduk berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim 2700 dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhuma)
Menurut Al-'Utsaimin, malaikat melingkupi para pezikir dengan sayap-sayapnya dari bumi hingga langit dunia sebagai tanda kehormatan bagi mereka, dan seruan "marilah" di antara para malaikat itu mencerminkan kegembiraan mereka menemukan orang-orang yang berzikir.[5] Hadits Muslim ini merinci empat karunia yang menyertai majelis zikir: dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan, dan disebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya.
e. Pelajaran dari Perkataan 2
Bertolak dari dalil Al-Qur'an dan hadits yang telah dipaparkan, tergambar jelas bahwa majelis zikir dimuliakan dengan kehadiran, kegembiraan, dan naungan para malaikat, suatu penghormatan yang tidak diberikan kepada sembarang perkumpulan.
Perkataan 3: Pertanyaan Allah tentang Ucapan Hamba-Nya
a. Teks dan makna
قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالُوا: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ، وَيُمَجِّدُونَكَ.
"Beliau bersabda: Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu."
b. Penjelasan makna per kata
فَيَسْأَلُهُمْ berarti lalu Dia bertanya kepada mereka. Huruf fa' menunjukkan bahwa pertanyaan itu menyusul langsung setelah para malaikat berkumpul di sekitar majelis.
رَبُّهُمْ berarti Rabb mereka. Kata Rabb mengandung makna pemelihara, pengatur, dan pemilik. Allah menyapa para malaikat dengan sebutan yang menunjukkan kedekatan pemeliharaan-Nya.
وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ adalah kalimat sisipan yang menegaskan bahwa pertanyaan itu bukan karena Allah tidak tahu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Menurut Al-'Utsaimin, Allah bertanya agar tampak kemuliaan kaum yang berzikir itu, bukan karena kekurangan ilmu.[6]
مَا يَقُولُ عِبَادِي berarti apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku. Perhatikan sebutan "hamba-hamba-Ku": Allah menyandarkan manusia kepada diri-Nya, dan ini kehormatan yang sangat besar.
يُسَبِّحُونَكَ berarti mereka menyucikan-Mu dari segala kekurangan dan yang tidak layak bagi-Mu, yaitu ucapan subhanallah.
يُكَبِّرُونَكَ berarti mereka menyatakan bahwa Engkau Mahabesar, yaitu ucapan Allahu akbar.
يَحْمَدُونَكَ berarti mereka memuji-Mu atas kesempurnaan sifat dan limpahan nikmat-Mu, yaitu ucapan alhamdulillah.
يُمَجِّدُونَكَ berarti mereka menyebut kemuliaan dan keagungan-Mu. Keempat kata kerja ini berbentuk masa kini, sehingga menggambarkan zikir yang terus berlangsung. Sebagai landasan atas pemaknaan tersebut, perhatikan firman Allah berikut:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Al-Ahzab 33: 41):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan menyebut (nama-Nya) sebanyak-banyaknya."
Menurut Ibnu Katsir, Allah memerintahkan hamba-hamba yang beriman untuk memperbanyak zikir kepada Tuhan yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka, dan di dalamnya terdapat pahala besar serta tempat kembali yang mulia. Beliau juga menerangkan bahwa Allah tidak menetapkan batas tertentu bagi zikir.[7] Perintah memperbanyak zikir inilah yang diwujudkan oleh orang-orang dalam hadits ini dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid. Prinsip yang terkandung dalam ayat di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:
d. Dalil Hadits Penguat
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati." (HR. Al-Bukhari 6407 dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini menyamakan hati yang berzikir dengan makhluk yang hidup dan hati yang lalai dengan jasad tanpa nyawa. Orang yang lalai mungkin masih bekerja, makan, dan berbicara, tetapi hatinya tidak menyala. Sebaliknya, tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid adalah nyawa yang menghidupkan hati.
e. Pelajaran dari Perkataan 3
Merangkai kedua dalil di atas, pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa zikir dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid bukan sekadar bacaan, melainkan penghidup hati yang dilaporkan sebagai kemuliaan hamba di hadapan Allah.
Perkataan 4: Beribadah tanpa Pernah Melihat
a. Teks dan makna
قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا.
"Beliau bersabda: Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat-Ku? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihat-Mu. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihat-Mu, tentu mereka lebih giat beribadah kepada-Mu, lebih besar dalam mengagungkan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu."
b. Penjelasan makna per kata
هَلْ رَأَوْنِي berarti apakah mereka pernah melihat-Ku. Ini pertanyaan yang bertujuan menegaskan, bukan mencari tahu. Allah hendak memperlihatkan bahwa ibadah para pezikir itu berdiri di atas iman, bukan di atas penglihatan.
لَا وَاللَّهِ berarti tidak, demi Allah. Para malaikat bersumpah untuk menegaskan jawaban mereka. Sumpah ini menunjukkan kepastian sekaligus kejujuran dalam melapor.
وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي berarti bagaimana seandainya mereka melihat-Ku. Kata law (seandainya) adalah pengandaian yang membuka pintu perbandingan: jika ibadah mereka sudah sebaik itu tanpa melihat, bagaimana kalau melihat?
أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً berarti lebih kuat ibadahnya kepada-Mu. Bentuk asyaddu menunjukkan tingkatan yang lebih tinggi. Ibadah adalah puncak ketundukan dan kecintaan.
تَمْجِيدًا berarti pengagungan yang lebih besar, dan أَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا berarti lebih banyak bertasbih kepada-Mu. Dua hal ini adalah buah dari kesadaran akan kebesaran Allah yang makin nyata. Dari pemaknaan per kata ini, dapat ditelusuri akarnya pada firman Allah berikut:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Al-Mulk 67: 12):
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar."
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini berbicara tentang orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ketika ia tersembunyi dari pandangan manusia, lalu meninggalkan dosa dan menunaikan ketaatan meskipun tidak ada yang melihatnya selain Allah. Balasan bagi orang seperti itu adalah ampunan dan pahala yang besar.[8] Inilah keadaan para pezikir dalam hadits: mereka belum melihat Allah, tetapi hati mereka takut dan taat kepada-Nya. Sebagai gambaran konkret dari kandungan ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:
d. Dalil Hadits Penguat
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
"(Ihsan itu ialah) engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Al-Bukhari 50 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini menjelaskan ihsan dalam ibadah, yang memiliki dua tingkat: beribadah seakan-akan melihat Allah, dan bila belum sampai ke sana, menyadari bahwa Allah senantiasa melihat. Hadits para malaikat menunjukkan buahnya. Perlu dibedakan dua hal. Melihat Allah secara langsung tidak terjadi di dunia; yang dimaksud dalam ihsan adalah kesadaran hati seakan-akan melihat-Nya. Prinsip yang menyatukan keduanya sejalan dengan ucapan malaikat: semakin kuat keyakinan terhadap yang gaib, semakin kuat pula ibadah.
e. Pelajaran dari Perkataan 4
Al-Qur'an dan sunah yang saling menguatkan ini pada akhirnya menuntun pada satu kesimpulan, yaitu bahwa kesungguhan ibadah hamba yang belum pernah melihat Allah lahir dari iman kepada yang gaib dan kesadaran bahwa Allah selalu melihatnya.
Perkataan 5: Memohon Surga yang Belum Pernah Dilihat
a. Teks dan makna
قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ: يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً.
"Beliau bersabda: Allah bertanya: Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku? Para malaikat menjawab: Mereka memohon surga kepada-Mu. Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat surga? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka lebih bersemangat mengejarnya, lebih sungguh-sungguh mencarinya, dan lebih besar kerinduannya kepadanya."
b. Penjelasan makna per kata
يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ berarti mereka memohon surga kepada-Mu. Permintaan itu ditujukan langsung kepada Allah, tanpa perantara. Kata al-jannah berasal dari akar yang bermakna menutupi. Ia adalah taman yang rimbun, tempat kenikmatan abadi yang disiapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya.
يَا رَبِّ berarti wahai Rabb-ku. Pada jawaban ini para malaikat menambahkan panggilan yang penuh kerendahan, seolah-olah menunjukkan bahwa membicarakan surga menuntut adab yang lebih halus.
حِرْصًا berarti semangat yang kuat untuk mendapatkan sesuatu dan enggan kehilangannya, طَلَبًا berarti usaha mencari dengan langkah nyata, dan رَغْبَةً berarti kecenderungan dan kerinduan hati. Tiga kata ini seperti tangga: hati merindu (raghbah), tekad menguat (hirsh), lalu anggota badan bergerak mencari (thalab). Guna memperkuat pemahaman terhadap perkataan ini, Allah berfirman:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Ali 'Imran 3: 133):
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa."
Menurut Ibnu Katsir, Allah mendorong hamba-hamba-Nya agar bersegera melakukan berbagai kebaikan dan meraih amal-amal yang mendekatkan diri kepada-Nya. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.[9] Perhatikan bahwa kita belum melihat surga, tetapi Allah tetap memerintahkan kita bersegera menujunya. Iman kepada yang gaib menjadi bahan bakar kesungguhan itu. Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:
d. Dalil Hadits Penguat
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ، أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ، وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
"Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi; kuduga di atasnya terdapat Arasy Ar-Rahman, dan dari sanalah memancar sungai-sungai surga." (HR. Al-Bukhari 2790 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini mengajarkan bahwa cita-cita akhirat sebaiknya tinggi. Ketika memohon surga, mohonlah tingkatan yang paling tinggi, yaitu Firdaus. Permintaan para pezikir dalam hadits para malaikat adalah permintaan yang besar, dan Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mematok cita-cita yang rendah untuk urusan akhirat. Dalam riwayat yang sama (HR. Al-Bukhari 2790) disebutkan bahwa surga memiliki seratus tingkatan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah, dan jarak antartingkatan itu seperti jarak antara langit dan bumi. Konteks ini menegaskan bahwa Firdaus dicapai dengan kesungguhan amal, bukan sekadar angan-angan.
e. Pelajaran dari Perkataan 5
Dari sini tampak jelas keterkaitan antara ayat dan hadits di atas, yaitu bahwa memohon surga, bahkan tingkatnya yang tertinggi, dengan penuh kerinduan dan tindakan nyata adalah sikap orang bertakwa meskipun surga belum pernah mereka lihat.
Perkataan 6: Berlindung dari Neraka yang Belum Pernah Dilihat
a. Teks dan makna
قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ. قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً.
"Beliau bersabda: Allah bertanya: Dari apa mereka memohon perlindungan? Para malaikat menjawab: Dari neraka. Allah bertanya: Apakah mereka pernah melihat neraka? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya. Allah bertanya: Bagaimana seandainya mereka melihatnya? Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka lebih kuat lari darinya dan lebih besar rasa takutnya kepadanya."
b. Penjelasan makna per kata
فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ berarti dari apa mereka memohon perlindungan. Kata mimma adalah gabungan min (dari) dan mā (apa). Pertanyaannya menyasar objek yang mereka takuti.
يَتَعَوَّذُونَ berasal dari akar 'adza, yaitu berlindung dan meminta dijaga. Orang yang berlindung mengakui bahwa dirinya lemah dan bahwa keselamatan hanya ada pada Allah.
مِنَ النَّارِ berarti dari neraka. Jawaban malaikat singkat, tetapi menunjukkan bahwa yang paling ditakuti para pezikir adalah akibat akhir dari kelalaian, bukan kesulitan dunia.
أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا berarti lebih kuat lari darinya. Kata firār menggambarkan menghindar dengan cepat dan tanpa menoleh. Adapun مَخَافَةً berarti rasa takut yang mendorong seseorang menjauhi sumber bahaya. Kedalaman makna yang terkandung dalam frasa ini menemukan pijakannya dalam firman Allah:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Ali 'Imran 3: 191):
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."
Menurut Ibnu Katsir, mereka yang disebut dalam ayat ini tidak menghentikan zikirnya dalam keadaan apa pun, baik dengan hati, pikiran, maupun lisan, dan mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi sehingga sadar bahwa semua itu tidak diciptakan sia-sia.[10] Doa perlindungan dari neraka lahir dari zikir dan perenungan itu, persis seperti laporan malaikat bahwa para pezikir berlindung dari neraka. Peringatan Al-Qur'an ini digemakan kembali dengan nada yang sama oleh Rasulullah ﷺ, sebagaimana sabdanya:
d. Dalil Hadits Penguat
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
"Jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan separuh butir kurma." (HR. Al-Bukhari 1417 dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini menunjukkan bahwa perlindungan dari neraka tidak berhenti pada ucapan. Ia diwujudkan dalam amal, dan sedekah sekecil separuh kurma pun dapat menjadi sebab keselamatan. Doa berlindung yang dipanjatkan para pezikir semestinya berjalan beriringan dengan perbuatan baik, sekecil apa pun.
e. Pelajaran dari Perkataan 6
Sebagai simpul dari kedua dalil tersebut, dapat dipahami bahwa rasa takut yang benar kepada neraka melahirkan doa perlindungan dan amal nyata, sekecil apa pun bentuknya.
Perkataan 7: Ampunan yang Dipersaksikan
a. Teks dan makna
قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ.
"Beliau bersabda: Allah berfirman: Maka Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka."
b. Penjelasan makna per kata
فَأُشْهِدُكُمْ berarti maka Aku jadikan kalian saksi. Allah tidak sekadar mengampuni, tetapi juga menjadikan para malaikat sebagai saksi atas ampunan itu. Persaksian ini menambah kepastian dan kemuliaan bagi para pezikir.
أَنِّي قَدْ berarti bahwa sesungguhnya Aku telah. Gabungan huruf penegas dan kata qad bersama kata kerja lampau menunjukkan kepastian yang sudah terjadi, bukan janji yang masih mengambang.
غَفَرْتُ berasal dari akar ghafara, yang bermakna menutupi dan melindungi. Ampunan Allah berarti menutup dosa hamba dan melindunginya dari akibat buruk dosa itu.
لَهُمْ berarti untuk mereka. Ampunan itu ditujukan kepada seluruh kaum yang berzikir, tanpa penyebutan nama dan kedudukan. Makna yang telah diuraikan tersebut selaras dengan penegasan Al-Qur'an:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. Al-Ahzab 33: 35):
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: "(Juga) laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."
Menurut Ibnu Katsir, para pezikir laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah menempati kedudukan yang tinggi, dan Allah telah menyiapkan bagi mereka ampunan serta pahala yang besar.[11] Ayat ini menegaskan jaminan yang dipersaksikan dalam hadits, yaitu bahwa ampunan adalah bagian dari ganjaran para pezikir. Kandungan ayat ini semakin nyata kedudukannya ketika disandingkan dengan hadits berikut:
d. Dalil Hadits Penguat
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
"Barang siapa mengucapkan Subhanallah wa bihamdih dalam sehari seratus kali, dosa-dosanya digugurkan walaupun sebanyak buih lautan." (HR. Al-Bukhari 6405 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Buih lautan adalah gambaran jumlah yang tak terhitung. Hadits ini menunjukkan betapa luas ampunan Allah bagi orang yang menjaga zikir, sehingga kelalaian dan dosa yang bertumpuk pun dapat digugurkan. Meski demikian, ampunan ini berada dalam kehendak dan rahmat Allah; ia tidak menggantikan tobat, dan tidak menggugurkan kewajiban mengembalikan hak sesama manusia.
e. Pelajaran dari Perkataan 7
Keduanya bermuara pada satu pesan inti, yaitu bahwa zikir yang dijaga menjadi sebab ampunan Allah, dan ampunan itu bahkan dipersaksikan di hadapan para malaikat.
Perkataan 8: Teman Duduk Para Pezikir Tidak Akan Celaka
a. Teks dan makna
قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ: فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ. قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ.
"Beliau bersabda: Seorang malaikat berkata: Di antara mereka ada si fulan yang bukan bagian dari mereka; ia datang hanya karena suatu keperluan. Allah berfirman: Mereka itulah kaum yang teman duduknya tidak akan celaka."
b. Penjelasan makna per kata
مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ berarti seorang malaikat di antara para malaikat. Malaikat ini melapor dengan jujur bahwa ada satu orang di tengah majelis yang datang bukan untuk berzikir. Laporan yang jujur menunjukkan kesempurnaan para malaikat dalam menjalankan tugas.
فُلَانٌ berarti si fulan. Penyebutan tanpa nama ini menutupi identitas orang tersebut, sehingga aib atau kekurangannya tidak dibuka.
لَيْسَ مِنْهُمْ berarti bukan termasuk mereka. Orang itu tidak berniat berzikir; ia bukan bagian dari kelompok pezikir.
إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ berarti ia datang hanya karena suatu keperluan. Kata innamā memberi makna pembatasan: kedatangannya semata-mata karena kepentingan lain.
هُمُ الْجُلَسَاءُ berarti merekalah teman-teman duduk. Awalan al- pada al-julasā' dapat dipahami sebagai penegasan sifat: merekalah teman duduk yang sejati.
لَا يَشْقَى berarti tidak celaka. Kata syaqāwah adalah lawan dari sa'ādah (kebahagiaan), yaitu kesengsaraan dan kebinasaan. جَلِيسُهُمْ berarti orang yang duduk bersama mereka. Uraian makna per kata di atas sejalan dengan apa yang difirmankan Allah:
c. Dalil Al-Quran Penguat
Allah berfirman (QS. At-Taubah 9: 119):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar."
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini memerintahkan orang beriman untuk berlaku jujur dan menetapi kejujuran, agar mereka bersama para pelakunya dan selamat dari kebinasaan.[12] Perintah "bersamalah" menunjukkan bahwa kebersamaan dengan orang-orang yang baik adalah bagian dari ketakwaan. Jika ayat ini meletakkan pondasi pada tataran prinsip, Rasulullah ﷺ mempertegasnya secara praktis dalam hadits berikut:
d. Dalil Hadits Penguat
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
"Perumpamaan teman duduk yang saleh dan yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup tungku pandai besi." (HR. Al-Bukhari 5534 dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu)
Kutipan di atas adalah kalimat pembuka hadits tersebut. Rasulullah ﷺ melanjutkan bahwa pembawa minyak wangi mungkin memberimu hadiah, mungkin menjual minyaknya kepadamu, atau setidaknya engkau mendapatkan aroma yang harum darinya. Adapun peniup tungku pandai besi mungkin membakar pakaianmu atau engkau mencium bau yang tidak sedap darinya. Firman Allah dalam hadits para malaikat, bahwa teman duduk para pezikir tidak akan celaka, sejalan dengan perumpamaan itu. Riwayat Muslim menyebutnya dengan redaksi هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ. Menurut Al-'Utsaimin, orang yang duduk bersama para pezikir akan memperoleh kebahagiaan, bahkan orang yang datang dengan niat lain pun turut memperoleh ampunan.[13]
e. Pelajaran dari Perkataan 8
Titik temu antara ayat dan hadits di atas menegaskan bahwa lingkungan pergaulan sangat menentukan nasib seseorang, sehingga duduk bersama para pezikir menjadi jalan selamat dari kecelakaan dunia dan akhirat.
4. Faedah dan Penerapan
Faedah 1: Majelis Zikir, Jawaban bagi Hati yang Gelisah
Pada bagian Pembukaan kita menyinggung hati yang resah dan lingkungan yang menarik kepada kelalaian. Hadits ini menjawabnya dengan gamblang. Perhatikan sabda إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ: yang dicari langit bukan hiburan dan bukan pula kesibukan kita, melainkan majelis yang di dalamnya Allah disebut. Bila para malaikat berkeliling hanya untuk menemukan orang yang berzikir, maka mendatangi majelis semacam itu berarti mendekat kepada tempat yang paling dijaga dan paling dimuliakan.
Zikir juga bukan sekadar ritual, tetapi jawaban atas kegelisahan jiwa. Allah berfirman (QS. Ar-Ra'd 13: 28):
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Menurut Ibnu Katsir, hati orang beriman menjadi baik dan cenderung kepada Allah, menjadi tenang ketika menyebut-Nya, dan rida menjadikan-Nya sebagai pelindung dan penolong.[14]
Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sederhana tetapi butuh kesengajaan. Seorang pegawai kantor dapat menyisihkan sepuluh menit sebelum rapat atau sesudah salat berjamaah untuk berzikir bersama rekan-rekannya. Seorang ibu rumah tangga dapat menghadiri majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya atau berzikir bersama anak-anak sesudah magrib. Mahasiswa dapat mengisi jeda antarkuliah dengan lingkaran zikir singkat di musala kampus. Jika kita belum menemukan majelis yang cocok, kita dapat memulai dari lingkaran kecil bersama keluarga. Kuncinya ada pada niat menjadikan kegiatan itu sebagai tempat kembali bagi hati, bukan pelengkap jadwal.
Faedah 2: Iman kepada yang Gaib Melahirkan Kesungguhan
Dialog antara Allah dan para malaikat menegaskan satu hal yang mengagumkan: para pezikir itu belum pernah melihat Allah, belum pernah melihat surga, dan belum pernah melihat neraka, tetapi mereka bertasbih, memohon, dan berlindung dengan penuh kesungguhan. Inilah hakikat iman kepada yang gaib. Malaikat sendiri menjawab bahwa seandainya mereka melihat, ibadah mereka akan jauh lebih kuat. Pernyataan ini dapat dipahami bukan sebagai celaan, melainkan sebagai penghormatan: ibadah yang dilakukan tanpa melihat bersandar pada keyakinan, dan itulah yang tampak pada para pezikir.
Penerapannya terasa dalam keseharian kita. Seorang pegawai yang tetap bekerja jujur ketika atasan tidak mengawasi, seorang siswa yang tidak menyontek ketika guru keluar kelas, dan seorang pedagang yang menyebutkan cacat barang meskipun pembeli tidak mengetahuinya, semuanya sedang mengamalkan makna ihsan: Allah melihat. Kesadaran ini adalah sumber disiplin yang paling tahan lama, sebab tidak bergantung pada kamera pengawas atau tatapan orang lain.
Faedah 3: Zikir yang Utuh, Memuji, Berharap, dan Takut
Hadits ini merekam tiga isi utama zikir para hamba. Pertama, pujian kepada Allah berupa tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid. Kedua, permohonan kepada-Nya, yaitu surga. Ketiga, permohonan perlindungan dari neraka. Ketiganya membentuk keseimbangan: kita memuji Allah karena Dia layak dipuji, kita berharap kepada-Nya karena Dia Maha Pemurah, dan kita takut kepada-Nya karena Dia Maha Adil. Zikir yang hanya berisi pujian tanpa harap dan takut terasa hampa, sedangkan doa yang hanya berisi permintaan tanpa pujian terasa kering.
Penerapannya, ketika kita menutup satu hari, kita dapat menyusun zikir dengan tiga unsur itu: mengucapkan tasbih dan tahmid sebagai pujian, memohon surga dengan kerendahan hati, lalu berlindung dari neraka. Kita juga perlu ingat bahwa permohonan perlindungan dari neraka harus didampingi amal, seperti sedekah sekecil apa pun yang mampu kita berikan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang separuh butir kurma.
Faedah 4: Ampunan Allah Meliputi Teman Duduk Para Pezikir
Puncak hadits ini adalah ampunan: قَالَ: فَيَقُولُ: فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. Ampunan itu dipersaksikan di hadapan para malaikat, sehingga menjadi tanda kemuliaan sekaligus jaminan bagi para pezikir. Ampunan tersebut, atas kehendak dan rahmat Allah, bahkan meluas kepada orang yang duduk bersama mereka, sehingga hadits ini menutup dengan kaidah bahwa teman duduk para pezikir tidak akan celaka, sebuah pelajaran besar tentang pengaruh lingkungan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kaidah ini mengajak kita memilih teman duduk dengan cermat. Seseorang yang setiap hari bergaul dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah akan lebih mudah menjaga salat, lisan, dan pekerjaannya. Sebaliknya, orang yang terus berada di lingkungan yang meremehkan agama akan terseret pelan-pelan tanpa terasa. Orang tua perlu memperhatikan dengan siapa anak-anaknya bergaul, dan kita perlu memperhatikan lingkungan kerja, grup percakapan, dan komunitas yang kita ikuti. Jika lingkungan itu belum baik, kita dapat menjadi orang yang memulai kebiasaan baik di dalamnya.
Faedah 5: Hadir dengan Niat yang Terus Diperbaiki
Hadits ini menyebut seseorang yang datang ke majelis zikir إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ, hanya karena keperluan lain, tetapi ia tetap ikut memperoleh ampunan karena duduk bersama para pezikir. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan besarnya keberkahan majelis. Orang yang niatnya belum sempurna tidak perlu ragu untuk hadir, sebab kehadiran itu bisa menjadi pintu bagi niat yang lebih baik.
Namun, pelajaran ini tidak boleh dijadikan alasan untuk bermudah-mudahan dalam niat. Malaikat sendiri menyebut orang itu sebagai "bukan bagian dari mereka". Ada perbedaan kedudukan antara pezikir sejati dan orang yang sekadar lewat. Karena itu, penerapannya adalah datang ke majelis zikir dan majelis ilmu, lalu berusaha meluruskan niat sejak awal: hadir untuk mengingat Allah, bukan sekadar menemani teman, memenuhi undangan, atau mencari keuntungan duniawi.
Faedah 6: Allah Menampakkan Kemuliaan Hamba di Hadapan Malaikat
Allah bertanya kepada para malaikat وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ, padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka. Menurut Al-'Utsaimin, hikmahnya adalah memperlihatkan keutamaan kaum yang berzikir itu di hadapan makhluk-makhluk langit.[15] Dengan demikian, majelis zikir bukan hanya perkara pribadi antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga peristiwa yang dibicarakan di langit. Para malaikat menjadi saksi atas kesungguhan hamba dan atas kelemahan yang diampuni.
Kesadaran ini mendorong kita untuk tidak meremehkan amal kecil. Satu majelis singkat, satu tasbih di sela pekerjaan, atau satu doa tulus di tengah kesibukan boleh jadi menjadi bahan percakapan yang mulia di langit, meskipun tidak ada seorang pun di bumi yang mengetahuinya.
5. Penutup
Syarah Hadits dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah
Sekilas hadits tentang malaikat pengembara ini tampak jauh dari urusan ekonomi. Namun, bila kita telusuri fondasi perilaku ekonomi yang berintegritas, kita akan menemukan bahwa hadits ini menyentuh akarnya. Hukum-hukum muamalah, seperti kejujuran dalam akad, kewajiban menunaikan amanah, dan larangan menipu, membutuhkan penjaga yang tidak dapat digantikan oleh regulasi semata. Aturan dan pengawasan hanya mampu menjangkau apa yang terlihat, sedangkan kecurangan yang tersembunyi hanya dapat dicegah oleh kesadaran bahwa Allah melihat. Kesadaran itulah yang dilatih oleh majelis zikir.
Hadits ini menempatkan iman kepada yang gaib sebagai sumber kesungguhan. Para pezikir belum melihat Allah, surga, dan neraka, tetapi hati mereka menggerakkan mereka untuk beribadah dan berhati-hati. Dalam dunia usaha, kesadaran serupa, yang dalam istilah para ulama disebut muraqabah, menjadi modal moral yang menahan seorang pedagang dari mengurangi timbangan, seorang akuntan dari memanipulasi laporan, dan seorang pejabat dari menyalahgunakan wewenang. Rasa takut kepada akibat akhir, sebagaimana tergambar dalam doa perlindungan dari neraka, menjadi rem yang bekerja di saat tidak ada seorang pun yang mengawasi.
Al-Qur'an sendiri memuji orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah (QS. An-Nur 24: 37), dan memerintahkan agar setelah menunaikan salat Jumat kita bertebaran mencari karunia Allah seraya banyak berzikir supaya beruntung (QS. Al-Jumu'ah 62: 10). Kedua ayat ini menunjukkan bahwa zikir dan usaha tidak dipertentangkan. Bekerja mencari rezeki halal adalah bagian dari ibadah, sedangkan zikir menjaga agar kerja itu tetap berada di jalur yang benar. Orang yang berzikir tidak akan kehilangan kesempatan mencari rezeki, tetapi rezekinya akan lebih bersih dan lebih berkah.
Prinsip terakhir dari hadits ini, bahwa teman duduk para pezikir tidak akan celaka, memiliki relevansi langsung bagi pilihan mitra dan lingkungan kerja. Dalam kemitraan usaha, pilihan mitra yang jujur dan bertakwa melindungi modal, reputasi, dan ketenangan hati. Sebaliknya, pergaulan yang meremehkan halal dan haram akan menyeret seseorang pada praktik yang merugikan diri dan orang lain. Dengan demikian, hadits ini mengajarkan bahwa fondasi ekonomi syariah bukan hanya perangkat hukum, tetapi juga pembinaan hati dan pemilihan lingkungan yang menjaga hati itu tetap hidup.
Satu penegasan perlu dicatat agar zikir tidak disalahpahami. Ampunan yang dijanjikan kepada para pezikir tidak menghapus hak orang lain. Allah mengancam orang yang berlaku curang dalam takaran (QS. Al-Muthaffifin 83: 1--3):
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Artinya: "Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."
Ayat ini menunjukkan bahwa kecurangan dalam muamalah adalah dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Zikir, majelis, dan ampunan Allah tidak menjadi izin untuk menunda pengembalian hak, melunasi utang, atau memperbaiki akad yang cacat. Kesadaran bahwa Allah melihat justru menuntut kita menyelesaikan hak-hak itu.
6. Tanya Jawab
P: Apakah zikir sendirian di rumah tidak mendapat keutamaan seperti majelis zikir dalam hadits ini?
J: Hadits ini menyoroti keutamaan kebersamaan dalam zikir, yaitu dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, diturunkan ketenangan, dan disebut Allah di hadapan makhluk-Nya. Namun, hal itu tidak berarti zikir sendirian tidak bernilai. Al-Qur'an memerintahkan kita banyak berzikir kepada Allah (QS. Al-Ahzab 33: 41), dan perintah itu berlaku di mana pun kita berada. Sebagaimana ditekankan pada Faedah 1, majelis berfungsi menguatkan dan menjaga kesinambungan, sedangkan zikir pribadi tetap menjadi bekal harian.
Dalil yang menguatkan bahwa zikir pribadi pun bernilai tinggi adalah hadits qudsi berikut, yang menyebut zikir dalam diri dan zikir dalam kumpulan sekaligus:
وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ
"Allah Ta'ala berfirman: Aku bersama hamba-Ku apabila ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku di tengah suatu kumpulan, Aku mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik daripada mereka." (HR. Al-Bukhari 7405 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini menyebut dua keadaan dengan janji yang sama-sama mulia: zikir dalam diri dan zikir di tengah kumpulan. Zikir sendirian tidak tertolak; keutamaan majelis menambah, bukan meniadakan, nilai zikir pribadi.
P: Allah Maha Mengetahui. Mengapa Dia tetap bertanya kepada para malaikat tentang keadaan hamba-hamba-Nya?
J: Hadits sendiri menyisipkan kalimat وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ untuk menegaskan bahwa pertanyaan itu bukan karena Allah tidak tahu. Menurut Al-'Utsaimin, hikmahnya adalah memperlihatkan kemuliaan kaum yang berzikir di hadapan para malaikat, sebagaimana diuraikan pada Perkataan 1 dan Faedah 6. Dengan demikian, dialog itu berfungsi sebagai pemuliaan bagi hamba, bukan sarana Allah memperoleh informasi.
Pola serupa tampak dalam Al-Qur'an ketika Allah bertanya kepada para malaikat tentang nama-nama benda, bukan karena Dia tidak tahu (QS. Al-Baqarah 2: 31):
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, lalu Dia berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama (benda) itu jika kamu memang benar."
Pertanyaan Allah dalam ayat ini bukan untuk memperoleh informasi, melainkan untuk memperlihatkan keutamaan ilmu yang Dia anugerahkan kepada Adam di hadapan para malaikat. Hal ini dapat dipahami sejalan dengan pertanyaan Allah dalam hadits tentang majelis zikir, yang memperlihatkan keutamaan para pezikir di hadapan para malaikat.
P: Jika orang yang datang hanya karena suatu keperluan tetap diampuni, apakah niat tidak lagi penting?
J: Niat tetap penting. Hadits menyebut orang itu sebagai orang yang "bukan bagian dari mereka", sehingga ada perbedaan kedudukan antara pezikir sejati dan orang yang sekadar datang. Bahwa ia tetap tidak celaka menunjukkan luasnya rahmat Allah dan besarnya keberkahan majelis, tetapi itu bukan izin untuk bermudah-mudahan. Sebagaimana pada Faedah 5, kehadiran yang belum sempurna niatnya dapat menjadi pintu perbaikan niat, dan tugas kita adalah meluruskannya sejak awal.
Pentingnya niat ditegaskan dalam hadits berikut, yang menjadi kaidah dalam menilai setiap amal:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan." (HR. Al-Bukhari 1 dari 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini menjelaskan mengapa orang yang datang bukan untuk berzikir tetap dibedakan kedudukannya dari pezikir sejati. Rahmat Allah luas, tetapi kaidah niat tetap berlaku, sehingga kita berusaha menghadirkan niat zikir sejak awal.
P: Apakah ampunan yang dipersaksikan Allah menghapus semua dosa, termasuk utang dan hak orang lain?
J: Tidak dapat disimpulkan demikian. Ampunan itu berada dalam kehendak dan rahmat Allah, tidak menggantikan tobat, dan tidak menggugurkan kewajiban mengembalikan hak sesama manusia. Allah mengancam orang yang curang dalam takaran (QS. Al-Muthaffifin 83: 1--3), sebagaimana dicatat pada bagian Penutup. Karena itu, seseorang yang menghadiri majelis zikir tetap wajib melunasi utang, memperbaiki akad yang cacat, dan meminta maaf kepada orang yang ia zalimi.
Dalil yang menegaskan bahwa hak sesama manusia tetap harus ditunaikan, bahkan bagi orang yang dosa-dosanya diampuni karena mati syahid, adalah sabda Nabi ﷺ berikut:
يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ
"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali utang." (HR. Muslim 1886 dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhu)
Jika kemuliaan syahid saja tidak menggugurkan utang, maka majelis zikir dan ampunan yang dipersaksikan Allah pun tidak dapat dipahami sebagai penghapus hak sesama manusia. Utang dan hak orang lain tetap harus diselesaikan.
P: Apakah hadits ini menetapkan bentuk zikir tertentu, misalnya dengan suara keras, dipimpin bersama, atau hanya di majelis ilmu?
J: Naskah ini tidak menetapkan hukum bentuk teknis tertentu. Yang disebut hadits ialah isi zikir para hamba: tasbih, takbir, tahmid, tamjid, permohonan surga, dan perlindungan dari neraka (lihat Faedah 3). Adapun tata cara, seperti volume suara atau dipimpin bersama, merupakan pembahasan tersendiri yang ulama mungkin berbeda dalam menilainya. Sikap yang aman ialah mengikuti tuntunan yang jelas dari dalil, tidak mengklaim bentuk tertentu sebagai satu-satunya yang dimaksud hadits ini, dan bertanya kepada ulama yang terpercaya di lingkungan kita bila ragu.
Al-Qur'an menggambarkan para pezikir sebagai orang yang mengingat Allah dalam berbagai keadaan, tanpa menetapkan satu bentuk teknis tertentu (QS. Ali 'Imran 3: 191):
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring."
Ayat ini menunjukkan bahwa zikir mencakup seluruh keadaan hamba. Ia menguatkan pesan jawaban di atas: inti yang dituntut adalah mengingat Allah dengan sungguh-sungguh, sedangkan bentuk teknis yang diperselisihkan sebaiknya dikembalikan kepada bimbingan ulama.
7. Daftar Pustaka (Maraji')
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Shahih al-Bukhari. Tahqiq Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir. Cet. 1. Beirut: Dar Thuq an-Najah, 1422 H.
Ibnu Hajar al-'Asqalani, Ahmad bin 'Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Kairo: Al-Maktabah as-Salafiyyah, 1380--1390 H.
Ibnu Katsir, Isma'il bin 'Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah. Cet. 2. Riyadh: Dar Thayyibah, 1420 H/1999 M.
Islam Q&A. "Fatwa no. 125885." https://islamqa.info/ar/answers/125885.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi. Kairo: 'Isa al-Babi al-Halabi, 1374 H/1955 M.
An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Cet. 2. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1392 H.
Al-'Utsaimin, Muhammad bin Shalih. Syarh Riyadh ash-Shalihin. Riyadh: Dar al-Wathan li an-Nasyr, 1426 H.
1 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, ed. ke-2 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), pada penafsiran QS. Al-Kahfi 18: 28. ↩
2 An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, ed. ke-2 (Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1392 H), jil. 17, hlm. 14--15, syarah hadits no. 2689. ↩
3 Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari (Kairo: Al-Maktabah as-Salafiyyah, 1380--1390 H), sebagaimana dikutip dalam Islam Q&A, "Fatwa no. 125885," https://islamqa.info/ar/answers/125885. ↩
4 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Fathir 35: 1. ↩
5 Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, Syarh Riyadh ash-Shalihin (Riyadh: Dar al-Wathan li an-Nasyr, 1426 H), syarah hadits no. 1447, pada penjelasan kata "yahuffunahum" dan seruan "halummu". ↩
6 Al-'Utsaimin, Syarh Riyadh ash-Shalihin, syarah hadits no. 1447, pada penjelasan pertanyaan Allah kepada para malaikat. ↩
7 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Al-Ahzab 33: 41. ↩
8 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Al-Mulk 67: 12. ↩
9 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Ali 'Imran 3: 133. ↩
10 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Ali 'Imran 3: 191. ↩
11 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Al-Ahzab 33: 35. ↩
12 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. At-Taubah 9: 119. ↩
13 Al-'Utsaimin, Syarh Riyadh ash-Shalihin, syarah hadits no. 1447, pada penjelasan sabda "hum al-julasa' la yasyqa bihim jalisuhum". ↩
14 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, pada penafsiran QS. Ar-Ra'd 13: 28. ↩
15 Al-'Utsaimin, Syarh Riyadh ash-Shalihin, syarah hadits no. 1447, pada penjelasan hikmah pertanyaan Allah kepada para malaikat. ↩