Hadits Asal Penciptaan Malaikat

1. Pembukaan

Pembicaraan tentang alam gaib hari ini ramai sekali, tetapi arahnya sering keliru. Film dan konten horor laris manis, kisah penampakan jin menjadi tontonan harian di media sosial, dan tidak sedikit orang yang menjadikan urusan gaib sebagai lahan usaha: jasa “penarikan khodam”, penjualan jimat pelaris dagangan, hingga praktik perdukunan yang dibungkus istilah spiritual. Di sisi lain, ada pula sebagian orang yang terpengaruh cara pandang materialis, lalu menganggap malaikat dan jin sekadar mitos yang tidak masuk akal. Dua sikap ini sama-sama menjauhkan seorang muslim dari akidah yang lurus: yang satu berlebihan dan mengarang-ngarang, yang lain menolak dan meremehkan. Keduanya juga melahirkan masalah akhlak, seperti rasa takut kepada selain Allah, kesombongan karena merasa lebih unggul dari orang lain, dan hilangnya kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia tercatat.

Hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berikut ini hadir sebagai penawar yang jernih. Dengan kalimat yang sangat ringkas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan asal penciptaan tiga makhluk berakal: malaikat, jin, dan manusia. Hadits ini meletakkan batas yang tegas antara yang wajib diyakini dan yang tidak perlu dikhayalkan, serta mengajarkan bahwa pengetahuan tentang alam gaib hanya diambil dari wahyu. Karena itu, hadits ini penting dipelajari agar keimanan kepada malaikat tertanam dengan benar, kewaspadaan terhadap jin tidak berubah menjadi ketakutan atau pemujaan, dan manusia menyadari asal-usulnya sehingga tumbuh sikap rendah hati dalam seluruh urusan hidup, termasuk urusan harta dan muamalah.

2. Matan Hadits

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian.”

HR. Muslim (2996), Ahmad (25194), Ibnu Hibban (6155), dan ‘Abdurrazzaq (20904).

3. Syarah per Perkataan

Perkataan 1: Malaikat Diciptakan dari Cahaya

a. Teks dan makna

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ

“Malaikat diciptakan dari cahaya.”

b. Penjelasan makna per kata

Khuliqat (خُلِقَتْ) adalah kata kerja lampau dalam bentuk pasif yang berarti “telah diciptakan”. Bentuk pasif ini tidak menyebut pelakunya karena pelakunya sudah pasti dan tidak mungkin ada yang lain, yaitu Allah Ta‘ala. Kata ini sekaligus menegaskan bahwa malaikat adalah makhluk, bukan tuhan, bukan anak Tuhan, dan bukan bagian dari zat-Nya. Mereka ada karena diciptakan dan tunduk sepenuhnya kepada Penciptanya.

Al-mala’ikah (الْمَلَائِكَةُ) adalah bentuk jamak dari malak. Para ahli bahasa mengaitkannya dengan kata alukah yang berarti risalah atau tugas perutusan, karena malaikat adalah utusan-utusan Allah yang menjalankan perintah-Nya di langit dan di bumi. Penggunaan bentuk jamak dengan alif lam menunjukkan seluruh jenis malaikat tanpa kecuali, dari Jibril yang membawa wahyu hingga malaikat yang bertugas mencatat amal manusia.

Min nur (مِنْ نُورٍ) berarti “dari cahaya”. Huruf min di sini menunjukkan asal bahan penciptaan. Hadits ini hanya menyebut bahannya, yaitu cahaya, tanpa menjelaskan hakikat, sifat, maupun cara penciptaannya. Dalam perkara gaib seperti ini, kaidah yang dipegang para ulama akidah adalah menetapkan apa yang dikabarkan dalil dan tidak membahas bagaimana rinciannya selama dalil tidak menjelaskannya. Karena itu, seorang mukmin cukup mengimani bahwa malaikat diciptakan dari cahaya sebagaimana dikabarkan, tanpa membayangkan bentuk cahaya tersebut atau menyamakannya dengan cahaya lampu dan matahari yang dikenal manusia. Walaupun demikian, asal penciptaan dari cahaya ini selaras dengan sifat-sifat malaikat yang ditetapkan Al-Qur’an: suci, taat, dan tidak mendurhakai perintah Allah (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah berikut:

c. Dalil Al-Quran Penguat

Allah berfirman (QS. Fathir [35]: 1):

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ جَاعِلِ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ يَزِيدُ فِي ٱلْخَلْقِ مَا يَشَآءُ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ja‘il al-mala’ikati rusulan adalah Allah menjadikan malaikat sebagai perantara antara Dia dan para nabi-Nya. Adapun sayap-sayap itu, kata beliau, dipakai malaikat untuk terbang agar dapat menyampaikan perintah yang diamanahkan dengan cepat:

أُولِي أَجْنِحَةٍ أَيْ: يَطِيرُونَ بِهَا لِيُبَلِّغُوا مَا أُمِرُوا بِهِ سَرِيعًا

“Yang mempunyai sayap, yakni mereka terbang dengannya agar dapat menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka dengan cepat.”[1]

Beliau juga menyebutkan bahwa di antara malaikat ada yang bersayap lebih dari empat, sebagaimana Jibril yang dilihat Rasulullah pada malam Isra memiliki enam ratus sayap, lalu menutup penjelasannya dengan firman Allah yazidu fil khalqi ma yasya’.[2] Ayat ini menguatkan Perkataan 1 dari dua sisi. Pertama, ia menegaskan bahwa malaikat adalah ciptaan (Allah yang “menjadikan” mereka), sejalan dengan kata khuliqat dalam hadits. Kedua, ia menunjukkan bahwa ciptaan yang berasal dari cahaya ini memiliki bentuk dan kemampuan luar biasa yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia, sehingga sikap yang benar adalah mengimaninya sebatas yang dikabarkan wahyu.

Sebagai gambaran konkret dari kandungan ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan apa yang beliau saksikan di langit ketujuh pada malam Mikraj:

d. Dalil Hadits Penguat

فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ

“Tiba-tiba aku bertemu Ibrahim yang sedang menyandarkan punggungnya ke Baitulmakmur. Ternyata setiap hari tujuh puluh ribu malaikat memasukinya dan mereka tidak kembali lagi ke sana.” (HR. Muslim no. 162 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini memberi gambaran nyata tentang banyaknya malaikat dan kesibukan mereka dalam ibadah. Jika setiap hari tujuh puluh ribu malaikat memasuki satu rumah ibadah di langit dan tidak pernah mendapat giliran kedua, maka jumlah mereka hanya diketahui oleh Allah. Gambaran ini menguatkan makna al-mala’ikah dalam hadits utama yang mencakup seluruh jenis malaikat, sekaligus menunjukkan bahwa makhluk yang diciptakan dari cahaya itu hidup dalam ketaatan yang terus-menerus.

Dari keterpaduan ayat dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa...

e. Pelajaran dari Perkataan 1

...malaikat adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah dari cahaya, sangat banyak jumlahnya dan senantiasa taat, sehingga wajib diimani sebatas yang dikabarkan wahyu tanpa ditambah-tambahi khayalan.

Perkataan 2: Jin Diciptakan dari Nyala Api

a. Teks dan makna

وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan jin diciptakan dari nyala api.”

b. Penjelasan makna per kata

Wa khuliqa (وَخُلِقَ) adalah huruf sambung wa ditambah kata kerja pasif “telah diciptakan”. Pengulangan kata yang sama dengan Perkataan 1 menunjukkan bahwa jin juga makhluk, bukan kekuatan yang berdiri sendiri. Sehebat apa pun kemampuan jin yang diceritakan orang, ia tetap ciptaan Allah yang tidak dapat memberi manfaat atau mudarat kecuali dengan izin-Nya.

Al-jann (الْجَانُّ) berasal dari akar kata janana yang bermakna tertutup atau tersembunyi. Dari akar yang sama lahir kata janin (bayi yang tersembunyi di perut ibunya) dan junnah (perisai yang menutupi tubuh). Jin dinamai demikian karena keberadaannya tersembunyi dari pandangan manusia. Imam al-Qurthubi menukil pendapat al-Hasan al-Bashri bahwa al-jann adalah Iblis, bapak para jin, lalu menyebut pendapat lain bahwa al-jann adalah bentuk tunggal yang mewakili jenis jin secara umum.[3] Makna kedua lebih sesuai dengan susunan hadits ini, karena kalimatnya menyebut jenis makhluk secara berurutan: malaikat, jin, lalu Adam sebagai asal manusia.

Min marij (مِنْ مَارِجٍ) berarti “dari nyala”. Kata marij berasal dari maraja yang bermakna bercampur dan bergejolak; dari situ lahir makna lidah api yang menjulang dan bergerak-gerak di ujung kobaran. Min nar (مِنْ نَارٍ) lalu menjelaskan bahwa nyala itu adalah nyala api. Susunan dua kata ini memberi gambaran bahan yang ringan, panas, dan tidak tenang, sangat berbeda dengan cahaya yang menjadi asal malaikat maupun tanah yang menjadi asal manusia.

Dari pemaknaan per kata ini, dapat ditelusuri akarnya pada firman Allah berikut:

c. Dalil Al-Quran Penguat

Allah berfirman (QS. Ar-Rahman [55]: 15):

وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.”

Imam Ibnu Katsir menukil penafsiran Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa marij adalah ujung nyala api, dan dalam riwayat lain dari beliau, api yang murni:

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ: مِنْ خَالِصِ النَّارِ

“‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya ‘min marijin min nar’: yaitu dari api yang murni.”[4]

Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa penafsiran “ujung nyala api” dipegang oleh ‘Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, dan Ibnu Zaid, lalu beliau menutup tafsir ayat ini dengan membawakan hadits ‘Aisyah yang sedang kita kaji.[5] Imam al-Qurthubi menambahkan penjelasan al-Laits bahwa marij adalah kobaran api yang menjulang dengan nyala yang sangat kuat.[6] Ayat ini menjadi penjelas langsung bagi Perkataan 2, karena lafaz min marijin min nar dalam hadits sama persis dengan lafaz Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menambah keterangan dari dirinya sendiri, tetapi menegaskan apa yang telah diwahyukan. Di ayat lain Allah juga menyebut bahwa jin diciptakan sebelum Adam dari api yang sangat panas (QS. Al-Hijr [15]: 27).

Kandungan ayat ini semakin nyata kedudukannya ketika disandingkan dengan hadits berikut:

d. Dalil Hadits Penguat

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ. قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Tidak seorang pun di antara kalian melainkan telah ditugaskan kepadanya seorang pendamping (qarin) dari kalangan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, hanya saja Allah menolongku atasnya sehingga ia tunduk (masuk Islam), maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2814 dari ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa lafaz fa aslama diriwayatkan dengan dua bacaan yang sama-sama masyhur. Dengan bacaan fa aslamu (dhammah pada huruf mim) maknanya “maka aku selamat dari kejahatan dan godaannya”, sedangkan dengan bacaan fa aslama (fathah pada huruf mim) maknanya “maka qarin itu masuk Islam dan menjadi mukmin”. Beliau menukil bahwa al-Khaththabi menguatkan bacaan pertama, sementara al-Qadhi ‘Iyadh menguatkan bacaan kedua dengan alasan sabda beliau “ia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan”.[7] Hadits ini memperlihatkan bahwa makhluk yang diciptakan dari nyala api itu bukan sekadar cerita, tetapi hadir dan menyertai setiap manusia dengan bisikan-bisikannya. Hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa jin tidak semuanya jahat: qarin Nabi sendiri, menurut salah satu bacaan, telah tunduk dan hanya menyuruh kepada kebaikan. Al-Qur’an pun mengabadikan pengakuan jin sendiri:

وَأَنَّا مِنَّا ٱلصَّـٰلِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا

Artinya: “Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jinn [72]: 11). Karena itu, yang tepat bukan menggeneralisasi seluruh jin sebagai jahat, melainkan menyadari bahwa di antara mereka ada setan yang aktif menggoda manusia, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.

Bertolak dari dalil Al-Qur’an dan hadits yang telah dipaparkan, tergambar jelas bahwa...

e. Pelajaran dari Perkataan 2

...jin adalah makhluk Allah yang diciptakan dari nyala api, tersembunyi dari pandangan tetapi nyata keberadaannya dan menyertai setiap manusia, sehingga harus diwaspadai tanpa ditakuti secara berlebihan apalagi dipuja.

Perkataan 3: Adam Diciptakan dari Apa yang Telah Diterangkan

a. Teks dan makna

وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian.”

b. Penjelasan makna per kata

Adam (آدَمُ) adalah nama manusia pertama dan bapak seluruh umat manusia. Penyebutan nama Adam, bukan kata al-insan (manusia), mengisyaratkan bahwa yang dibicarakan adalah penciptaan langsung manusia pertama, sedangkan keturunannya diciptakan melalui proses berketurunan sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat lain.

Mimma (مِمَّا) adalah gabungan min dan ma, yang berarti “dari sesuatu yang”. Kata ini tetap menunjukkan asal bahan penciptaan, sama seperti min pada dua perkataan sebelumnya, hanya saja bahan itu tidak disebutkan namanya secara langsung.

Wushifa lakum (وُصِفَ لَكُمْ) berarti “telah diterangkan kepada kalian”. Bentuk pasif ini merujuk kepada keterangan yang sudah diketahui para sahabat dari Al-Qur’an, yaitu bahwa Adam diciptakan dari tanah dengan berbagai tahapannya: turab (debu tanah), thin (tanah liat), hama’ masnun (lumpur hitam yang diberi bentuk), hingga shalshal (tanah kering yang berbunyi seperti tembikar). Dengan ungkapan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan satu adab penting: ketika penjelasan wahyu sudah cukup, seorang mukmin kembali kepada penjelasan itu dan tidak perlu mencari-cari keterangan lain di luar wahyu.

Uraian makna per kata di atas sejalan dengan apa yang difirmankan Allah:

c. Dalil Al-Quran Penguat

Allah berfirman (QS. Ar-Rahman [55]: 14):

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِن صَلْصَٰلٍ كَٱلْفَخَّارِ

Artinya: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.”

Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa para ahli tafsir sepakat yang dimaksud al-insan dalam ayat ini adalah Adam. Beliau lalu menjelaskan bahwa ungkapan Al-Qur’an yang beragam tentang bahan penciptaan Adam memiliki makna yang saling bersesuaian, karena semuanya menggambarkan tahapan yang berurutan:

أَخَذَ مِنْ تُرَابِ الْأَرْضِ فَعَجَنَهُ فَصَارَ طِينًا، ثُمَّ انْتَقَلَ فَصَارَ كَالْحَمَإِ الْمَسْنُونِ، ثُمَّ انْتَقَلَ فَصَارَ صَلْصَالًا كَالْفَخَّارِ

“Dia mengambil dari debu tanah bumi lalu mengadonnya sehingga menjadi tanah liat, kemudian berubah menjadi seperti lumpur hitam yang diberi bentuk, kemudian berubah lagi menjadi tanah kering seperti tembikar.”[8]

Inilah yang dimaksud dengan mimma wushifa lakum: keterangan tentang bahan penciptaan Adam sudah terang dalam Al-Qur’an, baik dalam ayat ini maupun dalam QS. Al-Hijr [15]: 26 dan QS. Shad [38]: 71. Ayat ini juga memperlihatkan hikmah penyebutan ketiga makhluk secara berurutan dalam surah yang sama: manusia dari tanah pada ayat 14, dan jin dari nyala api pada ayat 15.

Makna asal penciptaan manusia dari tanah dalam ayat di atas kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui haditsnya:

d. Dalil Hadits Penguat

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ، جَاءَ مِنْهُمُ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ، وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ، وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Dia ambil dari seluruh penjuru bumi. Maka anak cucu Adam datang sesuai dengan keadaan bumi itu: di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara itu; ada yang lembut dan ada yang keras; ada yang buruk dan ada yang baik.” (HR. Abu Dawud no. 4693 dan at-Tirmidzi no. 2955 dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu; at-Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih)

Hadits ini merinci apa yang dalam hadits utama cukup disebut mimma wushifa lakum. Tanah yang menjadi bahan Adam bukan tanah dari satu tempat, tetapi dihimpun dari seluruh bumi. Karena itu keragaman warna kulit, watak, dan akhlak anak cucu Adam merupakan sunatullah yang berakar pada asal penciptaan mereka, bukan dasar untuk saling merendahkan. Tanah yang subur dan tanah yang tandus sama-sama tanah; yang membedakan adalah apa yang tumbuh di atasnya.

Merangkai kedua dalil di atas, pelajaran yang dapat dipetik adalah...

e. Pelajaran dari Perkataan 3

...manusia berasal dari tanah sebagaimana diterangkan wahyu, sehingga ia sepatutnya rendah hati, menerima keragaman sesama anak Adam, dan mencukupkan diri dengan keterangan wahyu dalam perkara gaib.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Iman kepada Malaikat dan Adab terhadap Berita Gaib

Pelajaran pertama dan paling mendasar dari hadits ini adalah kewajiban beriman kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman. Ketika Jibril bertanya tentang iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab bahwa iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir (HR. Muslim no. 8). Hadits ‘Aisyah menambah keterangan tentang asal penciptaan malaikat, sehingga iman kepada mereka tidak lagi abstrak. Kita meyakini bahwa mereka nyata, diciptakan dari cahaya, sangat banyak jumlahnya, dan menjalankan tugas masing-masing. Hadits Jibril itu sendiri juga menunjukkan bahwa malaikat dapat menampakkan diri dalam rupa manusia atas izin Allah: Jibril datang sebagai laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, dan para sahabat baru mengetahui bahwa ia Jibril setelah Rasulullah memberitahukannya. Artinya, pengetahuan bahwa sesuatu adalah malaikat hanya dapat dipastikan melalui wahyu, bukan melalui pengakuan seseorang yang merasa telah “melihat” malaikat.

Bersamaan dengan itu, hadits ini mengajarkan adab dalam menerima berita gaib. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut asal Adam dengan ungkapan (dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian), yaitu sabda beliau وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. Ungkapan ini mengembalikan pendengar kepada penjelasan wahyu. Adab ini sangat dibutuhkan hari ini ketika banyak orang mengaku mengetahui rincian alam gaib: ada yang mengaku bisa melihat malaikat, ada yang menggambarkan wujud jin secara detail, ada pula yang memperjualbelikan “ilmu” untuk berkomunikasi dengan makhluk halus. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sederhana: saring setiap konten tentang alam gaib, tanyakan dalilnya, dan cukupkan diri dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits yang sahih. Seorang ayah yang ditanya anaknya tentang malaikat dapat menjawab dengan keterangan hadits ini tanpa perlu menambah cerita-cerita yang tidak jelas sumbernya. Sikap inilah yang menjawab dua penyimpangan yang disebut di Pembukaan: berlebihan dalam mengarang dan meremehkan dengan menolak.

Faedah 2: Meneladani Ketaatan Malaikat dan Menyadari Pengawasan Mereka

Malaikat yang diciptakan dari cahaya hidup dalam ketaatan yang tidak pernah putus. Allah menyifati mereka sebagai hamba-hamba yang tidak mendurhakai perintah-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At-Tahrim [66]: 6). Gambaran tujuh puluh ribu malaikat yang memasuki Baitulmakmur setiap hari menunjukkan betapa luasnya ibadah di alam semesta. Manusia yang tidak diciptakan dari cahaya tetap dapat meneladani mereka dalam ketaatan, kesegeraan menjalankan perintah, dan kesungguhan dalam ibadah.

Iman kepada malaikat juga menumbuhkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa diri selalu diawasi. Allah menegaskan bahwa ada malaikat-malaikat mulia yang mencatat dan mengetahui apa yang dikerjakan manusia (QS. Al-Infithar [82]: 10–12). Penerapannya dapat dilihat dalam keseharian: seorang pegawai yang sendirian di kantor tetap jujur mengisi daftar hadir, seorang pedagang tetap menakar dengan benar meski pembelinya tidak memperhatikan, dan seorang pengguna media sosial menahan jarinya dari menulis fitnah karena sadar setiap kata tercatat. Kesadaran seperti ini jauh lebih kuat daripada kamera pengawas, karena ia bekerja dari dalam hati.

Faedah 3: Waspada terhadap Tipu Daya Jin tanpa Takut Berlebihan

Pelajaran ketiga berakar dari penjelasan tentang jin dalam hadits ini, yakni sabda beliau وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ (dan jin diciptakan dari nyala api). Jin itu nyata, dan hadits tentang qarin menegaskan bahwa setiap manusia disertai pendamping dari kalangan jin. Maka seorang mukmin wajib waspada terhadap bisikan buruk, terutama saat marah, saat melihat peluang berbuat curang, atau saat tergoda harta haram. Namun, kewaspadaan ini tidak boleh berubah menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Jin hanyalah makhluk; ia tidak dapat mencelakakan kecuali dengan izin Allah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari adalah membentengi diri dengan cara yang diajarkan syariat: menjaga salat, membaca zikir pagi dan petang, membaca ayat kursi, dan memohon perlindungan kepada Allah. Sebaliknya, tidak dibenarkan mencari perlindungan dengan jimat, rajah, atau “khodam”, apalagi mendatangi dukun untuk urusan rezeki, jodoh, atau usaha. Seorang pemilik toko yang dagangannya sedang sepi, misalnya, lebih layak memperbaiki pelayanan, kejujuran, dan doanya daripada membeli “penglaris” dari orang yang mengaku dapat memerintah jin. Inilah jawaban hadits ini bagi fenomena komersialisasi hal gaib yang disebut di Pembukaan.

Faedah 4: Rendah Hati karena Asal-Usul dari Tanah dan Menghargai Keragaman

Manusia diciptakan dari tanah, bahan yang diinjak dan dianggap rendah. Kesadaran ini sepatutnya melahirkan sikap tawaduk. Kemuliaan manusia tidak terletak pada bahan penciptaannya, tetapi pada kemuliaan yang Allah berikan dan pada ketakwaannya. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Hadits tentang segenggam tanah dari seluruh bumi memperlihatkan bahwa perbedaan warna kulit, suku, dan watak adalah bagian dari rencana penciptaan, bukan alasan untuk menilai satu kelompok lebih unggul dari yang lain. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari antara lain tidak memandang rendah pekerja kasar, tidak membeda-bedakan pelayanan berdasarkan penampilan atau suku, dan tidak menjadikan gelar, jabatan, atau kekayaan sebagai alasan untuk meremehkan orang lain. Seorang pemimpin lembaga yang menyadari bahwa dirinya dan petugas kebersihan di kantornya sama-sama berasal dari tanah akan lebih mudah bersikap adil dan menghargai.

Faedah 5: Iblis dari Golongan Jin, Bukan dari Malaikat

Salah satu kata dalam hadits ini, الْجَانُّ (jin), membawa faedah akidah yang penting: Iblis adalah dari golongan jin, bukan malaikat. Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّـٰلِمِينَ بَدَلًا

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi [18]: 50)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa asal penciptaan Iblis yang berbeda itulah yang “mengkhianatinya” ketika datang ujian. Ia diciptakan dari nyala api, sedangkan malaikat dari cahaya, sebagaimana ditegaskan hadits ‘Aisyah. Iblis sebelumnya meniru perbuatan malaikat dan ikut beribadah sehingga ia termasuk dalam perintah yang ditujukan kepada mereka, tetapi akhirnya ia membangkang. Beliau juga menukil perkataan al-Hasan al-Bashri bahwa Iblis tidak pernah menjadi bagian dari malaikat walau sekejap mata, dan bahwa Iblis adalah asal para jin sebagaimana Adam adalah asal manusia.[9] Perlu diakui bahwa masalah ini diperselisihkan sejak generasi salaf. Ibnu Katsir juga membawakan sejumlah riwayat dari Ibnu ‘Abbas dan lainnya yang menyebut Iblis berasal dari suatu golongan malaikat yang dinamai al-jinn. Namun, beliau sendiri menilai bahwa kebanyakan riwayat semacam itu bersumber dari Israiliyat yang dinukil untuk diteliti, sebagian bahkan dapat dipastikan dusta, dan bahwa Al-Qur’an sudah mencukupi dari berita-berita tersebut.[10] Pendapat bahwa Iblis dari golongan jin lebih kuat karena tiga alasan: ayat di atas menyatakannya secara tegas, hadits ‘Aisyah membedakan bahan penciptaan malaikat (cahaya) dari jin (nyala api) sementara Iblis sendiri mengaku diciptakan dari api (QS. Al-A‘raf [7]: 12), dan Al-Qur’an menyifati malaikat sebagai makhluk yang tidak mendurhakai perintah Allah (QS. At-Tahrim [66]: 6). Faedah ini meluruskan anggapan keliru bahwa Iblis adalah “malaikat yang jatuh”. Malaikat tidak bermaksiat, sedangkan jin memiliki pilihan untuk taat atau durhaka. Penerapannya: seorang mukmin tidak menisbatkan kejahatan kepada malaikat dan tidak menganggap setan memiliki kedudukan setara dengan makhluk suci, serta menyadari bahwa amal ibadah yang tidak dilandasi ketundukan hati dapat runtuh ketika diuji.

Faedah 6: Bahaya Menolak Perintah dengan Logika Asal-Usul

Hadits ini juga mengingatkan kita pada kekeliruan pertama yang dilakukan makhluk dalam menilai kemuliaan. Ketika diperintah sujud kepada Adam, Iblis berkata:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Artinya: “(Allah) berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?’ (Iblis) menjawab, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (QS. Al-A‘raf [7]: 12)

Imam Ibnu Katsir menyebut alasan Iblis ini sebagai uzur yang lebih besar dosanya daripada perbuatannya. Iblis hanya melihat asal bahan penciptaan dan mengabaikan kemuliaan besar yang Allah berikan kepada Adam, yaitu diciptakan dengan tangan-Nya dan ditiupkan ruh ke dalamnya. Ia melakukan kias yang rusak untuk melawan perintah yang tegas.[11] Hadits ‘Aisyah menyebut api dan tanah secara berdampingan, dan dari situ kita memahami bahwa perbedaan asal-usul tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak kebenaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (HR. Muslim no. 91), dan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi hati dan amal (HR. Muslim no. 2564). Penerapannya: jangan menolak nasihat karena yang menyampaikan lebih muda, lebih miskin, atau berbeda latar belakang; dan jangan mencari-cari alasan logika untuk menghindari aturan syariat yang sudah jelas, misalnya menolak larangan riba dengan dalih “zaman sudah berubah”.

5. Penutup

Syarah Hadits dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Sekilas hadits ini tampak murni membahas akidah, jauh dari urusan pasar dan harta. Namun, akidah adalah fondasi dari seluruh perilaku ekonomi seorang muslim. Cara seseorang memandang alam gaib, dirinya sendiri, dan sesama manusia akan menentukan cara ia bekerja, berdagang, menyimpan catatan, dan membagi kekayaan. Karena itu, hadits tentang asal penciptaan malaikat, jin, dan manusia ini dapat dibaca sebagai bingkai spiritual yang menopang etika muamalah.

Pertama, iman kepada malaikat pencatat amal adalah dasar integritas pencatatan dalam muamalah. Allah berfirman bahwa tidak ada satu kata pun yang diucapkan manusia melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat (QS. Qaf [50]: 18). Imam Ibnu Katsir menafsirkan kedekatan yang disebut dalam rangkaian ayat tersebut sebagai kedekatan para malaikat yang Allah tugaskan menyertai manusia.[12] Orang yang yakin bahwa setiap ucapannya dicatat akan berhati-hati ketika membuat akad, menyebut harga, menjelaskan cacat barang, dan menyusun laporan keuangan. Perintah Al-Qur’an untuk mencatat utang-piutang (QS. Al-Baqarah [2]: 282) memperoleh kekuatan batinnya dari kesadaran ini: catatan di dunia bisa dimanipulasi, tetapi catatan malaikat tidak. Di sinilah akuntansi syariah menemukan ruhnya, yaitu kejujuran pencatatan yang lahir dari muraqabah, bukan semata kepatuhan pada standar.

Kedua, pemahaman yang benar tentang jin menutup pintu transaksi yang dilarang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang upah perdukunan (hulwan al-kahin) sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari (no. 2237) dan Muslim (no. 1567). Jual beli jimat pelaris, jasa “penarikan khodam”, atau biaya ritual untuk melancarkan usaha termasuk harta yang diperoleh dengan cara batil, karena objeknya mengandung kesyirikan, penipuan, dan gharar yang nyata. Larangan ini sekaligus menjaga dua tujuan syariat: menjaga agama (hifzh ad-din) dari kesyirikan, dan menjaga harta (hifzh al-mal) dari berpindah tangan tanpa imbalan yang sah. Orang yang mengimani hadits ini akan mencari keberkahan usaha dari sebab-sebab yang disyariatkan, bukan dari makhluk yang diciptakan dari nyala api.

Ketiga, kesadaran bahwa manusia diciptakan dari tanah mengingatkan kedudukannya sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Tanah yang menjadi asal-usulnya juga menjadi sumber rezekinya. Karena itu, pengelolaan sumber daya alam, lahan pertanian, dan kekayaan bumi adalah amanah, bukan milik mutlak yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Prinsip ini sejalan dengan tujuan syariat menjaga harta (hifzh al-mal) dan menjaga jiwa (hifzh an-nafs), karena kerusakan bumi pada akhirnya merugikan kehidupan manusia sendiri.

Keempat, pelajaran tentang kesombongan Iblis yang bertumpu pada asal-usul menolak segala bentuk diskriminasi dalam muamalah. Pelayanan keuangan, kesempatan kerja, dan akses terhadap pembiayaan tidak boleh dibedakan berdasarkan suku, warna kulit, atau status sosial, tetapi berdasarkan kelayakan dan amanah. Hadits yang menyebut Allah tidak melihat rupa dan harta mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah hati dan amal, dan ukuran ini semestinya juga mewarnai cara kita memperlakukan rekan bisnis, karyawan, dan nasabah.

Dengan demikian, hadits yang ringkas ini membangun tiga kesadaran sekaligus: kesadaran diawasi oleh malaikat, kewaspadaan terhadap godaan jin, dan kerendahan hati sebagai makhluk dari tanah. Ketiganya adalah modal spiritual bagi pelaku ekonomi yang jujur, bersih dari praktik batil, dan adil kepada sesama. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman kepada yang gaib dan istikamah dalam ketaatan.

6. Catatan Akhir dan Daftar Pustaka (Maraji’)

Catatan Akhir

Catatan akhir tercantum secara otomatis pada akhir dokumen ini (endnote), sesuai urutan kemunculan pertama rujukan dalam teks.

Daftar Pustaka (Maraji’)

Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats as-Sijistani. Sunan Abi Dawud. Tahkik Muhammad Muhyiddin ‘Abd al-Hamid. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah, tahun terbit tidak dapat diverifikasi.

‘Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan‘ani. Al-Mushannaf. Tahkik Habib ar-Rahman al-A‘zhami. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1403 H.

Ahmad bin Hanbal. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Tahkik Syu‘aib al-Arna’uth dkk. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1421 H/2001 M.

Bukhari, Muhammad bin Isma‘il al-. Al-Jami‘ al-Musnad ash-Shahih (Shahih al-Bukhari). Tahkik Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir. Beirut: Dar Thauq an-Najah, 1422 H.

Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban al-Busti. Shahih Ibni Hibban bi Tartib Ibni Balban. Tahkik Syu‘aib al-Arna’uth. Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1408 H/1988 M.

Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Tahkik Sami bin Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Thaybah, 1420 H/1999 M.

Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi. Al-Musnad ash-Shahih (Shahih Muslim). Tahkik Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, tahun terbit tidak dapat diverifikasi.

Nawawi, Yahya bin Syaraf an-. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1392 H.

Qurthubi, Muhammad bin Ahmad al-. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Tahkik Ahmad al-Bardawni dan Ibrahim Athfaisy. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1384 H/1964 M.

Tirmidzi, Muhammad bin ‘Isa at-. Sunan at-Tirmidzi. Tahkik Ahmad Muhammad Syakir dkk. Kairo: Syarikah Mushthafa al-Babi al-Halabi, 1395 H/1975 M.


1 Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tahkik Sami bin Muhammad Salamah, jld. 6 (Riyadh: Dar Thaybah, 1420 H/1999 M), tafsir QS. Fathir [35]: 1. ↩

2 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 6, tafsir QS. Fathir [35]: 1. ↩

3 Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tahkik Ahmad al-Bardawni dan Ibrahim Athfaisy, jld. 17 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1384 H/1964 M), tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 15. ↩

4 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 7, tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 14–15. ↩

5 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 7, tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 14–15. ↩

6 Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, jld. 17, tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 15. ↩

7 Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, jld. 17 (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1392 H), syarah hadits no. 2814. ↩

8 Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, jld. 17, tafsir QS. Ar-Rahman [55]: 14. ↩

9 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 5, tafsir QS. Al-Kahfi [18]: 50. ↩

10 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 5, tafsir QS. Al-Kahfi [18]: 50. ↩

11 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 3, tafsir QS. Al-A‘raf [7]: 12. ↩

12 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jld. 7, tafsir QS. Qaf [50]: 16–18. ↩

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.