Ujian Iman kepada Akhirat dalam QS. Saba’ [34]: 20–21

KETIKA GODAAN SETAN TERASA TIDAK MEMAKSA

Ujian Iman kepada Akhirat dalam QS. Saba’ [34]: 20–21

Kajian tadabbur dua ayat sebagai satu rangkaian makna

Pesan utama: Iblis dapat membisikkan, menghias, menjanjikan, dan mengajak, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan yang memaksa manusia. Pilihan manusia menampakkan mutu iman kepada akhirat, sementara Allah menjaga, mengetahui, dan membalas setiap amal.

1. Pembukaan

Manusia modern hidup di tengah arus godaan yang tidak selalu datang dalam bentuk ajakan terang-terangan kepada kemaksiatan. Godaan dapat hadir sebagai pembenaran yang terdengar masuk akal, tren yang diikuti banyak orang, dorongan untuk menunda taubat, rasa takut kehilangan keuntungan, atau keyakinan bahwa pelanggaran kecil tidak akan menimbulkan akibat. Di ruang digital, bujukan itu semakin halus: perhatian diperebutkan, kemarahan dipelihara, syahwat dinormalisasi, kebohongan diulang hingga terasa benar, dan kesalahan pribadi mudah dialihkan kepada lingkungan, algoritma, tekanan kelompok, atau bahkan kepada setan. Akibatnya, manusia dapat kehilangan dua kesadaran sekaligus: kesadaran bahwa dirinya tetap memiliki pilihan dan kesadaran bahwa setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

QS. Saba’ [34]: 20–21 membongkar cara kerja godaan dan tanggung jawab manusia dengan sangat jernih. Ayat pertama menyatakan bahwa dugaan Iblis terbukti pada banyak manusia yang mengikutinya, tetapi tetap ada golongan mukmin yang tidak tunduk kepadanya. Ayat berikutnya langsung menutup kemungkinan salah paham: Iblis tidak memiliki kekuasaan yang memaksa. Keberadaannya dalam medan ujian menjadi sarana tampaknya siapa yang benar-benar beriman kepada akhirat dan siapa yang masih ragu. Rangkaian ini diakhiri dengan nama dan sifat Allah sebagai Maha Memelihara segala sesuatu. Dengan demikian, ayat-ayat ini memberikan peta lengkap: ada penggoda, ada manusia yang memilih, ada ujian yang menyingkap iman, dan ada Allah yang mengetahui, menjaga, mencatat, serta membalas.

2. Teks Ayat

Rangkaian ayat ini berada setelah kisah kaum Saba’ yang memperoleh negeri baik, kebun-kebun subur, keamanan perjalanan, dan kemudahan rezeki, tetapi kemudian berpaling dari syukur. Tidak ditemukan riwayat sahih yang menetapkan sebab turun khusus bagi ayat 20–21. Karena itu, kajian ini menggunakan konteks susunan ayat: setelah menggambarkan keruntuhan akibat kufur nikmat, Al-Qur’an mengungkap dimensi batin di balik penyimpangan tersebut, yaitu mengikuti Iblis dan hawa nafsu.

QS. Saba’ [34]: 20

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.”

QS. Saba’ [34]: 21

وَمَا كَانَ لَهُۥ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَٰنٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِٱلْءَاخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِى شَكٍّ ۗ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ

“Dan tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” 1

Ayat 20 menjelaskan kenyataan: banyak manusia mengikuti Iblis. Ayat 21 menjelaskan batas dan hikmahnya: kepatuhan itu bukan karena paksaan Iblis, melainkan berlangsung dalam medan ujian yang menampakkan pilihan manusia. Hubungan keduanya harus dipertahankan agar manusia tidak meremehkan godaan dan sekaligus tidak menggunakan setan sebagai alasan untuk melepaskan tanggung jawab.

3. Penjelasan per Perkataan

3.1. Potongan ayat وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُۥ

a. Teks dan Makna

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُۥ

“Dan sungguh, Iblis telah membuktikan pada mereka kebenaran dugaannya.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Kata وَلَقَدْ mengandung penegasan yang kuat. Huruf lām dan qad menunjukkan bahwa perkara yang diberitakan benar-benar telah terjadi. Kata صَدَّقَ pada qiraah yang masyhur dibaca dengan tasydid pada huruf dāl, yang memberi makna bahwa Iblis mendapati atau menjadikan dugaannya terbukti pada mereka. Kata ظَنَّهُ menunjukkan dugaan, bukan pengetahuan gaib. Iblis tidak mengetahui masa depan secara mandiri. Ia hanya menyimpulkan dari kelemahan manusia, pengalaman menggoda Adam, kecenderungan hawa nafsu, dan tekadnya sendiri untuk menyesatkan keturunan Adam.

Al-Ṭabari dalam Jāmi‘ al-Bayān merangkum hubungan antara dugaan Iblis dan respons manusia dengan ungkapan:

فَصَارَ ذَلِكَ حَقًّا بِاتِّبَاعِهِمْ إِيَّاهُ.

“Maka dugaan itu menjadi kenyataan karena mereka mengikutinya.” 2

Relevansinya sangat penting: yang membuat dugaan Iblis terbukti bukanlah ilmu gaib atau kekuasaan mutlaknya, melainkan keputusan manusia untuk menyambut ajakannya. Ayat ini tidak sedang memuji ketepatan Iblis, tetapi memperingatkan manusia agar tidak menjadikan dirinya bukti keberhasilan musuh.

c. Ayat Pendukung

Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah yang lain:

قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَٰطَكَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ۝ ثُمَّ لَـَٔاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَـٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَـٰكِرِينَ

“(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. al-A‘rāf [7]: 16–17)

Ayat ini menunjukkan asal dugaan Iblis: ia bertekad mengepung manusia dari berbagai arah dan menyangka kebanyakan mereka tidak bersyukur. QS. Saba’ [34]: 20 memperlihatkan bahwa dugaan tersebut menjadi kenyataan pada kaum yang mengganti syukur dengan kufur nikmat.

d. Hadis Pendukung

Prinsip yang terkandung dalam ayat pendukung di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ.

“Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab, tetapi ia tetap berusaha mengobarkan perselisihan di antara mereka.” (HR. Muslim, no. 2812a; sahih) 3

Hadis ini memperlihatkan kecerdikan strategi setan. Ketika satu pintu tertutup, ia mencari pintu lain: permusuhan, prasangka, ucapan kasar, fanatisme, dan pecahnya persaudaraan. Karena itu, keberhasilan Iblis tidak selalu berbentuk penyembahan langsung kepadanya; rusaknya hubungan antarmukmin pun dapat menjadi sasaran.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: dugaan Iblis hanya menjadi kenyataan ketika manusia secara sadar atau lalai memberi respons kepada bujukannya.

3.2. Potongan ayat  فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

a. Teks dan Makna

فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Lalu mereka mengikutinya, kecuali segolongan dari orang-orang mukmin.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Huruf فَـ pada فَٱتَّبَعُوهُ menunjukkan akibat atau kelanjutan: Iblis menggoda, kemudian mereka mengikuti. Kata ٱتَّبَعُوهُ berasal dari makna mengikuti jejak dengan pilihan dan tindakan. Penggunaan kata ini kembali menegaskan adanya partisipasi manusia. Adapun إِلَّا فَرِيقًا adalah pengecualian yang membuka pintu harapan: godaan setan tidak bersifat tak terelakkan. مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ menunjukkan bahwa perlindungan berkaitan dengan iman yang hidup, ketaatan, keikhlasan, dan pertolongan Allah.

Al-Baghawi dalam Ma‘ālim al-Tanzīl menukil penjelasan Mujahid:

عَلَى النَّاسِ كُلِّهِمْ إِلَّا مَنْ أَطَاعَ اللَّهَ.

“(Dugaan itu berlaku) atas manusia seluruhnya, kecuali orang yang menaati Allah.” 4

Kutipan ini menerangkan bahwa identitas mukmin bukan sekadar label. Pengecualian dari pengikut Iblis tampak pada ketaatan. Seorang mukmin mungkin tergelincir dalam dosa, tetapi ia tidak menyerahkan pokok iman dan arah hidupnya kepada Iblis; ia kembali dengan taubat, memperbaiki diri, dan tidak membenarkan kesalahan.

c. Ayat Pendukung

Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman pula:

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَـٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ

“Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. al-Ḥijr [15]: 42)

Ayat ini menyatukan dua fakta: hamba Allah mendapat perlindungan, sedangkan orang sesat disebut sebagai pihak yang mengikuti Iblis. Perlindungan tidak berarti seorang mukmin tidak pernah menerima bisikan; perlindungan berarti bisikan tersebut tidak harus menjadi kepatuhan.

d. Hadis Pendukung

Jika ayat tersebut meletakkan fondasi pada tataran prinsip, Rasulullah ﷺ mempertegasnya secara praktis dalam hadis berikut:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ. قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ، إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ.

“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali telah disertai pendamping dari kalangan jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, hanya saja Allah menolongku atasnya sehingga aku selamat; ia tidak menyuruhku kecuali kepada kebaikan.” (HR. Muslim, no. 2814a; sahih) 5

Hadis ini mengajarkan kewaspadaan tanpa kepanikan. Kedekatan bisikan tidak berarti hilangnya kehendak manusia. Pertolongan Allah, ilmu, zikir, ibadah, lingkungan saleh, dan latihan mengendalikan diri membuat manusia mampu menolak arah yang buruk.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: iman yang nyata dalam ketaatan membuat seseorang dapat memutus mata rantai antara bisikan setan dan tindakan dosa.

3.3. Potongan ayat  وَمَا كَانَ لَهُۥ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَٰنٍ

a. Teks dan Makna

وَمَا كَانَ لَهُۥ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَٰنٍ

“Dan tidak ada bagi Iblis kekuasaan sedikit pun atas mereka.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Susunan وَمَا كَانَ لَهُ menafikan adanya hak atau kemampuan yang menetap pada Iblis. Kata سُلْطَٰنٍ dapat bermakna kekuasaan yang memaksa, dominasi, atau hujah yang sah. Dalam konteks ini, Iblis tidak memiliki kemampuan untuk memaksa hati dan anggota badan manusia melakukan kekufuran atau kemaksiatan. Ia pun tidak mempunyai dalil benar yang melegitimasi ajakannya. Senjatanya adalah bisikan, penghiasan keburukan, janji palsu, penundaan, pengaburan, dan eksploitasi hawa nafsu.

Ibn Kathir dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menukil perkataan al-Hasan al-Basri:

وَاللَّهِ مَا ضَرَبَهُمْ بِعَصًا، وَلَا أَكْرَهَهُمْ عَلَى شَيْءٍ.

“Demi Allah, ia tidak memukul mereka dengan tongkat dan tidak memaksa mereka atas sesuatu.” 6

Penjelasan tersebut menolak fatalisme moral. Manusia tidak boleh berkata, “Saya tidak mempunyai pilihan karena setan telah menguasai saya.” Pengaruh setan nyata dan berbahaya, tetapi pengaruh bukan paksaan. Karena itu, syariat memerintahkan perlindungan diri sekaligus menetapkan tanggung jawab atas keputusan.

c. Ayat Pendukung

Kedalaman makna yang terkandung dalam perkataan ini menemukan penguatnya dalam firman Allah:

وَقَالَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لَمَّا قُضِىَ ٱلْأَمْرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ ٱلْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَـٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوْتُكُمْ فَٱسْتَجَبْتُمْ لِى ۖ فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓا۟ أَنفُسَكُم

“Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekadar aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri.’” (penggalan QS. Ibrāhīm [14]: 22)

Di akhirat, Iblis sendiri mengakui mekanismenya: ia mengajak, manusia merespons. Pengakuan ini membatalkan alasan yang menjadikan setan kambing hitam. Penyesalan yang bermanfaat harus terjadi sekarang, ketika respons masih dapat dihentikan, bukan setelah hisab diselesaikan.

d. Hadis Pendukung

Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ، وَلْيَنْتَهِ.

“Setan mendatangi salah seorang dari kalian lalu bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ hingga ia berkata, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Apabila sampai pada hal itu, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. al-Bukhari, no. 3276; sahih) 7

Perintah berlindung kepada Allah dan menghentikan pikiran itu menunjukkan bahwa waswas dapat dilawan. Tidak setiap lintasan hati mencerminkan keyakinan seseorang, dan seseorang tidak berdosa hanya karena munculnya lintasan yang dibenci. Yang dituntut ialah tidak melayani, mengembangkan, atau mengubahnya menjadi keyakinan dan tindakan.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: setan memiliki kemampuan menggoda, tetapi tidak memiliki kuasa memaksa sehingga manusia tetap memikul tanggung jawab moral.

3.4. Potongan ayat  إِلَّا لِنَعْلَمَ

a. Teks dan Makna

إِلَّا لِنَعْلَمَ

“Melainkan agar Kami mengetahui atau menampakkan melalui ujian.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Ungkapan لِنَعْلَمَ tidak boleh dipahami seolah-olah Allah sebelumnya tidak mengetahui, lalu menjadi mengetahui setelah ujian. Ilmu Allah azali, sempurna, dan meliputi segala sesuatu. Ujian menghadirkan apa yang telah Allah ketahui ke dalam kenyataan perbuatan, sehingga tampak perbedaan manusia, tegak hujah, dan berlangsung balasan berdasarkan amal yang benar-benar dilakukan. Dengan bahasa para mufasir, ini adalah ‘ilm al-syahādah atau pengetahuan atas sesuatu setelah ia terjadi secara nyata, bukan munculnya pengetahuan baru setelah ketidaktahuan.

Al-Qurṭubi dalam al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān menjelaskan:

يُرِيدُ عِلْمَ الشَّهَادَةِ الَّذِي يَقَعُ بِهِ الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ.

“Yang dimaksud ialah pengetahuan atas kenyataan yang dengannya pahala dan hukuman ditetapkan.” 8

Relevansinya ialah menjaga dua prinsip akidah sekaligus: kesempurnaan ilmu Allah dan keadilan-Nya terhadap hamba. Allah mengetahui sebelum perbuatan terjadi, tetapi manusia dibalas atas perbuatan yang dipilih dan diwujudkannya, bukan semata-mata atas pengetahuan Allah tentang apa yang akan ia lakukan.

c. Ayat Pendukung

Sebagai landasan atas pemaknaan tersebut, perhatikan pula firman Allah berikut:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-‘Ankabūt [29]: 2–3)

Iman yang hanya berupa klaim belum menampakkan mutunya. Ujian menjadikannya terlihat dalam kesabaran, keteguhan, taubat, dan ketaatan. Godaan Iblis termasuk bagian dari medan ujian tersebut, tetapi bukan satu-satunya ujian; ada pula hawa nafsu, tekanan sosial, kenikmatan, kesulitan, dan pilihan-pilihan moral.

d. Hadis Pendukung

Untuk memperjelas penerapan makna ayat ini dalam keseharian, perhatikan pula sabda Rasulullah ﷺ berikut:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ.

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai pihak yang mengelolanya; lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal.” (HR. Muslim, no. 2742; sahih) 9

Kenikmatan dunia sendiri adalah ujian. Kaum Saba’ tidak hanya diuji dengan bencana, tetapi terlebih dahulu diuji dengan kemakmuran, keamanan, dan kemudahan perdagangan. Ini mengingatkan bahwa audit iman tidak hanya berlangsung saat susah; keberhasilan, jabatan, akses, dan kekayaan dapat menjadi ujian yang lebih halus.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: ujian tidak menambah ilmu Allah, tetapi menampakkan pilihan manusia agar kebenaran iman, tegaknya hujah, dan keadilan balasan menjadi nyata.

3.5. Potongan ayat  مَن يُؤْمِنُ بِٱلْءَاخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِى شَكٍّ

a. Teks dan Makna

مَن يُؤْمِنُ بِٱلْءَاخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِى شَكٍّ

“Siapa yang beriman kepada akhirat dan siapa yang berada dalam keraguan tentangnya.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Kata يُؤْمِنُ bukan hanya mengetahui bahwa akhirat ada, melainkan membenarkan dengan hati sehingga memengaruhi orientasi hidup. بِٱلْءَاخِرَةِ mencakup kebangkitan, hisab, surga, neraka, pahala, dan hukuman. Lawannya dalam ayat bukan sekadar penolakan terbuka, tetapi فِى شَكٍّ, berada di dalam keraguan. Ungkapan “di dalam” menggambarkan keraguan yang meliputi dan mengganggu keputusan. Ketika akhirat tidak lagi diyakini secara operasional, keuntungan sesaat mudah mengalahkan kebenaran.

Al-Ṭabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menjelaskan orang yang beriman kepada akhirat sebagai:

مَنْ يُصَدِّقُ بِالْبَعْثِ وَالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ.

“Orang yang membenarkan kebangkitan, pahala, dan hukuman.” 10

Kutipan ini memperlihatkan isi konkret iman kepada akhirat. Keyakinan tersebut mengubah cara menilai: bukan hanya “apakah menguntungkan sekarang?”, tetapi juga “bagaimana perkara ini dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?”

c. Ayat Pendukung

Uraian makna per kata di atas sejalan dengan apa yang difirmankan Allah pada ayat lain:

وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. al-Baqarah [2]: 4)

Al-Qur’an menggunakan kata يُوقِنُونَ—mereka yakin—untuk menunjukkan mutu iman kepada akhirat. Keyakinan ini menjadi fondasi ketakwaan karena menghadirkan masa depan abadi ke dalam keputusan hari ini.

d. Hadis Pendukung

Kandungan ayat ini semakin nyata kedudukannya ketika disandingkan dengan hadis berikut:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8a; sahih) 11

Hadis Jibril menempatkan iman kepada hari akhir sebagai rukun iman. Karena itu, keraguan terhadap akhirat bukan persoalan pinggiran. Ia menyentuh fondasi agama dan berdampak langsung pada keberanian menolak godaan, terutama ketika kejujuran terasa mahal dan maksiat tampak tanpa saksi.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: iman kepada akhirat menjadi pembeda praktis yang mengarahkan manusia memilih ketaatan meskipun dosa menawarkan manfaat sesaat.

3.6. Potongan ayat  وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ

a. Teks dan Makna

وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ

“Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.”

b. Penjelasan Makna per Kata

Kata رَبُّكَ menghadirkan rububiyah Allah: Dia yang menciptakan, mengatur, memelihara, mendidik, dan menolong. Kata عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ bersifat menyeluruh; tidak ada bisikan, pilihan, niat, ucapan, atau perbuatan yang keluar dari ilmu dan penjagaan-Nya. Kata حَفِيظٌ mencakup menjaga makhluk, menjaga amal agar tidak hilang dari perhitungan, dan menjaga balasannya. Penutup ini sekaligus menghibur mukmin dan memperingatkan pelaku maksiat.

Al-Sa‘di dalam Taysīr al-Karīm al-Raḥmān menjelaskan:

يَحْفَظُ الْعِبَادَ، وَيَحْفَظُ عَلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ.

“Dia menjaga para hamba dan menjaga catatan amal mereka.” 12

Relevansinya ialah bahwa perjuangan menolak godaan tidak pernah luput dari pengetahuan Allah, meskipun tidak dilihat manusia. Sebaliknya, pelanggaran tersembunyi juga tidak hilang hanya karena berhasil disembunyikan dari auditor, keluarga, pimpinan, atau masyarakat.

c. Ayat Pendukung

Guna memperkuat pemahaman terhadap perkataan ini, Allah menegaskan pula:

إِذْ يَتَلَقَّى ٱلْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلْيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٌ ۝ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qāf [50]: 17–18)

Pencatatan amal bukan karena Allah membutuhkan informasi dari malaikat. Pencatatan merupakan bagian dari kesempurnaan keadilan, tegaknya bukti, dan tertibnya pertanggungjawaban. Kesadaran ini mendidik kehati-hatian dalam ucapan, termasuk komentar, pesan singkat, unggahan, dan kesaksian digital.

d. Hadis Pendukung

Sebagai gambaran konkret dari kandungan ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ.

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pencatatan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan ketentuannya.” (HR. al-Bukhari, no. 6491; sahih) 13

Kelanjutan hadis menjelaskan keluasan rahmat Allah: niat baik yang belum dilakukan dicatat sebagai satu kebaikan; kebaikan yang dilakukan dilipatgandakan; sedangkan keburukan yang benar-benar dilakukan hanya dicatat satu. Sifat Allah sebagai Ḥafīẓ dengan demikian tidak hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga harapan bahwa perjuangan batin, niat baik, dan amal yang kecil tidak akan disia-siakan.

e. Pelajaran dari Perkataan

Pelajaran dari perkataan ini: Allah menjaga hamba dan amalnya dengan ilmu serta keadilan yang sempurna, sehingga tidak ada perjuangan baik yang sia-sia dan tidak ada keburukan yang hilang dari pertanggungjawaban.

4. Faedah dan Penerapan

4.1. Mengenali Pola Godaan: dari Bisikan hingga Kepatuhan

Rangkaian ayat membedakan antara pengaruh dan kepatuhan. Iblis membisikkan, menghias, menjanjikan, menakut-nakuti, dan mengajak; manusia kemudian dapat mengikuti atau menolak. Perbedaan ini penting karena banyak orang baru menyadari godaan setelah menjadi tindakan. Padahal prosesnya sering bertahap: lintasan muncul, kemudian dipelihara; alasan dicari, lalu batas digeser; perbuatan diulang, kemudian identitas dibentuk untuk membenarkannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola itu tampak ketika seseorang melihat konten haram secara tidak sengaja, tetapi kemudian mencarinya kembali; menerima informasi yang belum jelas, lalu menyebarkannya karena sesuai dengan kebenciannya; atau tergoda mengambil uang yang bukan haknya, kemudian meyakinkan diri bahwa “semua orang juga melakukannya”. Titik kritis bukan hanya kemunculan godaan, tetapi keputusan untuk memberi perhatian, pembenaran, dan tindak lanjut.

Penerapan praktisnya ialah membuat jeda antara dorongan dan tindakan. Ketika marah, jangan segera mengirim pesan. Ketika memperoleh peluang keuntungan yang meragukan, jangan langsung menandatangani akad. Ketika menerima berita provokatif, periksa sebelum membagikan. Ketika lintasan syubhat berulang, berlindung kepada Allah, hentikan spekulasi yang tidak produktif, dan bertanya kepada orang berilmu. Dengan jeda tersebut, manusia mengambil kembali ruang pilihan yang hendak dipersempit oleh dorongan sesaat.

4.2. Menolak Fatalisme: Setan Bukan Alasan untuk Melepaskan Tanggung Jawab

Pernyataan وَمَا كَانَ لَهُۥ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَٰنٍ adalah fondasi tanggung jawab moral. Setan bukan pengendali yang memaksa manusia seperti benda tanpa kehendak. Ia hanya menawarkan narasi palsu. Karena itu, ungkapan “saya khilaf karena digoda setan” boleh menjadi pengakuan tentang adanya godaan, tetapi tidak boleh menjadi pembatal tanggung jawab.

Dalam pendidikan keluarga, prinsip ini mencegah dua ekstrem. Ekstrem pertama ialah mengabaikan realitas godaan dan menganggap semua kesalahan semata-mata kelemahan pribadi. Ekstrem kedua ialah menisbatkan seluruh masalah kepada gangguan setan sehingga faktor kebiasaan, akses, trauma, lingkungan, dan keputusan tidak diperbaiki. Pendekatan yang sehat mengakui dimensi spiritual sekaligus melakukan ikhtiar nyata: memperkuat ibadah, menutup akses dosa, mengubah lingkungan, membangun keterampilan pengendalian diri, dan mencari bantuan profesional bila diperlukan.

Dalam organisasi, pemimpin juga tidak boleh memakai “moral pegawai” sebagai satu-satunya pengendalian. Manusia bertanggung jawab, tetapi sistem harus menutup peluang penyalahgunaan. Pemisahan tugas, otorisasi, dokumentasi, rekonsiliasi, transparansi, dan mekanisme pelaporan adalah ikhtiar untuk tidak membiarkan godaan bertemu kesempatan tanpa pengawasan.

4.3. Iman kepada Akhirat sebagai Pengendalian Internal Batin

Ayat 21 menjadikan iman kepada akhirat sebagai pembeda utama dalam menghadapi godaan. Ini menunjukkan bahwa akhlak tidak cukup dibangun hanya dengan pengawasan eksternal. Kamera dapat memiliki titik buta, auditor bekerja dengan pengujian, dan aturan dapat dicari celahnya. Iman kepada akhirat menghadirkan pengawasan ketika tidak ada manusia yang melihat.

Pengendalian batin tersebut bekerja melalui tiga pertanyaan: Apakah Allah meridai tindakan ini? Bagaimana hak orang lain akan dimintai pertanggungjawaban? Apakah keuntungan sesaat sebanding dengan kerugian akhirat? Pertanyaan ini tidak menggantikan analisis hukum, tetapi memberi orientasi agar seseorang tidak mempermainkan aturan.

Dalam profesi akuntansi, audit, dan perpajakan, seseorang mungkin menemukan pilihan antara menyampaikan keadaan sebenarnya atau menyusun gambaran yang menyesatkan tetapi menguntungkan klien. Iman kepada akhirat mengingatkan bahwa tanda tangan, kertas kerja, jurnal, perhitungan pajak, dan representasi manajemen bukan sekadar dokumen dunia. Semuanya termasuk amal yang dijaga Allah. Karena itu, profesional muslim tidak hanya bertanya, “Apakah ini dapat lolos pemeriksaan?”, tetapi “Apakah ini benar, amanah, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah?”

4.4. Bahaya Keraguan Operasional terhadap Akhirat

Seseorang mungkin secara lisan mengakui akhirat, tetapi mengambil keputusan seolah-olah akhirat tidak ada. Inilah yang dapat disebut keraguan operasional: bukan selalu penolakan teologis yang diucapkan, melainkan lemahnya pengaruh akhirat dalam pilihan nyata. Gejalanya tampak ketika manfaat segera selalu mengalahkan prinsip, dosa dianggap aman selama tidak diketahui, atau taubat terus ditunda dengan asumsi umur masih panjang.

Untuk mengobatinya, pembicaraan tentang akhirat perlu dihubungkan dengan keputusan konkret. Setelah membaca ayat tentang hisab, tanyakan: hak siapa yang belum saya tunaikan? Utang apa yang belum saya selesaikan? Informasi apa yang saya sembunyikan? Hubungan apa yang saya rusak? Penghasilan apa yang meragukan? Dengan cara ini, iman berpindah dari pengetahuan menjadi kompas.

Mengingat kematian, membaca ayat dan hadis tentang akhirat, menghadiri majelis ilmu, menziarahi kubur sesuai tuntunan, serta melakukan muhasabah harian dapat memperkuat orientasi jangka panjang. Tujuannya bukan menumbuhkan kecemasan tanpa harapan, melainkan keseimbangan antara takut akan hisab dan berharap pada rahmat Allah.

4.5. Syukur sebagai Benteng dari Strategi Iblis

Konteks kaum Saba’ menunjukkan hubungan kuat antara godaan dan kufur nikmat. Iblis menyatakan bahwa kebanyakan manusia tidak akan bersyukur, sedangkan kaum Saba’ berpaling dari nikmat yang besar. Syukur karena itu bukan sekadar ucapan alhamdulillāh, tetapi pengakuan hati, pujian lisan, dan penggunaan nikmat dalam ketaatan.

Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi pintu godaan. Ilmu melahirkan kesombongan, jabatan melahirkan penyalahgunaan, teknologi melahirkan kelalaian, dan kekayaan melahirkan rasa tidak membutuhkan Allah. Sebaliknya, syukur membuat seseorang melihat nikmat sebagai amanah. Ia tidak hanya menikmati fasilitas, tetapi bertanya untuk apa fasilitas itu digunakan dan siapa yang memperoleh manfaat.

Penerapannya dapat dimulai dengan audit nikmat mingguan: catat beberapa nikmat utama, risiko penyalahgunaannya, dan satu tindakan syukur. Waktu disyukuri dengan ibadah dan karya; ilmu dengan mengajar; jabatan dengan keadilan; harta dengan nafkah, zakat, dan sedekah; akses digital dengan menyebarkan kebaikan. Praktik ini menjawab masalah pembukaan berupa normalisasi kelalaian dan mengubah nikmat menjadi energi ketaatan.

4.6. Menghadapi Godaan di Era Digital

Teknologi bukan Iblis, dan algoritma tidak menghapus kehendak manusia. Namun sistem digital dapat memperbesar mekanisme godaan: pengulangan, personalisasi, dorongan instan, pembandingan sosial, kemarahan, dan anonimitas. Karena itu, ayat ini sangat relevan tanpa perlu memaksakan seolah-olah ia berbicara langsung tentang teknologi.

Penerapannya mencakup disiplin perhatian: mematikan notifikasi yang tidak perlu, menetapkan waktu tanpa gawai, berhenti mengikuti akun pemicu maksiat, menggunakan penyaring konten, tidak membawa telepon ke tempat tidur, dan meminta orang tepercaya menjadi mitra akuntabilitas. Untuk berita, biasakan tabayyun, membaca lebih dari judul, menelusuri sumber primer, dan menahan diri dari konten yang memperuncing permusuhan.

Hadis tentang taḥrīsy—mengobarkan perselisihan—sangat nyata di media sosial. Satu potongan video dapat memicu vonis, prasangka, dan permusuhan massal. Seorang mukmin tidak cukup memastikan bahwa informasinya benar; ia juga mempertimbangkan apakah cara, waktu, dan konteks penyampaiannya mendatangkan maslahat atau justru menjadi bahan bakar perpecahan.

4.7. Menangani Waswas tanpa Berlebihan

Hadis memerintahkan dua langkah ketika waswas akidah muncul: berlindung kepada Allah dan berhenti melayaninya. Ini mengajarkan bahwa lintasan yang tidak diinginkan bukan otomatis kekufuran. Orang yang terganggu justru sering membenci lintasan tersebut. Yang perlu dihindari ialah ritual pemeriksaan tanpa akhir, perdebatan batin yang kompulsif, dan mencari kepastian melalui pengulangan yang memperkuat kecemasan.

Langkah praktisnya ialah membaca isti‘āżah, menegaskan iman, mengalihkan perhatian kepada amal bermanfaat, mempelajari dasar akidah dari guru terpercaya, dan tidak membangun keyakinan dari konten acak. Apabila waswas menjadi berat, berulang, mengganggu ibadah dan fungsi harian, mencari bantuan ahli kesehatan mental yang memahami nilai agama merupakan ikhtiar yang dibenarkan. Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara ruqyah dan zikir yang syar‘i dengan penanganan psikologis yang diperlukan.

4.8. Menjaga Harapan: Ada Golongan yang Tidak Mengikuti Iblis

Frasa إِلَّا فَرِيقًا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ mencegah keputusasaan. Walaupun ayat menggambarkan luasnya keberhasilan godaan, ia menegaskan adanya kelompok yang selamat. Keselamatan tidak berarti kebal dari ujian, tetapi memperoleh pertolongan untuk bertahan, kembali, dan tidak menyerahkan arah hidup kepada setan.

Harapan ini penting bagi orang yang pernah jatuh dalam dosa. Iblis memiliki dua strategi berurutan: sebelum dosa ia mengecilkan kesalahan, sesudah dosa ia membesarkan dosa hingga pelaku putus asa dari rahmat Allah. Mukmin menolak keduanya. Ia tidak meremehkan dosa dan tidak berputus asa dari taubat. Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat tetap terbuka.

Komunitas beriman perlu menjadi tempat yang membantu taubat, bukan ruang yang menormalisasi dosa atau menghancurkan orang yang ingin kembali. Nasihat diberikan dengan ilmu dan kasih sayang, aib tidak diumbar, tetapi hak korban dan kewajiban memperbaiki kerusakan tetap ditunaikan.

4.9. Sifat Allah al-Ḥafīẓ: Pengawasan, Perlindungan, dan Keadilan

Penutup ayat menggabungkan tiga makna. Pertama, pengawasan: Allah tidak lalai terhadap tindakan yang tersembunyi. Kedua, perlindungan: Allah mampu menjaga hamba yang berlindung dan taat kepada-Nya. Ketiga, keadilan: amal dan balasan tidak akan hilang. Ketiga makna ini membentuk keseimbangan rohani.

Bagi korban kezaliman, sifat al-Ḥafīẓ memberi penghiburan bahwa bukti yang hilang dari dunia tidak hilang dari ilmu Allah. Bagi pelaku, sifat ini menjadi peringatan bahwa menghapus jejak tidak menghapus pertanggungjawaban. Bagi orang yang beramal diam-diam, sifat ini menjadi harapan bahwa tidak adanya pujian manusia tidak mengurangi nilai amal di sisi Allah.

Penerapannya ialah membangun muraqabah: sebelum bertindak, ingat bahwa Allah mengetahui; ketika beramal, cukupkan harapan kepada-Nya; setelah tergelincir, segera bertaubat; ketika dizalimi, tempuh ikhtiar yang sah tanpa kehilangan keyakinan pada keadilan akhirat.

4.10. Peta Pertahanan Enam Lapis

Rangkaian ayat dan dalil pendukung dapat diterjemahkan menjadi enam lapis pertahanan. Pertama, ilmu, agar tipu daya dikenali sebelum diterima. Kedua, isti‘āżah dan zikir, untuk meminta perlindungan Allah. Ketiga, pengendalian akses, dengan menjauhi pintu dan lingkungan dosa. Keempat, jeda keputusan, agar dorongan tidak otomatis menjadi tindakan. Kelima, akuntabilitas, melalui sahabat saleh, keluarga, guru, atau sistem pengawasan. Keenam, muhasabah akhirat, dengan menilai keputusan berdasarkan hisab.

Enam lapis ini menjawab masalah kontemporer pada pembukaan. Algoritma dan tekanan sosial memang memengaruhi, tetapi pengaruhnya dapat dikelola. Manusia tidak dibiarkan sendirian: ia dibekali wahyu, akal, kehendak, doa, komunitas, dan sarana pencegahan. Ketika salah satu lapis melemah, lapis lain membantu. Namun semua lapis harus diarahkan oleh ketergantungan kepada Allah, bukan rasa aman terhadap kemampuan diri.

5. Penutup

5.1. Tadabbur dari Perspektif Akidah, Tauhid, dan Akhlak kepada Allah

QS. Saba’ [34]: 20–21 menegakkan tauhid dengan menolak dua klaim palsu tentang Iblis: bahwa ia mengetahui gaib dan bahwa ia memiliki kuasa memaksa. Dugaannya hanya dugaan, dan kekuasaannya hanya bujukan. Kuasa yang mutlak, ilmu yang meliputi, penjagaan, dan penetapan balasan hanya milik Allah.

Frasa إِلَّا لِنَعْلَمَ harus dipahami sesuai kesempurnaan sifat Allah. Allah tidak mengalami perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Ujian menampakkan apa yang telah diketahui-Nya dan menjadikan amal manusia nyata sebagai dasar balasan. Pemahaman ini menjaga akidah dari menyerupakan ilmu Allah dengan ilmu makhluk.

Akhlak kepada Allah yang lahir dari ayat ini ialah isti‘ānah, isti‘āżah, syukur, takut, harap, dan muraqabah. Seorang mukmin tidak merasa aman dari tipu daya dirinya dan setan, tetapi juga tidak berputus asa. Ia memohon penjagaan Allah sambil menempuh sebab-sebab ketaatan.

5.2. Tadabbur dari Perspektif Pendidikan dan Psikologi Moral

Ayat ini mendidik manusia untuk mengenali rantai perilaku: dorongan, pembenaran, pilihan, tindakan, kebiasaan, dan akibat. Pendidikan yang hanya mengatakan “jangan” tanpa mengajarkan cara mengenali pemicu dan mengelola respons akan mudah kalah oleh godaan yang berulang. Karena itu, keluarga dan lembaga pendidikan perlu mengajarkan literasi godaan: bagaimana iklan mengeksploitasi keinginan, bagaimana tekanan kelompok bekerja, dan bagaimana emosi memengaruhi keputusan.

Pada saat yang sama, tanggung jawab harus disampaikan tanpa meniadakan belas kasih. Orang yang salah perlu mengakui pilihannya, tetapi ia juga perlu dibantu memperbaiki lingkungan dan kebiasaan. Taubat bukan sekadar rasa bersalah; taubat mencakup berhenti, menyesal, bertekad tidak mengulangi, dan mengembalikan hak bila terkait manusia.

5.3. Tadabbur dari Perspektif Kehidupan Digital dan Sosial

Ayat ini membentuk etika digital yang matang. Pengguna tidak boleh menyerahkan kendali dirinya kepada rekomendasi platform, tren, atau massa. Ia memilih apa yang dilihat, disukai, dikomentari, dan disebarkan. Karena setan menyukai taḥrīsy, setiap interaksi yang memperbesar permusuhan harus diaudit: apakah informasi lengkap, apakah bahasa adil, apakah ada maslahat, dan apakah tindakan itu akan dipertanggungjawabkan dengan tenang di akhirat.

Kebebasan digital tanpa pengendalian batin mudah berubah menjadi perbudakan perhatian. Sebaliknya, iman kepada akhirat membebaskan manusia dari kebutuhan untuk bereaksi terhadap segala sesuatu. Tidak semua provokasi harus dijawab, tidak semua aib harus diumumkan, dan tidak semua kesempatan harus diambil.

5.4. Tadabbur dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Ayat 20–21 tidak menetapkan rincian hukum suatu akad, tetapi memberikan fondasi moral dan spiritual bagi muamalah. Pelanggaran ekonomi sering diawali bujukan yang sama: keuntungan cepat, takut miskin, normalisasi praktik pasar, atau keyakinan bahwa manipulasi kecil tidak akan diketahui. Iman kepada akhirat dan keyakinan bahwa Allah Ḥafīẓ berfungsi sebagai pengendalian internal yang menguatkan kepatuhan pada hukum halal-haram.

Dalam transaksi, prinsip ini menuntut kerelaan yang sah, kejujuran informasi, pemenuhan akad, dan larangan memakan harta secara batil. Dalam tata kelola, ia mendorong dokumentasi, pemisahan tugas, transparansi, dan akuntabilitas. Pengendalian rohani tidak menggantikan sistem, sedangkan sistem tidak menggantikan takwa. Keduanya saling menguatkan: sistem mengurangi peluang penyimpangan, sementara takwa menjaga ketika sistem tidak melihat.

Bagi akuntan, auditor, pengelola zakat dan wakaf, pelaku usaha, serta pejabat publik, penutup وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ merupakan prinsip amanah. Angka yang direkayasa, aset yang disembunyikan, dana yang dialihkan, konflik kepentingan yang tidak diungkapkan, dan hak yang ditahan mungkin lolos dari pemeriksaan manusia, tetapi tidak keluar dari penjagaan Allah. Sebaliknya, keputusan untuk jujur meskipun kehilangan keuntungan dunia tidak akan hilang dari catatan-Nya.

Pada akhirnya, rangkaian ayat ini menempatkan manusia di antara kewaspadaan dan harapan. Waspada karena Iblis bekerja terus-menerus dan banyak manusia telah membuktikan dugaannya. Berharap karena ia tidak mempunyai kuasa memaksa, selalu ada golongan mukmin yang menolak, dan Allah Maha Memelihara. Kemenangan tidak dicapai dengan meremehkan musuh, melainkan dengan mengenali batas kekuasaannya, memperkuat iman kepada akhirat, mengambil sebab-sebab perlindungan, dan bersandar kepada Allah.

6. Tanya Jawab Kajian

P1. Apakah ayat ini berarti Iblis mengetahui masa depan?

J: Tidak. Ayat memakai kata ẓann yang berarti dugaan, bukan pengetahuan gaib. Iblis menyimpulkan berdasarkan pengalamannya menggoda manusia dan pengamatannya terhadap kelemahan hawa nafsu. Dugaannya menjadi nyata karena banyak manusia memilih mengikuti ajakannya, bukan karena ia mengetahui masa depan secara mandiri.

Dalil penguat:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.’” (QS. an-Naml [27]: 65) 14

Penjelasan dalil: Ayat ini membatasi pengetahuan gaib yang mutlak hanya bagi Allah. Iblis termasuk makhluk, sehingga ia tidak mempunyai akses mandiri terhadap masa depan. Karena itu, “dugaan Iblis terbukti benar” pada QS. Saba’ [34]: 20 harus dipahami sebagai ketepatan perkiraan yang kemudian diwujudkan oleh pilihan manusia, bukan sebagai bukti bahwa Iblis mengetahui perkara gaib.

P2. Jika Iblis tidak memiliki kekuasaan, mengapa pengaruhnya terasa kuat?

J: Ketiadaan sulṭān berarti Iblis tidak dapat memaksa dan tidak memiliki hujah yang benar. Pengaruhnya dapat terasa kuat karena ia mengulang bisikan, menghias keburukan, memanfaatkan kebiasaan dan lingkungan, serta bertemu dengan hawa nafsu manusia. Namun kuatnya dorongan tidak sama dengan hilangnya pilihan dan tanggung jawab.

Dalil penguat:

وَمَا كَانَ لِىَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَـٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوْتُكُمْ فَٱسْتَجَبْتُمْ لِى ۖ فَلَا تَلُومُونِى وَلُومُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ

“Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri.” (QS. Ibrāhīm [14]: 22) 15

Penjelasan dalil: Pada hari kiamat, setan sendiri mengakui bahwa caranya hanyalah mengajak, sedangkan manusia merespons ajakan itu. Ayat ini menjelaskan makna sulṭān dalam QS. Saba’ [34]: 21: godaan bisa persuasif dan berulang, tetapi tidak berubah menjadi kuasa yang memaksa. Oleh sebab itu, seseorang perlu menutup pintu godaan sekaligus mengakui pilihannya sendiri.

P3. Apakah semua dosa semata-mata disebabkan oleh Iblis?

J: Tidak. Iblis merupakan penggoda, tetapi manusia juga memiliki hawa nafsu, kebiasaan, dan lingkungan yang memengaruhi. Syariat tetap menisbatkan tindakan kepada pelakunya. Karena itu, perbaikan harus mencakup perlindungan spiritual, pengendalian diri, perubahan kebiasaan, dan penutupan peluang dosa.

Dalil penguat:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yūsuf [12]: 53) 16

Penjelasan dalil: Ayat ini menunjukkan adanya dorongan buruk dari dalam diri manusia, bukan hanya bisikan dari luar. Karena itu, menyalahkan Iblis saja tidak cukup untuk menjelaskan dosa dan tidak menggugurkan tanggung jawab pelaku. Jalan perbaikan harus menyatukan isti‘āżah, pendidikan jiwa, pembiasaan amal baik, serta permohonan rahmat dan ampunan Allah.

P4. Siapakah “segolongan dari orang-orang mukmin” yang tidak mengikutinya?

J: Mereka adalah orang beriman yang tetap menjaga pokok iman dan ketaatan dengan pertolongan Allah. Ini tidak harus berarti mereka tidak pernah berdosa. Seorang mukmin dapat tergelincir, tetapi ia tidak menjadikan Iblis sebagai pemimpin hidupnya; ia menyesal, bertaubat, dan kembali kepada ketaatan.

Dalil penguat:

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَـٰنٌ إِلَّا مَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ

“Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. al-Ḥijr [15]: 42) 17

Penjelasan dalil: Perlindungan Allah berlaku bagi hamba yang beribadah dan berlindung kepada-Nya, sedangkan jalan kesesatan ditempuh oleh orang yang memilih mengikuti Iblis. Dalil ini tidak mengajarkan rasa aman palsu seolah seorang mukmin mustahil tergelincir. Ia menegaskan bahwa identitas seorang hamba tampak pada arah kesetiaan hidupnya dan kesediaannya kembali kepada Allah setelah berbuat salah.

P5. Bagaimana memahami frasa “agar Kami mengetahui” tanpa menisbatkan ketidaktahuan kepada Allah?

J: Ilmu Allah telah sempurna sebelum segala sesuatu terjadi. Ujian membuat pilihan manusia terjadi secara nyata dan tampak, sehingga tegak hujah dan berlangsung balasan berdasarkan amal yang benar-benar dilakukan. Para ulama menjelaskannya sebagai penampakan dalam kenyataan, bukan pengetahuan baru setelah sebelumnya tidak tahu.

Dalil penguat:

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ

“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. al-‘Ankabūt [29]: 3) 18

Penjelasan dalil: Seperti QS. Saba’ [34]: 21, ayat ini menghubungkan ujian dengan diketahuinya siapa yang benar dan siapa yang dusta. Maksudnya bukan perubahan dari tidak tahu menjadi tahu pada diri Allah, sebab ilmu-Nya azali dan sempurna. Ujian menampakkan kebenaran iman dalam tindakan yang nyata, sehingga pujian, celaan, pahala, dan hukuman berkaitan dengan amal yang benar-benar dikerjakan.

P6. Mengapa iman kepada akhirat disebut sebagai pembeda dalam ayat ini?

J: Karena iman kepada akhirat mengubah orientasi keputusan. Orang yang yakin akan hisab menilai perbuatan bukan hanya dari manfaat sesaat, tetapi juga dari akibatnya di hadapan Allah. Keyakinan ini memberi kekuatan untuk menolak keuntungan haram, sedangkan keraguan kepada akhirat mudah membuat seseorang hanya menghitung manfaat dunia dan pengawasan manusia.

Dalil penguat:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Ḥasyr [59]: 18) 19

Penjelasan dalil: Allah memerintahkan orang beriman menilai amal hari ini berdasarkan bekal untuk “hari esok”, yakni akhirat. Ini menjelaskan mengapa iman kepada akhirat menjadi garis pembeda: ia menghadirkan horizon pertanggungjawaban yang melampaui keuntungan segera. Semakin hidup keyakinan kepada hisab, semakin hati-hati seseorang memilih tindakan ketika tidak ada manusia yang mengawasi.

P7. Apakah munculnya waswas berarti iman seseorang rusak?

J: Tidak otomatis. Lintasan yang datang tanpa diinginkan, dibenci, dan tidak diterima sebagai keyakinan berbeda dari kekufuran atau dosa yang sengaja dipelihara. Nabi ﷺ menenangkan para sahabat yang merasa sangat terganggu oleh lintasan buruk. Seseorang tetap perlu berlindung kepada Allah, menghentikan pengulangan lintasan, dan mencari bantuan ahli yang tepercaya apabila gangguan menjadi berat.

Dalil penguat:

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: «ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ».

“Beberapa sahabat Nabi ﷺ datang dan bertanya kepada beliau, ‘Kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang terasa sangat berat untuk diucapkan.’ Beliau bertanya, ‘Benarkah kalian mendapatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Itulah iman yang nyata.’” (HR. Muslim, no. 132a; sahih) 20

Penjelasan dalil: Yang menjadi tanda iman bukan isi bisikan buruk itu, melainkan penolakan dan rasa berat hati terhadapnya. Hadis ini mencegah seseorang menghakimi dirinya kafir hanya karena lintasan yang tidak dikehendaki. Pada saat yang sama, ia bukan izin untuk menikmati, meyakini, atau sengaja mengembangkan bisikan tersebut.

P8. Apa langkah pertama ketika merasakan godaan kuat?

J: Berhenti sejenak, membaca isti‘āżah, menjauh dari pemicu, dan jangan mengambil keputusan saat dorongan sedang memuncak. Setelah itu, periksa hukum dan akibatnya, hubungi orang tepercaya, serta ganti dorongan buruk dengan tindakan yang halal dan konkret.

Dalil penguat:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ نَزْغٌۭ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. al-A‘rāf [7]: 200) 21

Penjelasan dalil: Respons pertama yang diajarkan Al-Qur’an ialah memutus arus godaan dengan meminta perlindungan kepada Allah. Isti‘āżah bukan ucapan mekanis, melainkan pengakuan bahwa manusia lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya. Tindakan berikutnya—menjauh dari pemicu, menunda keputusan, dan mencari dukungan—merupakan ikhtiar yang sejalan dengan permohonan perlindungan tersebut.

P9. Bagaimana menerapkan ayat ini terhadap media sosial?

J: Jangan memberikan respons otomatis kepada provokasi. Verifikasi berita, jaga lisan digital, hindari konten pemicu maksiat, dan nilai apakah unggahan akan memperbaiki atau mengobarkan perselisihan. Pengguna tetap bertanggung jawab atas apa yang ia pilih, meskipun platform dirancang untuk mempertahankan perhatian.

Dalil penguat:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 6) 22

Penjelasan dalil: Perintah tabayyun mengharuskan pengguna menahan dorongan untuk segera membagikan berita sebelum memeriksa kebenaran dan akibatnya. Dalam media sosial, satu klik dapat menyebarkan fitnah kepada banyak orang. Karena itu, desain platform atau tekanan kelompok tidak menghapus kewajiban pribadi untuk memverifikasi, menjaga kehormatan orang lain, dan mencegah penyesalan.

P10. Apakah takdir Allah bertentangan dengan tanggung jawab manusia?

J: Tidak. Allah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu, sedangkan manusia benar-benar memiliki kehendak dan kemampuan yang berada di bawah kehendak Allah. QS. Saba’ [34]: 20–21 menegaskan bahwa Iblis tidak memaksa dan manusia mengikuti dengan pilihannya. Karena itu, takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk merencanakan dosa, mempertahankan kesalahan, atau menolak taubat.

Dalil penguat:

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. at-Takwīr [81]: 28–29) 23

Penjelasan dalil: Dua ayat ini meletakkan kedua sisi secara bersamaan: manusia mempunyai kehendak untuk menempuh jalan lurus, tetapi kehendaknya tidak berdiri di luar kekuasaan Allah. Pengakuan terhadap kehendak Allah tidak membatalkan pilihan manusia; sebaliknya, kemampuan memilih tidak menjadikan manusia independen dari Allah. Keseimbangan inilah yang menjaga iman dari fatalisme maupun kesombongan.

P11. Apa hubungan sifat Allah al-Ḥafīẓ dengan pengendalian internal organisasi?

J: Sifat al-Ḥafīẓ menumbuhkan murāqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah menjaga, mengetahui, dan tidak membiarkan amal lepas dari perhitungan-Nya. Kesadaran ini memperkuat integritas saat pengawasan manusia terbatas. Namun organisasi tetap wajib membangun pengendalian yang memadai; takwa dan sistem saling menguatkan, bukan saling menggantikan.

Dalil penguat:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَـٰفِظِينَ ۝ كِرَامًۭا كَـٰتِبِينَ ۝ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Infiṭār [82]: 10–12) 24

Penjelasan dalil: Pencatatan amal menghadirkan akuntabilitas bahkan ketika pelanggaran tidak terlihat oleh atasan, auditor, atau sistem. Kesadaran ini membentuk pengendalian batin berupa amanah dan kejujuran. Akan tetapi, dalil tersebut tidak meniadakan kewajiban menggunakan sarana lahiriah; pemisahan tugas, dokumentasi, persetujuan, dan audit tetap diperlukan untuk menjaga hak serta mencegah peluang penyalahgunaan.

P12. Apakah keuntungan yang diperoleh melalui pelanggaran kecil termasuk mengikuti langkah Iblis?

J: Jika seseorang mengetahui pelanggaran itu dan tetap melakukannya karena pembenaran, takut rugi, atau mengikuti kebiasaan pasar, terdapat pola mengikuti bujukan. Tingkat dosa bergantung pada jenis dan dampak perbuatannya, tetapi sebutan “kecil” tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan kebiasaan tumbuh. Hentikan perbuatan, bertaubat, perbaiki proses, dan kembalikan hak bila ada.

Dalil penguat:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. an-Nūr [24]: 21) 25

Penjelasan dalil: Ungkapan “langkah-langkah setan” menunjukkan bahwa penyimpangan sering tumbuh secara bertahap: pengecualian kecil menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan menjadi pembenaran. Karena itu, keuntungan dari pelanggaran kecil tidak boleh dinilai hanya dari nominalnya, tetapi juga dari arah moral yang dibentuknya. Penutup ayat tetap membuka harapan bahwa penyucian diri terjadi dengan karunia dan rahmat Allah.

P13. Bagaimana ayat ini memberi harapan kepada orang yang pernah banyak berdosa?

J: Ayat menegaskan adanya golongan mukmin yang tidak mengikuti Iblis dan bahwa Iblis tidak memiliki kuasa memaksa. Seseorang dapat memutus kepatuhan kepadanya melalui taubat yang jujur, meninggalkan dosa, memperbaiki kerusakan, mengembalikan hak manusia, dan meminta pertolongan Allah. Masa lalu tidak harus menentukan akhir hidup.

Dalil penguat:

قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. az-Zumar [39]: 53) 26

Penjelasan dalil: Larangan berputus asa ditujukan justru kepada orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya. Luasnya ampunan Allah mematahkan bisikan Iblis yang mendorong pelaku dosa untuk merasa tidak mungkin kembali. Harapan yang benar bukan alasan menunda taubat, melainkan tenaga untuk segera berhenti, menyesal, bertekad tidak mengulangi, dan menyelesaikan hak manusia yang terlanggar.

P14. Apa indikator bahwa iman kepada akhirat telah berpengaruh dalam kehidupan?

J: Di antaranya ialah berani jujur ketika tidak diawasi, menjaga tetangga dan orang lain dari gangguan, memuliakan tamu, mengendalikan ucapan, segera memperbaiki kesalahan, serta tidak menjual prinsip demi keuntungan sesaat. Indikatornya bukan sekadar banyak berbicara tentang akhirat, tetapi perubahan nyata pada keputusan dan hubungan sosial.

Dalil penguat:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya; dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari, no. 6018; sahih) 27

Penjelasan dalil: Nabi ﷺ menghubungkan iman kepada hari akhir dengan perilaku yang sangat konkret: tidak menyakiti, memuliakan tamu, dan mengendalikan lisan. Ini membuktikan bahwa keyakinan eskatologis harus membentuk etika sehari-hari. Dalam ruang digital maupun tatap muka, ukuran pengaruh iman ialah bertambahnya kebaikan dan berkurangnya bahaya yang keluar dari diri seseorang.

7. Daftar Pustaka (Maraji’)

Al-Baghawi, al-Husayn ibn Mas‘ud. Ma‘ālim al-Tanzīl fī Tafsīr al-Qur’ān. Disunting oleh ‘Abd al-Razzaq al-Mahdi. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1420 H.

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Disunting oleh Muṣṭafā Dīb al-Bughā. Edisi ke-5. Damaskus: Dār Ibn Kathīr dan Dār al-Yamāmah, 1993.

Al-Qurṭubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Disunting oleh Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Aṭfayyish. Edisi ke-2. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964.

Al-Sa‘di, ‘Abd al-Rahman ibn Nasir. Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Disunting oleh ‘Abd al-Rahman ibn Mu‘alla al-Luwayhiq. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

Al-Ṭabari, Muhammad ibn Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Disunting oleh Ahmad Muhammad Shakir. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.

Ibn Kathir, Isma‘il ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Disunting oleh Sami ibn Muhammad Salamah. Edisi ke-2. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.

Muslim ibn al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim. Disunting oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, tanpa tahun.

Quran.com. “Al-Qur’an dan Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia.” Ayat-ayat yang dirujuk dalam naskah. Diakses 2 September 2026. https://quran.com/id.

TafsirWeb. “Surat Saba Ayat 21 Arab, Latin, Terjemah dan Tafsir.” Diakses 2 September 2026. https://tafsirweb.com/7779-surat-saba-ayat-21.html.

8. Catatan Akhir

[1] Terjemahan QS. Saba’ [34]: 20–21 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah Saba’ 34:20–21,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/saba/20 dan https://quran.com/id/saba/21. Teks dan ringkasan tafsir pada referensi yang diberikan pengguna juga dibandingkan dengan TafsirWeb, https://tafsirweb.com/7779-surat-saba-ayat-21.html. ↩

[2] Muhammad ibn Jarir al-Ṭabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Saba’ [34]: 20, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura34-aya20.html. ↩

[3] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah wa al-Jannah wa al-Nār, Bāb Taḥrīsy al-Syayṭān, no. 2812a, https://sunnah.com/muslim:2812a. ↩

[4] Al-Husayn ibn Mas‘ud al-Baghawi, Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir QS. Saba’ [34]: 20, menukil Mujahid, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura34-aya20.html. ↩

[5] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah wa al-Jannah wa al-Nār, no. 2814a, https://sunnah.com/muslim:2814a. ↩

[6] Isma‘il ibn ‘Umar Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Saba’ [34]: 21, menukil al-Hasan al-Basri, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura34-aya21.html. ↩

[7] Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Bad’ al-Khalq, Bāb Ṣifat Iblīs wa Junūdih, no. 3276, https://sunnah.com/bukhari:3276. ↩

[8] Muhammad ibn Ahmad al-Qurṭubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Saba’ [34]: 21, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura34-aya21.html. ↩

[9] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Riqāq, no. 2742, https://sunnah.com/muslim:2742. ↩

[10] Muhammad ibn Jarir al-Ṭabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Saba’ [34]: 21, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura34-aya21.html. ↩

[11] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, hadis Jibril, no. 8a, https://sunnah.com/muslim:8a. ↩

[12] ‘Abd al-Rahman ibn Nasir al-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān, tafsir QS. Saba’ [34]: 21, https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura34-aya21.html. ↩

[13] Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Riqāq, no. 6491, https://sunnah.com/bukhari:6491. ↩

[14] Terjemahan QS. an-Naml [27]: 65 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah an-Naml 27:65,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/an-naml/65. ↩

[15] Terjemahan QS. Ibrāhīm [14]: 22 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah Ibrāhīm 14:22,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/ibrahim/22. ↩

[16] Terjemahan QS. Yūsuf [12]: 53 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah Yūsuf 12:53,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/yusuf/53. ↩

[17] Terjemahan QS. al-Ḥijr [15]: 42 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-Ḥijr 15:42,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-hijr/42. ↩

[18] Terjemahan QS. al-‘Ankabūt [29]: 3 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-‘Ankabūt 29:3,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-ankabut/3. ↩

[19] Terjemahan QS. al-Ḥasyr [59]: 18 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-Ḥasyr 59:18,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-hashr/18. ↩

[20] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 132a, https://sunnah.com/muslim:132a. Teks Arab berharakat dibandingkan pula dengan al-Durar al-Saniyyah, https://dorar.net/hadith/sharh/25557. ↩

[21] Terjemahan QS. al-A‘rāf [7]: 200 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-A‘rāf 7:200,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-araf/200. ↩

[22] Terjemahan QS. al-Ḥujurāt [49]: 6 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-Ḥujurāt 49:6,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-hujurat/6. ↩

[23] Terjemahan QS. at-Takwīr [81]: 28–29 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah at-Takwīr 81:28–29,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/at-takwir/28 dan https://quran.com/id/at-takwir/29. ↩

[24] Terjemahan QS. al-Infiṭār [82]: 10–12 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah al-Infiṭār 82:10–12,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/al-infitar/10-12. ↩

[25] Terjemahan QS. an-Nūr [24]: 21 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah an-Nūr 24:21,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/an-nur/21. ↩

[26] Terjemahan QS. az-Zumar [39]: 53 mengikuti terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagaimana ditampilkan Quran.com, “Surah az-Zumar 39:53,” diakses 2 September 2026, https://quran.com/id/az-zumar/53. ↩

[27] Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab, no. 6018, https://sunnah.com/bukhari:6018. Teks Arab berharakat dibandingkan pula dengan al-Durar al-Saniyyah, https://dorar.net/hadith/sharh/4361. ↩


Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.