Hadits Kelembutan dalam Merespons Provokasi dan Keburukan

1. Pembukaan

Di era digital dan modern saat ini, interaksi antarmanusia sering kali diwarnai oleh ketegangan, provokasi, dan tutur kata yang kasar.
Kemudahan berkomunikasi melalu media sosial atau interaksi langsung kerap kali memicu emosi, sehingga seseorang mudah terpancing untuk membalas keburukan dengan keburukan yang serupa atau bahkan lebih jahat.
Sikap provokatif dari pihak lain sering kali dijadikan alasan untuk melegitimalisasi tindakan anarkis, umpatan, atau caci maki.
Fenomena ini menunjukkan menipisnya sifat rifq (kelembutan dan kesantunan) dalam mengelola konflik sehari-hari.

Dalam situasi demikian, hadits riwayat أم المؤمنين عائشة radhiyallahu 'anha ini hadir sebagai penawar spiritual dan panduan etika yang sangat fundamental.
Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus merespons provokasi, kejahatan, dan tutur kata buruk dari pihak lain dengan tetap menjaga kontrol diri dan kelembutan.
Mempelajari dan memahami hadits ini sangat krusial agar kita tidak terbawa arus emosi negatif lingkungan, serta mampu meneladani keagungan akhlak Rasulullah ﷺ dalam berinteraksi dengan siapa pun, termasuk pihak yang memusuhi kita.

2. Matan Hadits

Dari أم المؤمنين عائشة radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ didatangi oleh sekelompok kaum Yahudi, lalu kejadian tersebut diriwayatkan sebagai berikut:

أنَّ يَهودَ أتَوُا النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقالوا: السَّامُ علَيكُم، فقالت عائِشةُ: علَيكُم، ولَعَنَكُمُ اللهُ، وغَضِبَ اللهُ علَيكُم. قال: مَهلًا يا عائِشةُ، عليكِ بالرِّفقِ، وإيَّاكِ والعُنفَ والفُحشَ، قالت: أولَم تَسمَعْ ما قالوا؟ قال: أولَم تَسمَعي ما قُلتُ؟ رَدَدتُ عليهم، فيُستَجابُ لي فيهم، ولا يُستَجابُ لهم فيَّ.

Bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ lalu mereka berkata: "As-Saamu 'alaikum (kebinasaan/kematian atas kalian)." Maka Aisha radhiyallahu 'anha menjawab: "Atas kalian juga, dan semoga Allah melaknat kalian serta murka kepada kalian!" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tenanglah wahai Aisha, hendaknya engkau berlaku lembut, dan jauhilah sikap kasar serta tutur kata yang kotor/keji." Aisha berkata: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?" Beliau bersabda: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku telah membalasnya kepada mereka, maka doaku dikabulkan atas mereka, sedangkan doa mereka tidak dikabulkan atas diriku."

HR. Bukhari (6030), dan Muslim (2165).

3. Syarah per Perkataan

Perkataan 1: Ucapan Salam yang Dipelintir oleh Kaum Yahudi

a. Teks dan makna

فقالوا: السَّامُ علَيكُم

Lalu mereka berkata: "Kehancuran/kematian atas kalian."

b. Penjelasan makna per kata

Kata as-saam (السَّامُ) dalam bahasa Arab bermakna al-maut (الموت) yaitu kematian atau kebinasaan.
Kaum Yahudi menggunakan permainan kata yang menyerupai ucapan salam Islam 'As-Salaamu 'alaikum' (السَّلامُ علَيكُم) dengan menyamarkan kata as-salaam menjadi as-saam untuk mendoakan keburukan dan kematian bagi Rasulullah ﷺ secara terselubung.
Tindakan ini mencerminkan kedengkian dan tipu daya dalam bertutur kata.
Hal ini menjadi gambaran nyata bagaimana kebatilan sering dikemas secara samar untuk menyakiti umat Islam.

c. Dalil Al-Quran Penguat

Perilaku kaum Yahudi yang memutarbalikkan kata-kata ini telah diabadikan dan dicela oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur'an:

مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ

Di antara orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar tetapi kami membangkang," dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang engkau tidak mendengar apa-apa, dan (mereka mengatakan): "Raa'ina" dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.

QS. An-Nisa [4]: 46.

Imam Ibn Katsir merinci dalam tafsirnya bahwa kebiasaan memutarbalikkan kata-kata (layyan bi-alsinatihim) adalah karakter buruk yang bertujuan untuk mengejek dan mencela agama secara tersembunyi[1].
Penjelasan mengenai tipu daya kata ini membawa kita pada respons sahabat terhadap ucapan tersebut.

d. Dalil Hadits Penguat

Untuk memperjelas latar belakang tindakan tersebut, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan para sahabat dalam riwayat lain:

إنَّ اليَهُودَ إذَا سَلَّمُوا عَلَيْكُمْ فإنَّما يَقُولُ أحَدُهُمُ: السَّامُ عَلَيْكَ، فَقُلْ: وعَلَيْكَ

Sesungguhnya apabila kaum Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, hanyasanya salah seorang dari mereka mengucapkan: "As-Saamu 'alaik" (kebinasaan atasmu), maka katakanlah: "Wa 'alaik" (dan atasmu juga).

HR. Bukhari (6257) dan Muslim (2164), dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Hadits di atas menegaskan pembatasan dalam merespons ucapan salam dari pihak yang memusuhi atau berniat buruk.
Dari pemahaman ini, kita dapat menarik simpul pelajaran dari perkataan pertama.

e. Pelajaran dari Perkataan 1

Seseorang harus waspada terhadap tipu daya bahasa dan provokasi terselubung, serta tidak boleh terkecoh oleh bentuk luar perkataan yang sepintas terlihat baik namun menyimpan maksud jahat.

Perkataan 2: Pembelaan dan Emosi Aisha Radhiyallahu 'Anha

a. Teks dan makna

فقالت عائِشةُ: علَيكُم، ولَعَنَكُمُ اللهُ، وغَضِبَ اللهُ علَيكُم

Maka Aisha berkata: "Atas kalian juga, dan semoga Allah melaknat kalian serta murka kepada kalian!"

b. Penjelasan makna per kata

Spontanitas ام المؤمنين عائشة radhiyallahu 'anha merespons dengan menambah doa laknat (la'anahumullah) dan murka Allah (ghadhiballahu 'alaikim) didasari oleh rasa cemburu dan pembelaan yang sangat kuat terhadap diri Rasulullah ﷺ.
La'nah berarti dijauhkan dari rahmat Allah, sedangkan ghadhab adalah murka-Nya.
Respons emosional ini lahir dari kecintaan yang mendalam, meskipun dalam konteks hukum kelayakan balasan, hal tersebut melebihi batas dari apa yang diucapkan lawan.
Keterangan ini mengarahkan perhatian kita pada prinsip keadilan dalam Al-Qur'an.

c. Dalil Al-Quran Penguat

Al-Qur'an memberikan garis panduan tegas mengenai batas membalas kejahatan agar tidak melampaui batas:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.

QS. Asy-Syura [42]: 40.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menetapkan tingkatan balasan: adil (membalas setimpal), utama (memaafkan), dan zalim (membalas melebihi kejahatan yang diterima)[2].
Kejelmaan aturan ini ditegaskan pula dalam petunjuk hadits Nabi ﷺ.

d. Dalil Hadits Penguat

Rasulullah ﷺ melarang sikap melampaui batas dalam pertikaian sebagaimana disebutkan dalam hadits lain:

المُسْتَبَّانِ ما قالا فَعَلَى الأَوَّلِ، حتَّى يَعْتَدِيَ المَظْلُومُ

Dua orang yang saling mencaci, maka dosa apa yang mereka ucapkan adalah ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi tidak melampaui batas.

HR. Muslim (2587), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang dizalimi akan kehilangan hak kebenarannya jika ia membalas dengan melampaui batas.
Hal ini melandasi hikmah penting dari sikap Aisha radhiyallahu 'anha.

e. Pelajaran dari Perkataan 2

Rasa cinta dan niat membela kebenaran harus tetap dikendalikan oleh syariat, tidak boleh melampiaskan emosi hingga melampaui batas kesetimpalannya.

Perkataan 3: Teguran Nabi ﷺ dan Perintah Berlaku Lembut

a. Teks dan makna

قال: مَهلًا يا عائِشةُ، عليكِ بالرِّفقِ، وإيَّاكِ والعُنفَ والفُحشَ

Beliau bersabda: "Tenanglah wahai Aisha, hendaknya engkau berlaku lembut, dan jauhilah sikap kasar serta tutur kata yang kotor/keji."

b. Penjelasan makna per kata

Kata mahlan (مَهْلًا) adalah kalimat untuk menenangkan atau memperingatkan agar memperlambat tempo emosi.
Al-Rifq (الرِّفق) bermakna kelembutan, keluwesan, dan kemudahan dalam berurusan.
Sebaliknya, al-'unf (العُنْف) adalah sikap kasar dan terburu-buru, sedangkan al-fuhsy (الفُحْش) adalah perkataan atau perbuatan yang melampaui batas keji/kotor.
Nabi ﷺ memerintahkan untuk memegang teguh sifat rifq dan menjauhi kekasaran.
Prinsip ini selaras dengan arahan Ilahi dalam dakwah dan interaksi.

c. Dalil Al-Quran Penguat

Allah ﷻ memuji kelembutan Rasulullah ﷺ sebagai rahmat yang menyatukan hati manusia:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.

QS. Ali 'Imran [3]: 159.

Imam al-Qurtubi menafsirkan bahwa al-lin (kelembutan) adalah kunci keberhasilan kepemimpinan dan dakwah, sementara sikap fadh-dhan (kasar) menjauhkan simpati manusia[3].
Hal ini sejalan dengan berbagai penegasan Nabi ﷺ mengenai keutamaan kelembutan.

d. Dalil Hadits Penguat

Keutamaan sifat rifq ditegaskan dalam riwayat shahih lainnya:

إنَّ الرِّفْقَ لا يَكونُ في شيءٍ إلَّا زانَهُ، ولا يُنْزَعُ مِن شيءٍ إلَّا شانَهُ

Sungguh, tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.

HR. Muslim (2594), dari Aisha radhiyallahu 'anha.

Hadits ini menjadi kaidah universal bahwa kelembutan memperindah segala tindakan.
Keindahan prinsip ini memberikan kesimpulan berharga.

e. Pelajaran dari Perkataan 3

Kelembutan adalah perhiasan utama seorang muslim dalam merespons keburukan, sedangkan kekasaran dan kata-kata kotor hanya akan merusak kebenaran yang dibawanya.

Perkataan 4: Konfirmasi Aisha dan Penjelasan Strategi Nabi ﷺ

a. Teks dan makna

قالت: أولَم تَسمَعْ ما قالوا؟ قال: أولَم تَسمَعي ما قُلتُ؟ رَدَدتُ عليهم، فيُستَجابُ لي فيهم، ولا يُستَجابُ لهم فيَّ

Aisha berkata: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?" Beliau bersabda: "Apakah engkau tidak mendengar apa yang aku katakan? Aku telah membalasnya kepada mereka, maka doaku dikabulkan atas mereka, sedangkan doa mereka tidak dikabulkan atas diriku."

b. Penjelasan makna per kata

Aisha radhiyallahu 'anha mengira Nabi ﷺ tidak menyadari penghinaan terselubung tersebut.
Namun Nabi ﷺ memberikan pelajaran diplomasi dan spritual yang luar biasa: cukup menjawab Wa 'alaikum (dan atas kalian juga).
Dengan ucapan ringkas dan elegan ini, doa keburukan kaum Yahudi berbalik kepada diri mereka sendiri (fayustajaabu lii fiihim), tanpa harus mengotori lisan dengan celaan, caci maki, atau emosi yang meluap-luap.
Ini merupakan kemenangan etis dan spiritual.
Konsep respons elegan ini berakar kuat dalam Al-Qur'an.

c. Dalil Al-Quran Penguat

Allah ﷻ mengajarkan sifat hamba-hamba-Nya (Ibaadur Rahman) dalam menghadapi provokasi orang-orang jahil:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan "salam" (kata-kata yang menyelamatkan).

QS. Al-Furqan [25]: 63.

Ibnu Jarir at-Tabari menjelaskan bahwa qaaluu salaaman bermakna menjawab dengan kata-kata yang membebaskan diri mereka dari dosa dan ketidaksopanan, bukan dengan membalas kebodohan serupa[4].
Kebijaksanaan ini tercermin sempurna dalam tindakan Rasulullah ﷺ.

d. Dalil Hadits Penguat

Kebijaksanaan membalas keburukan dengan kebaikan atau kesabaran ditegaskan pula dalam hadits riwayat lain:

ليسَ الشَّديدُ بالصُُّرَعَةِ، إنَّما الشَّديدُ الَّذي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.

HR. Bukhari (6114) dan Muslim (2609), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Penguasaan diri saat menghadapi provokasi adalah cerminan kekuatan jiwa yang hakiki.
Pelajaran akhir dari perkataan ini melengkapi kajian syarah.

e. Pelajaran dari Perkataan 4

Membalas kejahatan atau provokasi tidak membutuhkan kata-kata kasar; jawaban yang terukur, tenang, dan menyerahkan keputusan kepada Allah jauh lebih efektif serta diijabah.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Kontrol Emosi dan Etika Menjawab Provokasi

Seorang muslim dituntut untuk memiliki kendali diri (self-control) yang tinggi.
Ketika berhadapan dengan ujaran kebencian, hate speech, atau provokasi media sosial, respons terbaik bukanlah membalas dengan caci maki serupa.
Menggunakan frasa balasan yang terukur dan legal tanpa melanggar batasan syariat menjaga martabat diri dan menjaga kemurnian jiwa dari sifat fuhsy (keji).

Faedah 2: Keutamaan Sifat Rifq (Kelembutan) dalam Kehidupan

Sifat rifq merupakan prinsip dasar dalam bertindak.
Baik dalam keluarga, masyarakat, maupun organisasi, pendekatan yang lembut dan bijaksana selalu mendatangkan hasil yang lebih sustainabel daripada metode kekerasan ('unf).
Kelembutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan simbol kematangan iman dan kedewasaan spiritual.

Faedah 3: Kewajiban Mengoreksi Kekeliruan Orang Terdekat

Tindakan Rasulullah ﷺ menegur Aisha radhiyallahu 'anha menunjukkan bahwa rasa cinta tidak boleh menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran dan menegur kesalahan orang terdekat.
Teguran tersebut dilakukan dengan penuh kasih sayang dan pengajaran (tarbiyah), bukan untuk merendahkan.

5. Penutup

Syarah Hadits dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Dalam ranah ekonomi syariah dan fikih muamalah, prinsip rifq (kelembutan) serta larangan fuhsy dan 'unf menjadi fondasi etika bisnis dan penyelesaian sengketa (dispute resolution).
Dalam transaksi muamalah, negosiasi yang keras, intimidatif, atau menggunakan klausul yang menindas ('unf) bertentangan dengan semangat kesukarelaan (an taraadhin).

Ketika terjadi penunggakan utang atau wanprestasi, pihak kreditur atau lembaga keuangan syariah diperintahkan untuk mengedepankan pendekatan rifq dalam penagihan (stricter debt collection procedures harus tetap menjunjung martabat kemanusiaan).
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah merahmati seseorang yang ramah dan mudah ketika menjual, membeli, dan menagih haknya" (HR. Bukhari no. 2076).
Selain itu, persaingan bisnis syariah melarang penggunaan tuduhan palsu atau provokasi (najasy) untuk merusak reputasi pesaing.
Respons terhadap kecurangan atau persaingan tidak sehat harus dilakukan melalui jalur hukum yang sah dan etis tanpa menggunakan cara-cara kotor.

Syarah Hadits dari Perspektif Dakwah dan Komunikasi Publik

Dari sudut pandang ilmu dakwah dan komunikasi publik, hadits ini memberikan matriks penting dalam pengelolaan krisis komunikasi.
Da'i atau lembaga Islam sering kali menjadi sasaran narasi negatif atau stigma dari pihak luar.
Hadits ini mengajarkan bahwa strategi merespons narasi miring tidak boleh didasari oleh reaksi emosional (reactive anger) yang justru memperburuk citra Islam.

Penggunaan bahasa yang tegas namun sopan, terukur, serta menghindari penyebaran kebencian balik (counter-hatred) adalah strategi komunikasi terbaik.
Rasulullah ﷺ menunjukkan efisiensi pesan: cukup dengan kebenaran yang ringkas (wa 'alaikum) tanpa perlu menambah eskalasi konflik.
Ini membangun narasi bahwa Islam adalah agama yang bermartabat, tenang dalam mengendalikan krisis, dan tidak mudah terpancing oleh provokasi yang dirancang untuk merusak citranya.

6. Tanya Jawab

P: Apakah larangan bersikap kasar dan mendoakan keburukan dalam hadits ini berarti seorang muslim harus pasif dan tidak boleh membela diri saat dizalimi?

J: Tidak, larangan dalam hadits ini bukan bentuk kepasifan, melainkan petunjuk agar pembelaan diri dilakukan secara adil dan tidak melampaui batas syariat.
Islam membolehkan membela diri atau menuntut hak yang setimpal, namun melarang pembalasan yang melebihi kadar kejahatan yang diterima atau menggunakan cara-kata keji (fuhsy).
Allah ﷻ berfirman:

لَّا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terang-terangan kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

QS. An-Nisa [4]: 148.

Sebagaimana dijelaskan pada Perkataan 2, pembelaan diri diperbolehkan sebatas menuntut keadilan, namun membalas dengan umpatan kotor atau melaknat secara berlebihan justru menghilangkan keutamaan dan pahala kesabaran.

P: Bagaimana cara menerapkan jawaban "Wa 'alaikum" pada masa sekarang ketika kita menerima pesan singkat atau komentar negatif di media sosial?

J: Penerapan teknisnya adalah dengan memberikan respons yang terukur, tenang, dan tidak emosional.
Kita bisa membalas dengan kata-kata netral yang menegaskan posisi kita tanpa ikut mencaci, atau memblokir/melaporkan akun tersebut jika sudah masuk ranah pelanggaran hukum.
Allah ﷻ berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara engkau dan dia akan seperti teman yang setia.

QS. Fussilat [41]: 34.

Langkah terbaik adalah menjaga agar jemari dan tutur kata kita tidak terjerat dosa yang sama dengan pelaku provokasi.

7. Catatan Akhir dan Daftar Pustaka (Maraji')

Catatan Akhir

Seluruh catatan akhir dan atribusi pendapat ulama dalam naskah ini tercantum secara otomatis sebagai rujukan pustaka bernomor.

Daftar Pustaka (Maraji')

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Jami' as-Shahih (Shahih al-Bukhari). Beirut: Dar Thawq an-Najah, 1422 H.

Al-Qurtubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964.

As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Beirut: Muassasatur Risalah, 2000.

At-Tabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Beirut: Muassasatur Risalah, 2000.

Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azim. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999.

Muslim, Ibn al-Hajjaj al-Naisaburi. Al-Musnad as-Shahih (Shahih Muslim). Beirut: Dar Ihya at-Turats al-'Arabi, 1955.


1 Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Dar Thayyibah, 1999, Vol. 2, hlm. 317. ↩

2 Abdurrahman as-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Muassasatur Risalah, 2000, hlm. 760. ↩

3 Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964, Vol. 4, hlm. 249. ↩

4 Ibnu Jarir at-Tabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, Muassasatur Risalah, 2000, Vol. 19, hlm. 288. ↩

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.