Hadits: Kedzaliman Sekecil Apapun Akan Dibalas Di Akhirat
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ
يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita perhatikan bahwa masyarakat kita saat ini semakin mudah melukai satu sama lain? Di era media sosial, berapa banyak hati yang terluka karena komentar pedas, tuduhan tidak berdasar, atau gosip yang menyebar tanpa kendali? Berapa banyak persaudaraan yang rusak karena perselisihan harta warisan? Berapa banyak keluarga yang terpecah karena keegoisan dan ketidakadilan dalam memperlakukan anggota keluarga?
Fenomena kezaliman antarsesama tampak semakin meningkat di tengah masyarakat kita. Kita menyaksikan bagaimana orang dengan mudahnya menghina dan mencela orang lain di media sosial. Kita melihat bagaimana pertikaian harta bisa memutus tali persaudaraan yang sudah terjalin puluhan tahun. Kita menyaksikan bagaimana orang-orang begitu sulit mengucapkan kata "maaf" ketika berbuat salah, dan lebih memilih untuk mempertahankan ego daripada memperbaiki hubungan.
Lebih memprihatinkan lagi, banyak dari kita yang menganggap enteng persoalan ini. Kita sering berpikir, "Ah, tidak apa-apa, nanti juga lupa sendiri," atau "Biarkan saja, tidak usah dipikirkan." Kita lupa bahwa setiap kezaliman yang kita lakukan akan dicatat dengan teliti dan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta'ala.
Hadirin sekalian,
Inilah yang membuat kajian kita hari ini begitu penting dan mendesak. Kita akan membahas hadits Rasulullah SAW yang mengajarkan tentang bahaya kezaliman dan pentingnya menyelesaikan urusan antarmanusia sebelum terlambat. Hadits yang akan kita kaji berbicara tentang bagaimana Allah mengharamkan kezaliman, bahkan atas diri-Nya sendiri, dan bagaimana konsekuensi dari perbuatan zalim akan dibayar mahal di akhirat nanti.
Dalam kajian ini, kita akan bersama-sama:
-
Memahami bentuk-bentuk kezaliman yang mungkin tanpa sadar telah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui perkataan maupun perbuatan.
-
Menggali konsekuensi serius dari kezaliman yang tidak diselesaikan di dunia, di mana kebaikan-kebaikan kita bisa terampas untuk membayar kezaliman tersebut.
-
Mempelajari langkah-langkah praktis untuk meminta maaf dan menyelesaikan perselisihan dengan cara yang diridhai Allah.
-
Membangun kesadaran tentang pentingnya hidup dengan keadilan dan kasih sayang terhadap sesama muslim.
-
Merenungkan bagaimana sistem keadilan Allah di akhirat bekerja, di mana tidak ada uang yang bisa menyelamatkan kita, yang ada hanyalah amalan baik dan buruk.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di akhir kajian ini, insya Allah kita akan pulang dengan bekal yang berharga: kesadaran yang lebih mendalam tentang bahaya kezaliman, tekad untuk menyelesaikan perselisihan yang mungkin masih tersisa dengan saudara-saudara kita, dan keberanian untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat. Kita juga akan memahami betapa berharganya menjaga hubungan baik dengan sesama, karena hal itu tidak hanya memberikan kedamaian di dunia tetapi juga keselamatan di akhirat.
Mari kita buka hati dan pikiran kita untuk merenungkan pesan Rasulullah SAW dalam hadits ini. Semoga dengan kajian ini, Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang adil, yang cepat meminta maaf ketika berbuat salah, dan mudah memaafkan ketika dizalimi.
Tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai kajian kita dengan membahas hadits Nabi Muhammad SAW tentang kezaliman yang berbunyi:
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا،
فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ
لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ
سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
Barangsiapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya,
hendaklah ia meminta pembebasan darinya (meminta maaf), karena sesungguhnya (di
akhirat nanti) tidak ada dinar dan dirham, sebelum diambil untuk saudaranya
dari kebaikan-kebaikannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil
dari keburukan-keburukan saudaranya lalu ditimpakan kepadanya.
HR Al-Bukhari (6534)
mendengarkan mp3 hadits ini: https://t.me/mp3qhn/339
Arti Per
Kalimat
مَن كانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ
Barang siapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya
Maksudnya adalah seseorang yang
telah melakukan ketidakadilan terhadap saudaranya sesama Muslim, baik dalam
bentuk perkataan, perbuatan, atau tindakan yang merugikan hak saudaranya.
فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْها
Maka hendaklah ia meminta halal darinya
Artinya, orang yang berbuat zalim
harus meminta kerelaan dan maaf dari orang yang dizaliminya sebelum datang hari
kiamat. Ini menunjukkan pentingnya menyelesaikan permasalahan kezaliman di
dunia sebelum pembalasan akhirat.
فإنَّه ليسَ ثَمَّ دِينارٌ ولا دِرْهَمٌ
Karena di sana tidak ada dinar maupun dirham
Mengisyaratkan bahwa di akhirat
tidak ada transaksi materi seperti di dunia. Di dunia, seseorang dapat membayar
ganti rugi dengan uang, tetapi di akhirat tidak ada harta yang bisa digunakan
untuk menebus dosa.
مِن قَبْلِ أنْ يُؤْخَذَ لأخِيهِ مِن
حَسَناتِهِ
Sebelum diambil dari pahala amal salehnya untuk saudaranya itu
Jika seseorang tidak meminta maaf di
dunia, maka di akhirat hak orang yang dizalimi akan diberikan dengan cara
mengambil pahala kebaikan dari orang yang menzaliminya.
فإنْ لَمْ يَكُنْ له حَسَناتٌ
Jika ia tidak memiliki pahala
Jika orang yang menzalimi itu tidak
memiliki pahala yang cukup karena telah habis diambil oleh orang-orang yang ia
zalimi, maka akan ada konsekuensi lain yang lebih berat.
أُخِذَ مِن سَيِّئاتِ أخِيهِ فَطُرِحَتْ عليه
Maka dosa-dosa saudaranya akan diambil dan dilemparkan kepadanya
Artinya, jika pahala orang yang zalim sudah habis, maka
dosa-dosa orang yang dizalimi akan dialihkan kepadanya, sehingga ia semakin
berat tanggungannya di akhirat.
Syarah Hadits
حَرَّمَ اللهُ تَعَالَى الظُّلْمَ عَلَى
نَفْسِهِ
Allah
Ta'ala mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri,
وَجَعَلَهُ مُحَرَّمًا بَيْنَ عِبَادِهِ
dan
menjadikannya haram di antara hamba-hamba-Nya,
وَتَوَعَّدَ الظَّالِمِينَ بِالْقِصَاصِ
مِنْهُمْ وَالْعَذَابِ
serta
mengancam orang-orang zalim dengan pembalasan dan azab.
فَإِنْ أَفْلَتَ الظَّالِمُ فِي الدُّنْيَا
بِظُلْمِهِ
Jika
seorang zalim lolos di dunia dengan kezalimannya,
فَلَا مَفَرَّ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا
مَلْجَأَ لَهُ مِنَ اللهِ
maka
pada hari kiamat tidak ada tempat lari dan tidak ada perlindungan baginya dari
Allah,
حَيْثُ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
pada
hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ يَأْمُرُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dalam
hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan
كُلَّ مَنْ ظَلَمَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي
عِرْضِهِ
setiap
orang yang menzalimi saudaranya sesama Muslim dalam kehormatannya,
بِالذَّمِّ وَالْقَدْحِ
dengan
mencelanya atau menjelek-jelekkannya,
سَوَاءٌ كَانَ فِي نَفْسِ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ
baik
dalam diri saudaranya yang Muslim,
أَوْ أَصْلِهِ كَأَبِيهِ وَأُمِّهِ
atau
dalam asal-usulnya, seperti ayah dan ibunya,
أَوْ فَرْعِهِ كَابْنِهِ وَابْنَتِهِ
atau
dalam keturunannya, seperti anak laki-laki dan anak perempuannya,
أَوْ ظَلَمَهُ فِي شَيْءٍ آخَرَ
كَالْأَمْوَالِ وَالْجِرَاحَاتِ وَغَيْرِهَا
atau
menzaliminya dalam hal lain seperti harta, luka fisik, dan sebagainya,
أَنْ يَتَحَلَّلَهُ
agar
meminta halal kepadanya,
يَعْنِي: يَطْلُبَ مِنْهُ أَنْ يُحِلَّهُ
وَيُسَامِحَهُ الْيَوْمَ فِي أَيَّامِ الدُّنْيَا
yaitu
meminta agar ia menghalalkan dan memaafkannya pada hari-hari di dunia ini,
قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
sebelum
datang hari kiamat,
حَيْثُ لَا دِينَارَ مِنْ ذَهَبٍ وَلَا
دِرْهَمَ مِنْ فِضَّةٍ يَدْفَعُهُ لِمَنْ ظَلَمَهُ لِيَفْدِيَ بِهِ نَفْسَهُ
di
mana tidak ada dinar emas atau dirham perak yang bisa diberikan kepada orang
yang dizaliminya untuk menebus dirinya.
إِذِ الْقِصَاصُ يَوْمَهَا بِالْحَسَنَاتِ
وَالسَّيِّئَاتِ
Karena
pada hari itu, pembalasan dilakukan dengan pahala dan dosa.
بِأَنْ يُؤْخَذَ هَذَا الْمَظْلُومُ مِمَّنْ
ظَلَمَهُ مِنْ ثَوَابِ عَمَلِهِ الصَّالِحِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dengan
cara, orang yang dizalimi akan mengambil pahala dari amal saleh orang yang
menzaliminya pada hari kiamat,
بِقَدْرِ مَظْلِمَتِهِ الَّتِي ظُلِمَهَا
sebanding
dengan kezalimannya yang telah dilakukan terhadapnya.
فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلظَّالِمِ حَسَنَاتٌ
Jika
orang yang zalim tidak memiliki pahala,
وُضِعَ مِنْ سَيِّئَاتِ هَذَا الْمَظْلُومِ
عَلَى الظَّالِمِ
maka
dosa-dosa orang yang dizalimi akan dialihkan kepada orang yang menzaliminya.
Maraji:
https://dorar.net/hadith/sharh/16325
Pelajaran dari Hadits ini
Hadits ini secara keseluruhan memberikan peringatan keras tentang betapa seriusnya kezaliman dalam pandangan Islam, sambil menekankan perlunya menyelesaikan perselisihan dan meminta maaf selagi masih hidup di dunia. Ini menjadi pengingat kuat untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain dan menjauhkan diri dari segala bentuk kezaliman. Berikut adalah pelajaran-pelajaran yang dapat diambil:
1. Kezaliman Diharamkan oleh Allah
- Allah Ta'ala sendiri mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
- Allah menetapkan kezaliman sebagai sesuatu yang haram di antara manusia, menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi keadilan.
2. Konsekuensi Kezaliman
- Para pelaku kezaliman telah diancam dengan pembalasan dan azab.
- Meskipun seseorang mungkin bisa lolos dari konsekuensi kezalimannya di dunia, tidak ada jalan untuk melarikan diri dari perhitungan Allah di akhirat.
- Pada hari kiamat, tidak ada tempat berlindung dari keadilan Allah.
- Harta dan keturunan tidak akan bermanfaat sebagai perlindungan dari pembalasan atas kezaliman.
3. Bentuk-bentuk Kezaliman yang Harus Dihindari
- Kezaliman terhadap kehormatan seseorang melalui celaan dan hinaan.
- Kezaliman terhadap pribadi seseorang langsung.
- Kezaliman dengan menghina atau mencela orang tua atau keluarga seseorang.
- Kezaliman dengan menghina atau mencela anak-anak seseorang.
- Kezaliman dalam bentuk material seperti merampas harta.
- Kezaliman dengan menyebabkan cedera fisik atau luka-luka.
4. Urgensi Meminta Maaf di Dunia
- Sangat penting untuk menyelesaikan perselisihan dan ketidakadilan selama masih hidup di dunia.
- Meminta pembebasan (meminta maaf) dari orang yang kita zalimi adalah kewajiban.
- Harus berusaha mendapatkan maaf dari orang yang dizalimi sebelum datangnya hari kiamat.
5. Sistem Keadilan di Akhirat
- Di akhirat, tidak ada transaksi dengan uang (dinar emas atau dirham perak).
- Pembalasan di akhirat berdasarkan "mata uang" kebaikan dan keburukan.
- Orang yang dizalimi akan diberi keadilan dengan mengambil dari kebaikan-kebaikan orang yang menzaliminya.
- Jika kebaikan orang yang menzalimi tidak cukup, maka keburukan orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya.
6. Pentingnya Menjaga Amalan Kebaikan
- Kezaliman terhadap orang lain dapat menghapus amalan baik yang telah kita kumpulkan.
- Kebaikan yang kita kumpulkan sepanjang hidup bisa hilang karena kezaliman yang kita lakukan.
7. Tanggung Jawab Pribadi
- Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya dan akan dihisab atas kezaliman yang dilakukannya.
- Tidak ada orang lain yang dapat menanggung beban kezaliman yang kita lakukan.
8. Nilai Keadilan dalam Islam
- Hadits ini menekankan bahwa keadilan adalah prinsip fundamental dalam Islam.
- Allah sendiri akan memastikan keadilan ditegakkan, bahkan jika hal itu tidak terjadi di dunia.
9. Urgensi Mempertahankan Hubungan Baik dengan Sesama
- Menjaga hubungan baik dengan orang lain adalah investasi untuk akhirat.
- Konflik dan perselisihan yang tidak diselesaikan di dunia akan membawa konsekuensi serius di akhirat.
10. Lebih Baik Memaafkan daripada Menuntut Balas
- Secara implisit, hadits ini menunjukkan keunggulan memaafkan kesalahan orang lain.
- Bagi yang dizalimi, memaafkan dapat menyelamatkan orang yang zalim dari konsekuensi berat di akhirat.
Penutup
Kajian
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,
Setelah kita membahas hadis Rasulullah ﷺ tentang pentingnya menyelesaikan kezaliman di dunia sebelum datangnya hari kiamat, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan utama:
- Kezaliman sekecil apa pun akan mendapatkan balasan di akhirat jika tidak diselesaikan di dunia. Setiap hak yang terzalimi akan dikembalikan, dan di sana tidak ada dinar atau dirham untuk menebusnya, melainkan pahala dan dosa yang menjadi alat pembayaran.
- Meminta maaf dan meminta kehalalan dari orang yang telah kita zalimi adalah keharusan sebelum ajal menjemput. Jangan menunda-nunda, karena kita tidak tahu kapan Allah akan mencabut nyawa kita.
- Bahaya kezaliman bagi pelakunya sangat besar. Jika pahala seseorang habis karena harus diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya, maka ia akan menanggung dosa-dosa mereka, yang akan semakin memberatkannya di akhirat.
Nasihat dan Saran
Oleh karena itu, marilah kita berintrospeksi. Jika kita pernah menzalimi saudara kita, baik dengan perkataan, perbuatan, atau hak yang belum kita tunaikan, segera meminta maaf dan meminta kehalalan. Jangan menunggu hingga terlambat, karena di akhirat tidak ada lagi kesempatan untuk berdamai.
Bagi kita yang pernah dizalimi, hendaknya memiliki sifat pemaaf dan tidak menyimpan dendam, karena Allah mencintai hamba-Nya yang memaafkan. Namun, jika ada hak yang harus dikembalikan, maka menuntut keadilan juga merupakan bagian dari syariat.
Harapan untuk Para Peserta Kajian
Semoga kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama, tidak menzalimi orang lain, dan segera meminta maaf jika melakukan kesalahan. Mari kita perbaiki diri, agar saat menghadap Allah nanti, kita dalam keadaan bersih dari hutang kezaliman kepada manusia.
Akhir kata, semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, menjauhkan kita dari kezaliman, dan mengampuni dosa-dosa kita.
Kita tutup dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.