Khutbah: Doa Dikabulkan Selagi Tidak Terburu-Buru
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Khutbah Doa Dikabulkan Selagi Tidak Terburu-Buru
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ
رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا
عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُونَ.
Kaum Muslimin yang Dirahmati
ALLAH,
Segala puji hanyalah milik ALLAH, Rabb semesta alam yang
telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga
pada hari yang mulia ini kita dapat berkumpul di rumah-Nya untuk melaksanakan
ibadah shalat Jumat.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan
kita, Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan
seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dirahmati ALLAH,
Pernahkah kita merasa bahwa hidup kita hari ini berjalan
seperti di atas mesin treadmill yang kecepatannya terus ditambah oleh
keadaan?
Kita sedang berada dalam sebuah tatanan masyarakat yang
menuntut segalanya serba instan—sebuah era yang oleh para sosiolog disebut
sebagai 'The Culture of Immediacy' atau budaya serba seketika.
Kecepatan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan telah
menjadi tolok ukur kesuksesan.
Di kantor, kita dikejar deadline yang ketat; di
jalan raya, kita tidak sabar ingin sampai lebih cepat; bahkan dalam komunikasi
harian, kita menuntut pesan singkat dibalas dalam hitungan detik.
Kita seolah terobsesi bahwa kesuksesan finansial dan
pencapaian karier harus diraih sebelum usia tertentu.
Namun sayangnya, tanpa kita sadari, ritme dunia yang serba
instan ini perlahan-lahan merembes masuk ke dalam ruang paling sakral dalam
hidup kita, yaitu doa.
Inilah fenomena yang memprihatinkan. Banyak dari kita yang
mulai kehilangan adab dalam mengetuk pintu langit.
Kita seringkali mendikte ALLAH agar mengabulkan keinginan
kita secepat kilat. Kita datang kepada ALLAH bukan lagi sebagai hamba yang
bersimpuh memohon, melainkan layaknya seorang pelanggan yang sedang melakukan
komplain keras karena pesanannya belum kunjung tiba.
Budaya terburu-buru ini, jika tidak dikelola dengan iman,
akan melahirkan "kelelahan spiritual" (spiritual burnout).
Dalam kehidupan beragama ..
Kita melihat banyak orang yang merasa sudah berhijrah,
sudah rajin shalat, dan sudah tak putus berdoa, namun kemudian mereka terjatuh
dalam keputusasaan yang dalam, … sembari berucap:
"Aku sudah berdoa, tapi ALLAH tidak mendengar. Aku
sudah meminta, tapi keadaan tidak berubah."
Kalimat-kalimat penuh keluhan inilah yang menjadi titik
awal hilangnya keberkahan hidup dan retaknya hubungan seorang hamba dengan Sang
Khalik.
Oleh karena itu, pada kesempatan khatib berdiri di mimbar
ini, kita akan membedah sebuah hadits yang sangat fundamental dari Sahih
Bukhari nomor 5865.
Hadits ini bukan sekadar larangan untuk tidak sabar,
melainkan sebuah 'SOP Langit' tentang bagaimana mekanisme pengabulan doa
sebenarnya bekerja.
Memahami urgensi hadits ini menjadi sangat
mendesak bagi kita semua karena tiga alasan utama:
Pertama, untuk menyelamatkan iman kita.
Agar di tengah ujian hidup yang berat, kita tidak terjebak
pada prasangka buruk (su’udzan) kepada ALLAH saat keinginan kita belum terpenuhi.
Kedua, sebagai manajemen stres.
Memahami rahasia di balik penundaan doa akan membuat jiwa
kita tetap tenang (calm) dan stabil, meski dunia di sekitar kita menuntut
kecepatan yang seringkali tidak masuk akal.
Ketiga, untuk memperbaiki orientasi hidup.
Kita perlu menyadari kembali bahwa apa yang kita anggap
terbaik menurut ambisi kita, belum tentu menjadi yang terbaik menurut Dia yang
menggenggam masa depan.
---
Mari kita buka hati dan pikiran kita. Kita akan membedah
mengapa sifat terburu-buru atau isti’jal justru bisa menjadi penghalang utama
antara kita dengan terkabulnya hajat-hajat kita di sisi ALLAH. Hadits ini
berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يُسْتَجَابُ
لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
"Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW
bersabda: Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kalian selagi ia tidak
terburu-buru, yaitu dengan berkata: Aku telah berdoa, namun tidak kunjung
dikabulkan untukku." (HR. Bukhari).
Arti dan Penjelasan Per
Kalimat
Kaum Muslimin yang Dimuliakan ALLAH,
Mari
kita selami makna setiap perkataan dalam hadits yang mulia ini. Setiap kalimat
di dalamnya mengandung hikmah yang luar biasa, membentuk pondasi adab yang
kokoh.
يُسْتَجَابُ
لِأَحَدِكُمْ
Akan dikabulkan bagi salah seorang di antara kalian
Perkataan ini menggunakan bentuk kata kerja pasif yang
memberikan jaminan kepastian bahwa pada dasarnya setiap doa memiliki sifat
dasar untuk dikabulkan oleh ALLAH.
Janji ini merupakan bentuk kasih sayang ALLAH agar
hamba-Nya tidak pernah merasa sia-sia dalam melakukan ibadah doa.
مَا لَمْ يَعْجَلْ
Selama ia tidak terburu-buru
Perkataan ini adalah syarat dalam etika berinteraksi
dengan Tuhan, yaitu tidak tergesa-gesa atau isti’jal.
Terburu-buru di sini bukan hanya soal fisik, melainkan
sikap batin yang menuntut hasil instan sebagaimana kita menuntut kecepatan
teknologi hari ini.
Keterburu-buruan seringkali merusak kualitas kehambaan kita
karena kita cenderung ingin mendikte waktu ALLAH dengan standar waktu kita yang
sangat terbatas.
يَقُولُ دَعَوْتُ
Seseorang berkata: "Aku telah berdoa"
Perkataan ini menggambarkan sikap seseorang yang mulai
menghitung-hitung jasanya di hadapan ALLAH dan merasa telah melakukan banyak
hal.
Ada jebakan ego di mana seseorang merasa bahwa setelah
melakukan ritual tertentu, maka ia berhak menagih hasil secara langsung.
فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
Namun tidak kunjung dikabulkan untukku
Perkataan
ini mencerminkan puncak dari keputusasaan dan prasangka buruk terhadap keadilan
Tuhan.
Kalimat
ini mengandung pengadilan sepihak dari hamba yang merasa bahwa ALLAH tidak
merespons kebutuhannya hanya karena keinginannya belum terwujud secara
lahiriah.
Penjabaran Pelajaran
Berdasarkan Urutan Perkataan
Kaum Muslimin yang Dirahmati ALLAH,
Setelah
kita menyelami makna setiap kalimat, marilah kita petik pelajaran-pelajaran
berharga yang terkandung di dalamnya.
Pelajaran pertama dari
hadits ini yaitu:
Kepastian Jawaban dari Sang Pencipta
Perkataan يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ adalah janji suci yang memberikan harapan
besar bagi setiap manusia bahwa tidak ada doa yang terbuang percuma di hadapan ALLAH.
Dalam kesibukan dunia kerja dan tekanan hidup perkotaan
yang sering kali membuat kita merasa sendirian, perkataan ini menegaskan bahwa
setiap bisikan hati kita didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keyakinan akan kepastian jawaban ini adalah energi utama
agar kita tetap optimis dalam menjalani hari-hari yang berat.
ALLAH telah menegaskan komitmen-Nya untuk menjawab setiap
seruan hamba-Nya melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an (QS. Ghafir: 60):
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ
لَكُمْ
(Artinya: Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.")
Pelajaran ke-2 dari hadits
ini, yaitu:
Menghindari Sikap Tergesa-gesa
Pelajaran kedua diambil dari perkataan مَا لَمْ يَعْجَلْ
yang artinya Selama ia tidak terburu-buru.
Di tengah gaya hidup masyarakat urban yang menuntut segala
sesuatu serba cepat dan instan, hadits ini memperingatkan kita untuk tidak
membawa mentalitas "serba cepat" tersebut ke dalam hubungan spiritual
kita dengan ALLAH.
Keterburuan atau isti’jal sering kali merusak
ketenangan batin karena kita merasa lebih tahu kapan waktu terbaik sebuah
keinginan harus terwujud.
Sikap ini justru menjadi penghalang bagi turunnya rahmat
karena mencerminkan kurangnya rasa percaya pada pengaturan ALLAH yang Maha
Bijaksana.
Sifat terburu-buru ini merupakan bagian dari kelemahan
manusia yang disebutkan dalam Al-Qur'an:
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ
بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
(Artinya: Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana
dia berdoa untuk kebaikan; dan memang manusia bersifat tergesa-gesa. QS.
Al-Isra: 11)
Pelajaran ke-3 dari hadits
ini, yaitu:
Menghapus Mentalitas Transaksional
Pelajaran ketiga bersumber dari perkataan يَقُولُ دَعَوْتُ
yang artinya Seseorang berkata: "Aku telah berdoa".
Kalimat ini memberikan peringatan halus agar kita tidak
merasa telah berjasa kepada ALLAH hanya karena kita sudah rajin beribadah atau
berdoa.
Banyak dari kita terjebak dalam pikiran bahwa karena kita
sudah menunaikan kewajiban, maka ALLAH "wajib" memberikan apa yang
kita mau saat itu juga.
Perkataan ini mengajarkan kita untuk kembali pada posisi
sebagai hamba yang butuh, bukan sebagai penagih hutang yang merasa memiliki hak
untuk mengatur Tuhan.
Kita harus ingat bahwa doa adalah bentuk pengabdian, bukan
sekadar alat untuk mendapatkan keinginan duniawi secara instan.
Pelajaran ke-4 dari hadits
ini, yaitu:
Bahaya Putus Desa dari Rahmat ALLAH
Pelajaran keempat terungkap dari perkataan فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي yang artinya Namun tidak kunjung
dikabulkan untukku.
Pelajaran ini menyoroti sikap negatif yang sering muncul
ketika hasil doa tidak sesuai dengan ekspektasi waktu yang kita tentukan
sendiri.
Merasa doa tidak dikabulkan adalah pintu masuk bagi setan
untuk membuat kita malas beribadah dan menjauh dari ALLAH.
Padahal, jawaban ALLAH bisa datang dalam berbagai bentuk:
langsung diberikan, dijauhkan dari musibah yang setara, atau disimpan sebagai
tabungan pahala di akhirat yang jauh lebih indah.
Rasulullah SAW menjelaskan berbagai bentuk pengabulan doa
dalam hadits lain:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ
يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ
(Artinya:
Tidaklah seorang muslim berdoa dengan sebuah doa yang tidak mengandung dosa
dan pemutusan silaturahmi,
إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ
kecuali ALLAH akan memberinya salah satu dari tiga perkara:
إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ
لَهُ دَعْوَتُهُ
disegerakan doanya,
وَإِمَّا أَنْ
يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ
disimpan baginya di akhirat,
وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ
عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا
atau dijauhkan darinya keburukan yang semisal dengannya.
HR. Ahmad)
Pelajaran ke-5 dari hadits
ini, yaitu:
Membangun Prasangka Baik kepada ALLAH
Pelajaran kelima yang melengkapi hadits ini adalah
pentingnya menjaga husnudzan atau prasangka baik kepada ALLAH dalam
setiap keadaan.
Meskipun hadits ini fokus pada larangan terburu-buru, makna
yang tersirat adalah perintah untuk selalu percaya bahwa pilihan ALLAH adalah
yang terbaik.
Di dunia modern yang penuh dengan ketidakpastian karier dan
ekonomi, memiliki prasangka baik kepada ALLAH adalah obat bagi kecemasan mental
yang kronis.
Percayalah bahwa jika ALLAH menunda sesuatu, itu
semata-mata karena Dia ingin memberikan sesuatu yang lebih matang dan lebih
berkah bagi kehidupan kita di masa depan.
ALLAH berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ
عَبْدِي بِي
(Artinya: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.
HR. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran ke-6 dari hadits ini, yaitu:
Penyucian Niat dan Keikhlasan
Pelajaran keenam menekankan bahwa doa yang tulus adalah doa
yang lahir dari keikhlasan tanpa pamrih yang berlebihan.
Terkadang, penundaan jawaban doa adalah cara ALLAH untuk
membersihkan niat kita agar kita mencintai ALLAH bukan karena apa yang Dia
berikan, melainkan karena Dia adalah Tuhan kita.
Dalam kehidupan urban yang penuh dengan kompetisi,
keikhlasan sering kali luntur oleh ambisi pribadi.
Hadits ini secara tidak langsung mendidik kita untuk tetap
konsisten berdoa meskipun belum melihat hasilnya, karena dalam proses menunggu
itulah keikhlasan dan kesabaran kita diuji dan ditingkatkan derajatnya.
Penutup Khutbah Pertama
Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan kita bahwa doa
bukan sekadar permohonan hasil, melainkan perjalanan penghambaan yang menuntut
kesabaran, adab, dan kepercayaan penuh kepada ALLAH.
Dengan menghindari sifat terburu-buru dan menjauhi
keputusasaan, kita menjaga keutuhan iman dan kesehatan mental di tengah tekanan
dunia.
ALLAH pasti mengabulkan doa setiap hamba dengan cara dan
waktu yang paling tepat menurut kebijaksanaan-Nya.
Keberkahan doa tidak hanya terletak pada apa yang kita
terima, tetapi pada ketenangan hati yang kita miliki saat berserah diri
sepenuhnya kepada ketetapan Sang Pencipta.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ
وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ
مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللّٰهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah
Jumat yang dimuliakan ALLAH,
Sebagai
penutup khutbah ini, mari kita resapi satu hal: Hadits dari Sahih Bukhari yang
kita bedah tadi bukanlah sekadar teks pelajaran, melainkan sebuah kompas bagi
kita yang hidup di dunia yang serba cepat ini.
Faedah
terbesar dari hadits ini adalah ia memberikan kita "napas panjang"
dalam beribadah.
Secara
keseluruhan, hadits ini mengajarkan bahwa doa adalah perjalanan penghambaan
yang menuntut kesabaran dan kepercayaan penuh kepada Allah.
Sebagai
aplikasi nyata, bagi Anda yang sedang berjuang di tempat kerja, jangan
terburu-buru menghakimi keadaan saat target terasa jauh. Tetaplah mengetuk
pintu langit dengan konsisten.
Dalam
keluarga, gantilah keluhan "tidak ada perubahan" dengan keyakinan
bahwa Allah sedang menyiapkan waktu yang paling tepat.
Jadikanlah
hadits ini sebagai perisai hati agar jiwa tetap tenang meski dunia menuntut
kecepatan yang tidak masuk akal.
Semoga
Allah menggolongkan kita sebagai hamba yang penyabar.
إِنَّ اللهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
وَأَقِمِ الصَّلاةَ