Hadits: Iman ada 70-an Cabang
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Para hadirin rahimakumullah,
Di tengah kehidupan masyarakat kita hari ini, kita sering mendapati sebuah kecenderungan yang cukup mengkhawatirkan: banyak yang membatasi makna iman hanya pada pengakuan lisan atau sekadar keyakinan dalam hati, tanpa menyadari bahwa iman yang sebenarnya adalah sesuatu yang hidup, yang menampakkan buahnya dalam tutur kata dan perbuatan. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menganggap bahwa amal kecil tidak ada nilainya dalam timbangan agama—sehingga amal-amal seperti membuang sampah dari jalan, bersikap sopan, atau sekadar menjaga rasa malu dianggap tidak berkaitan dengan keimanan. Akibatnya, masyarakat mulai melonggarkan adab, mengabaikan akhlak, dan memisahkan nilai iman dari laku keseharian.
Inilah mengapa hadits yang akan kita bahas hari ini sangat penting untuk dipahami. Hadits yang akan dikaji ini tidak hanya menjelaskan bahwa iman memiliki banyak dimensi, tetapi juga membentuk pola berpikir bahwa setiap amal yang kita lakukan, sekecil apapun, bisa bernilai besar di sisi Allah jika dilandasi iman.
Urgensi mempelajari hadits ini terletak pada fungsinya yang menyusun ulang pemahaman kita tentang apa itu iman secara utuh, serta menumbuhkan semangat dalam hati untuk merawat iman dalam setiap aspek kehidupan. Dengan memahami hadits ini, kita akan menyadari bahwa keimanan bukan hanya tentang shalat lima waktu atau puasa Ramadhan, tetapi juga tentang kejujuran dalam jual beli, kepedulian terhadap lingkungan, kelembutan kepada tetangga, dan bahkan rasa malu ketika hendak berbuat dosa.
Maka marilah kita bersama-sama merenungi hadits ini bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi agar iman kita benar-benar tumbuh, bercabang, dan berbuah dalam kehidupan nyata. Semoga kajian ini menjadi sebab bertambahnya iman kita, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
"وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ"
"Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka ketakwaan." (QS. Muhammad: 17)
Hadits dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الإِيمَانُ بِضْعٌ
وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ، شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ.
Iman itu terdiri atas lebih dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang. Maka cabang yang paling utama adalah ucapan “La ilaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah).
HR. Muslim (35)
Arti
dan Penjelasan Per Kalimat
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ
وَسِتُّونَ، شُعْبَةً
Iman itu terdiri
atas lebih dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang.
Kata "بِضْعٌ" secara bahasa menunjukkan jumlah antara tiga
hingga sembilan. Maka frasa "بضع وسبعون"
berarti sekitar tiga hingga sembilan ditambah tujuh
puluh, yaitu sekitar 73 sampai 79. Demikian pula "بضع
وستون"
berarti sekitar 63 hingga 69.
Perbedaan angka ini menunjukkan adanya variasi dalam
riwayat hadits, namun tidak memengaruhi esensi makna.
Makna ungkapan
ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar satu unsur
(seperti keyakinan dalam hati saja), melainkan sebuah struktur kompleks
yang bercabang, mencakup banyak aspek kehidupan, baik dalam
keyakinan, ucapan, maupun perbuatan.
Setiap cabang mewakili bentuk pengamalan iman yang
berbeda, dari yang paling tinggi hingga yang paling sederhana. Ini menunjukkan
bahwa iman adalah kesatuan utuh dari
hati, lisan, dan anggota tubuh.
فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ
Maka cabang yang
paling utama adalah ucapan “La ilaha illallah” (Tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah).
Potongan hadits ini
menegaskan bahwa dari seluruh cabang iman, yang paling tinggi nilainya adalah pengakuan
tauhid, yaitu ucapan "La ilaha
illallah". Ini bukan hanya kalimat lisan, tetapi merupakan inti
dan pondasi dari seluruh ajaran Islam.
Kalimat ini menegasikan segala bentuk sesembahan selain
Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Keutamaan kalimat
ini dijelaskan dalam banyak hadits, di antaranya bahwa siapa yang
mengucapkannya dengan ikhlas akan masuk surga. Oleh karena itu, ia menjadi fondasi
iman, dan tanpa keyakinan ini, seseorang belum dikatakan
beriman.
Kalimat ini mengandung komitmen untuk hanya menaati dan
mengabdi kepada Allah, serta meninggalkan segala bentuk syirik. Maka, siapa pun
yang benar-benar memahami dan mengamalkan maknanya, akan menjadikan iman
sebagai landasan hidup.
وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ
الطَّرِيقِ
Dan cabang iman yang
paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.
Perbuatan kecil seperti menyingkirkan benda yang mengganggu
jalan, seperti duri, batu, atau sampah, dianggap sebagai bagian
dari iman.
Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, nilai
iman tidak hanya diukur dari ibadah besar, tapi juga dari
kepedulian sosial dan akhlak terhadap sesama. Tindakan ini adalah wujud nyata
dari cinta kasih, tanggung jawab, dan kesalehan sosial.
Meski tampak sepele, perbuatan ini mencerminkan kesadaran
hati seorang mukmin untuk tidak membiarkan orang lain dalam
kesulitan, dan ini sangat berharga di sisi Allah.
Ini juga menunjukkan bahwa iman melahirkan amal
perbuatan, bukan hanya berhenti dalam hati.
Bahkan amal kecil jika diniatkan karena Allah bisa
menjadi sebab pahala besar. Islam ingin menanamkan bahwa keimanan
harus berdampak positif pada lingkungan sekitar.
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Dan rasa malu adalah
salah satu cabang dari iman.
"Al-ḥaya’" atau malu
dalam konteks ini bukan sekadar sifat pemalu, melainkan perasaan yang membuat
seseorang menjaga dirinya dari perbuatan yang hina atau tidak
pantas di hadapan Allah dan makhluk-Nya.
Rasa malu adalah pengawal batin
yang mencegah seseorang berbuat dosa, dan ini adalah bukti adanya iman dalam
hati.
Nabi ﷺ
menyebutkan malu sebagai cabang dari iman karena orang yang benar-benar beriman
pasti akan merasa malu jika melanggar aturan Allah, sekalipun tidak ada manusia
yang melihat.
Malu dalam Islam bukan kelemahan, melainkan kekuatan
spiritual yang mendorong pada akhlak mulia dan menjauhkan dari
keburukan.
Bahkan, dalam hadits lain disebutkan bahwa “malu itu tidak datang kecuali membawa kebaikan”. Maka, seorang mukmin sejati akan memiliki rasa malu kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada sesama manusia.
Syarah
Hadits
الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَاعْتِقَادٌ
Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan.
وَهُوَ شُعَبٌ وَدَرَجَاتٌ
Dan ia memiliki cabang-cabang dan tingkatan-tingkatan.
وَالخِصَالُ الحَمِيدَةُ كُلُّهَا تَنْدَرِجُ
تَحْتَ الإِيمَانِ
Dan seluruh sifat-sifat terpuji termasuk dalam iman.
وَمِنْ عَقِيدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ
وَالْجَمَاعَةِ
Dan termasuk dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah:
أَنَّ الإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ
وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ
Bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
فَالْمُؤْمِنُ يَزِيدُ إِيمَانُهُ بِفِعْلِ
الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابِ الْمُحَرَّمَاتِ
Maka seorang mukmin bertambah imannya dengan melakukan ketaatan dan menjauhi
yang haram.
وَبِقَدْرِ تَفْرِيطِهِ فِي الطَّاعَاتِ
وَارْتِكَابِهِ لِلْمُحَرَّمَاتِ يَضْعُفُ إِيمَانُهُ
Dan seukuran kelalaiannya dalam ketaatan serta perbuatannya terhadap yang
haram, maka imannya menjadi lemah.
وَفِي هَذَا الحَدِيثِ يُخْبِرُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan dalam hadis ini Nabi ﷺ mengabarkan
أَنَّ الإِيمَانَ الكَامِلَ دَرَجَاتٌ
Bahwa iman yang sempurna itu bertingkat-tingkat.
وَيَشْتَمِلُ عَلَى أَعْمَالٍ وَأَفْعَالٍ
وَأَصْنَافٍ مِنَ الصَّالِحَاتِ
Dan mencakup amal-amal, perbuatan-perbuatan, dan berbagai jenis kebaikan.
يَصِلُ عَدَدُهَا إِلَى بِضْعٍ وَسَبْعِينَ –
أَوْ بِضْعٍ وَسِتِّينَ – جُزْءًا
Yang jumlahnya mencapai tujuh puluh sekian – atau enam puluh sekian – bagian.
وَالبِضْعُ: يَدُلُّ عَلَى العَدَدِ مِنْ
ثَلَاثَةٍ إِلَى تِسْعَةٍ
Dan kata biḍ‘ menunjukkan bilangan antara tiga hingga sembilan.
وَالمَقْصُودُ: أَنَّ الإِيمَانَ ذُو خِصَالٍ
مُتَعَدِّدَةٍ
Yang dimaksud: bahwa iman itu memiliki banyak sifat.
وَيَتَكَوَّنُ مِنْ أَعْمَالٍ كَثِيرَةٍ
Dan terdiri dari banyak amal.
مِنْهَا أَعْمَالُ القُلُوبِ
Di antaranya adalah amalan hati:
كَالتَّوْحِيدِ، وَالتَّوَكُّلِ،
وَالرَّجَاءِ، وَالخَوْفِ
Seperti tauhid, tawakal, berharap, dan takut.
وَمِنْهَا أَعْمَالُ اللِّسَانِ
Dan di antaranya amalan lisan:
كَالشَّهَادَتَيْنِ، وَالذِّكْرِ،
وَالدُّعَاءِ، وَتِلَاوَةِ القُرْآنِ، وَغَيْرِهَا
Seperti dua kalimat syahadat, zikir, doa, membaca Al-Qur'an, dan selainnya.
وَمِنْهَا أَعْمَالُ الجَوَارِحِ
Dan di antaranya amalan anggota badan:
كَالصَّلَاةِ، وَالصَّوْمِ، وَإِغَاثَةِ
المَلْهُوفِ، وَنَصْرِ المَظْلُومِ
Seperti salat, puasa, menolong orang yang membutuhkan, dan membela orang yang
dizalimi.
فَمَنْ أَتَى بِعَمَلٍ مِنَ الصَّالِحَاتِ
فَقَدْ أَكْمَلَ جُزْءًا مِنْ إِيمَانِهِ
Maka siapa yang melakukan satu amal kebaikan, sungguh ia telah menyempurnakan
satu bagian dari imannya.
وَأَخْبَرَ أَنَّ أَعْلَى دَرَجَاتِ
الإِيمَانِ وَأَفْضَلَهَا
Dan beliau mengabarkan bahwa tingkatan iman yang paling tinggi dan paling utama
بَلْ وَأَصْلَ الإِيمَانِ هُوَ قَوْلُ: «لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»
Bahkan inti iman adalah ucapan: "Lā ilāha illallāh".
فَتَوْحِيدُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Maka mentauhidkan Allah ‘azza wa jalla
وَالِاعْتِرَافُ بِكَوْنِهِ الإِلَهَ
الوَاحِدَ المُدَبِّرَ لِلْكَوْنِ المُسْتَحِقَّ لِلْعِبَادَةِ وَحْدَهُ دُونَ مَا
سِوَاهُ
Dan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan yang Esa, pengatur alam semesta, yang
berhak disembah sendiri, tidak selain-Nya.
وَالعَمَلُ بِمُقْتَضَى ذَلِكَ الإِيمَانِ
هُوَ أَصْلُ الإِيمَانِ
Dan beramal sesuai dengan tuntutan iman tersebut adalah pokok iman.
وَهَذِهِ الكَلِمَةُ العَظِيمَةُ «لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ»
Dan kalimat agung ini: "Lā ilāha illallāh" (tidak ada tuhan selain
Allah)
هِيَ كَلِمَةُ التَّقْوَى
Adalah kalimat takwa
وَهِيَ العُرْوَةُ الوُثْقَى
Dan ia adalah tali yang kokoh
وَهِيَ الفَارِقَةُ بَيْنَ الكُفْرِ
وَالإِسْلَامِ
Dan ia adalah pembeda antara kekufuran dan Islam
وَهِيَ الَّتِي جَعَلَهَا إِبْرَاهِيمُ
عَلَيْهِ السَّلَامُ كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ
Dan ia adalah yang dijadikan oleh Ibrahim ‘alaihissalām sebagai kalimat yang
abadi pada keturunannya
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
وَهِيَ كَلِمَةٌ قَامَتْ بِهَا الأَرْضُ
وَالسَّمَاوَاتُ
Dan ia adalah kalimat yang dengannya tegak langit dan bumi
وَخُلِقَتْ لِأَجْلِهَا جَمِيعُ
المَخْلُوقَاتِ
Dan semua makhluk diciptakan karenanya
فَهِيَ مَنْشَأُ الخَلْقِ وَالأَمْرِ، وَالثَّوَابِ
وَالعِقَابِ
Maka ia adalah asal dari penciptaan dan perintah, juga pahala dan hukuman
وَهِيَ حَقُّ اللهِ عَلَى جَمِيعِ العِبَادِ
Dan ia adalah hak Allah atas seluruh hamba
وَلَيْسَ المِرَادُ قَوْلَهَا بِاللِّسَانِ
مَعَ الجَهْلِ بِمَعْنَاهَا، أَوِ النِّفَاقِ بِهَا
Dan yang dimaksud bukan sekadar mengucapkannya dengan lisan sambil tidak
mengetahui maknanya, atau dengan kemunafikan terhadapnya
بَلِ المِرَادُ قَوْلُهَا بِاللِّسَانِ
وَتَصْدِيقُهَا بِالقَلْبِ
Namun maksudnya adalah mengucapkannya dengan lisan dan membenarkannya dalam
hati
وَمَحَبَّتُهَا وَمَحَبَّةُ أَهْلِهَا
Serta mencintainya dan mencintai orang-orang yang mengamalkannya
وَبُغْضُ مَا خَالَفَهَا وَمُعَادَاتُهُ
Dan membenci apa yang menyalahi kalimat itu dan memusuhinya
ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَقَلَّ أَعْمَالِ الإِيمَانِ هُوَ تَنْحِيَةُ الْأَذَى
وَإِبْعَادُهُ عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ.
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan bahwa salah satu bentuk keimanan yang paling rendah
adalah menyingkirkan gangguan dari jalan umum agar tidak menyakiti orang lain.
وَالْمُرَادُ بِالْأَذَى: كُلُّ مَا يُؤْذِي؛
مِنْ حَجَرٍ، أَوْ شَوْكٍ، أَوْ غَيْرِهِ.
Yang dimaksud dengan "gangguan" di sini adalah segala sesuatu yang
dapat membahayakan, seperti batu, duri, atau hal lainnya.
وَأَخْبَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَيْضًا أَنَّ الْحَيَاءَ دَرَجَةٌ وَعَمَلٌ وَخَصْلَةٌ مِنْ خِصَالِ الإِيمَانِ.
Nabi ﷺ juga menyampaikan bahwa rasa malu (al-ḥayā’) merupakan salah
satu tingkatan, amalan, dan cabang dari cabang-cabang iman.
وَحَقِيقَةُ الْحَيَاءِ: خُلُقٌ يَبْعَثُ
عَلَى تَرْكِ الْقَبِيحِ، وَيَمْنَعُ مِنَ التَّقْصِيرِ فِي حَقِّ ذِي الْحَقِّ.
Hakikat rasa malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan
perbuatan buruk, dan menahannya dari meremehkan hak-hak orang lain (atau hak
Allah).
وَالْمُرَادُ بِهِ الْحَيَاءُ مِنَ اللهِ
تَعَالَى: أَلَّا يَرَاكَ حَيْثُ نَهَاكَ، وَأَلَّا يَفْقِدَكَ حَيْثُ أَمَرَكَ.
Yang dimaksud dengan malu kepada Allah Ta’ala adalah: tidak terlihat oleh Allah
dalam keadaan bermaksiat, dan tidak absen dari tempat Allah memerintahkanmu
berada.
وَهُوَ بِهٰذَا الْمَعْنَى أَقْوَى بَاعِثٍ
عَلَى الْخَيْرِ، وَأَعْظَمُ رَادِعٍ عَنِ الشَّرِّ.
Dengan pemahaman ini, rasa malu menjadi pendorong terbesar untuk berbuat baik
dan penahan terkuat dari perbuatan buruk.
وَخَصَّهُ بِالذِّكْرِ هُنَا؛ لِكَوْنِهِ
أَمْرًا خُلُقِيًّا رُبَّمَا يَذْهَلُ الْعَقْلُ عَنْ كَوْنِهِ مِنَ الإِيمَانِ.
Nabi ﷺ menyebutkan secara khusus rasa malu karena ia termasuk akhlak
yang secara umum mungkin tidak dianggap sebagai bagian dari keimanan oleh akal
manusia.
فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الأَخْلَاقَ الْحَسَنَةَ
أَيْضًا مِنْ أَعْمَالِ الإِيمَانِ وَدَرَجَاتِهِ.
Maka ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik juga termasuk dalam amalan dan
tingkatan iman.
فَجَمَعَ هٰذَا الْحَدِيثُ بَيْنَ
الِاعْتِقَادِ وَالْعَمَلِ وَالأَخْلَاقِ، وَأَنَّهَا كُلَّهَا مُكَمِّلَاتٌ
لِلإِيمَانِ.
Hadits ini menggabungkan antara aspek keyakinan, perbuatan, dan akhlak — dan
ketiganya adalah pelengkap dari iman.
وَإِنْ كَانَ الْحَدِيثُ أَجْمَلَ هُنَا
شُعَبَ الإِيمَانِ فَإِنَّهَا مُوَضَّحَةٌ وَمُفَصَّلَةٌ فِي السُّنَّةِ
النَّبَوِيَّةِ.
Meskipun dalam hadits ini cabang-cabang iman disebut secara global, namun
penjelasan rincinya ada dalam sunnah Nabi yang lain.
وَحَصْرُ الْعَدَدِ لَا يَعْنِي الِاقْتِصَارَ
عَلَى بِضْعٍ وَسِتِّينَ أَوْ بِضْعٍ وَسَبْعِينَ، وَلَكِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى
كَثْرَةِ أَعْمَالِ الإِيمَانِ.
Pembatasan jumlah cabang iman menjadi sekitar 60 atau 70 bukan berarti
jumlahnya hanya segitu, tetapi menunjukkan bahwa amalan iman sangatlah banyak.
وَفِي الْحَدِيثِ: بَيَانُ أَهَمِّيَّةِ
خُلُقِ الْحَيَاءِ.
Dalam hadits ini juga terdapat penegasan akan pentingnya sifat malu (al-ḥayā’).
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/63779
Pelajaran
dari Hadits ini
1. Iman Memiliki Banyak Cabang
Potongan hadits: الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ، شُعْبَةً yang berarti "Iman itu terdiri atas lebih dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang" mengajarkan bahwa iman adalah konsep yang luas, bertingkat, dan mencakup banyak aspek kehidupan. Iman tidak terbatas pada keyakinan di hati saja, tetapi mencakup lisan dan amal perbuatan, mulai dari hal terbesar seperti tauhid hingga hal terkecil seperti adab di jalan. Ini menunjukkan bahwa setiap aspek kebaikan yang dilakukan karena Allah termasuk dalam iman. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:"لَّيْسَ الْبِرَّ أَن
تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ
مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ..."
(QS. Al-Baqarah: 177), yang menunjukkan bahwa kebaikan (yang bagian dari iman) mencakup keyakinan, ibadah, dan amal sosial. Hadits ini juga menanamkan pemahaman bahwa tingkat keimanan seseorang bisa berbeda-beda tergantung sejauh mana ia mengamalkan cabang-cabang iman tersebut.
2. Kalimat Tauhid sebagai Cabang Iman Tertinggi
Potongan hadits: فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ yang berarti "Cabang yang paling utama adalah ucapan: La ilaha illallah", menunjukkan bahwa tauhid adalah inti dan puncak dari seluruh cabang iman. Kalimat ini tidak hanya sekadar ucapan, tetapi mengandung pengakuan penuh terhadap keesaan Allah dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan. Ini adalah kunci utama keselamatan di dunia dan akhirat. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: "فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ" (QS. Muhammad: 19), yang menegaskan pentingnya ilmu dan keyakinan dalam tauhid. Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:"مَن قَالَ: لا إلهَ إلَّا اللَّهُ دَخَلَ الجَنَّةَ"
(HR. Bukhari). Kalimat ini merupakan fondasi yang membedakan seorang muslim dan kafir, dan amal-amal tidak akan diterima tanpa tauhid. Maka memperkuat kalimat tauhid dalam hati, lisan, dan amal adalah bentuk pemeliharaan cabang iman yang tertinggi.
3. Amal Perbuatan Ringan Bernilai Iman
Potongan hadits: وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ yang berarti "Cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan", mengajarkan bahwa amal kecil pun bisa bernilai besar di sisi Allah jika diniatkan karena iman. Islam mendorong umatnya untuk berkontribusi terhadap kebersihan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat. Amal seperti ini adalah bukti bahwa iman mendorong pelakunya untuk mencintai kebaikan bagi orang lain.Maka seseorang tidak perlu menunggu kesempatan berbuat besar, cukup dengan amal sederhana namun ikhlas, ia telah menjaga sebagian dari imannya. Ini membentuk sikap peduli, bertanggung jawab, dan aktif dalam masyarakat.
4. Malu Termasuk Iman yang Hidup di Hati
Potongan hadits: وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ yang berarti "Malu adalah cabang dari iman", menunjukkan bahwa sifat malu adalah tanda adanya cahaya iman dalam hati seorang mukmin. Malu dalam Islam adalah malu yang positif; rasa enggan melakukan dosa karena merasa diawasi Allah. Rasa malu ini menjadi benteng yang menjaga akhlak dan kehormatan. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji sifat malu wanita Shalihah: "فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى
اسْتِحْيَاءٍ"
(QS. Al-Qashash: 25). Nabi ﷺ juga bersabda:
"الحياءُ لا يأتي إلا بخيرٍ"
(HR. Bukhari dan Muslim), artinya "Malu tidaklah datang kecuali membawa kebaikan." Maka seorang yang menjaga rasa malunya dari berbuat dosa, berbicara keji, atau menampakkan aurat, ia sedang menjaga salah satu bagian penting dari keimanannya.
5. Setiap Cabang Iman Bernilai Ibadah Jika Niatnya Lillāh
Pelajaran tambahan ini mengajarkan bahwa setiap bentuk amal yang berakar dari keimanan dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah memiliki nilai ibadah, tidak peduli besar atau kecilnya amal tersebut. Hadits ini menyiratkan prinsip penting dalam Islam bahwa ibadah bukan hanya shalat, puasa, atau zakat, tetapi mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan karena Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:"قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ"
(QS. Al-An‘ām: 162). Maka makan, tidur, bekerja, dan bahkan tersenyum pun bisa menjadi bagian dari iman jika diniatkan karena Allah dan dilakukan dengan cara yang benar.
6. Keimanan Bisa Bertambah dan Berkurang
Pelajaran tambahan ini terambil dari konteks hadits secara keseluruhan yang membagi iman menjadi cabang-cabang dari yang tinggi hingga yang rendah. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sesuatu yang statis, tetapi dinamis — dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: "لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ
إِيمَانِهِمْ"
(QS. Al-Fath: 4), yang menegaskan bahwa iman bisa bertambah. Pemahaman ini membentuk sikap muhasabah (introspeksi) dan motivasi untuk senantiasa memperbaiki diri agar kualitas iman terus meningkat.
7. Keutamaan Amal Tergantung pada Kebutuhan dan Keikhlasan
Hadits ini juga mengandung pelajaran bahwa amal tidak selalu diukur dari ukuran lahiriah, tetapi dari kebutuhan waktu dan keikhlasan pelakunya. Menyingkirkan gangguan di jalan bisa lebih utama dari amal besar jika saat itu sangat dibutuhkan dan dilakukan dengan penuh keikhlasan. Ini menunjukkan bahwa nilai amal tergantung pada kesesuaian niat dan ketakwaan, bukan hanya pada bentuk lahirnya.
Penutup
Kajian
Alhamdulillah, kita telah menelaah bersama sebuah hadits agung dari Rasulullah ﷺ tentang cabang-cabang iman. Hadits ini tidak hanya memperluas wawasan kita tentang hakikat iman, tetapi juga mengajarkan bahwa iman adalah sesuatu yang hidup dan terus tumbuh, mencakup seluruh aspek kehidupan seorang muslim, dari hal terbesar seperti mengucap Lā ilāha illallāh hingga hal terkecil seperti menyingkirkan gangguan dari jalan.
Faedah besar dari hadits ini adalah bahwa ia mendidik jiwa kita untuk menghargai setiap amal kebaikan, tak memandang besar atau kecil. Ia juga meluruskan pemahaman bahwa iman bukan sekadar dalam hati, tetapi mesti tampak dalam amal. Bahkan, hadits ini membangkitkan harapan bahwa siapa pun, di level apa pun, bisa meraih keutamaan iman—asal mau menjaga dan mengamalkan cabang-cabangnya, dengan penuh keikhlasan karena Allah.
Maka harapannya, setelah kita memahami hadits ini, kita bisa menerapkannya dalam keseharian. Mari kita jadikan setiap aktivitas kita sebagai bentuk penjagaan terhadap iman: mulai dari menjaga lisan, menumbuhkan rasa malu kepada Allah, menebar manfaat untuk orang lain, hingga meniatkan amal harian sebagai ibadah. Jangan pernah meremehkan amal kecil—karena bisa jadi, amal yang tampak remeh itulah yang kelak menjadi berat di timbangan amal di akhirat.
Semoga dengan memahami dan mengamalkan hadits ini, Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga iman dalam seluruh sisi kehidupan, hingga wafat dalam keadaan beriman, dan dibangkitkan bersama orang-orang yang beriman.
Kita tutup kajian ini dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
وَصَلَّى اللَّهُ
عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ