Hadits: Menjemput Rahmat Allah dengan Amal dan Doa yang Istiqamah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, hari ini kita hidup di tengah zaman yang sangat cepat berubah. Rutinitas duniawi silih berganti menyita perhatian kita: pekerjaan, urusan keluarga, berita yang terus mengalir, dan godaan teknologi yang tak pernah habis. Di tengah hiruk-pikuk ini, kita sebagai umat Islam sering kali kehilangan arah, melupakan hakikat hidup, dan menunda-nunda kebaikan. Banyak dari kita yang hanya semangat berbuat baik di waktu-waktu tertentu—seperti Ramadhan, atau ketika menghadapi musibah—namun setelahnya kembali lalai, bahkan tidak sedikit yang hidup tanpa agenda amal sama sekali.
Kita juga menyaksikan betapa banyak orang yang gelisah, takut akan masa depan, cemas akan aibnya terbongkar, serta khawatir akan cobaan hidup yang datang tiba-tiba. Mereka haus ketenangan, tapi tidak tahu bagaimana cara meraihnya. Padahal Islam telah mengajarkan kita cara hidup yang tenang, bermakna, dan penuh perlindungan Allah, salah satunya melalui hadits yang akan kita pelajari hari ini.
Hadits ini bukan hanya nasihat biasa, tapi petunjuk hidup yang sangat relevan untuk kita semua. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita beramal secara terus-menerus, bersiap menyambut momen-momen rahmat dari Allah, dan tidak lupa memohon perlindungan terhadap aib dan ketakutan yang menghantui hidup. Inilah hadits yang membimbing kita untuk tetap hidup dalam rel ibadah, siap menyambut peluang kebaikan, dan sadar akan kelemahan diri yang hanya bisa dijaga oleh rahmat Allah.
Urgensi hadits ini sangat tinggi, karena ia mengajarkan kita untuk tidak hidup secara pasif menunggu rahmat, tapi aktif dalam menjemputnya. Ia juga mengingatkan kita bahwa waktu adalah peluang, dan kehidupan kita bisa sangat berarti jika dijalani dengan amal dan doa yang istiqamah. Maka, marilah kita pelajari dengan penuh perhatian, hadits ini bukan sekadar teori—ia adalah peta hidup yang akan menuntun kita menuju rahmat, keamanan, dan kemuliaan dunia-akhirat.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
افْعَلُوا الخَيْرَ
دَهْرَكُمْ، وَتَعَرَّضُوا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ، فَإِنَّ لِلَّهِ
نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ، يُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ، وَسَلُوا
اللَّهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ، وَأَنْ يُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ
“Berbuatlah kebaikan sepanjang hidup kalian, dan carilah
saat-saat turunnya hembusan rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah memiliki
hembusan-hembusan dari rahmat-Nya yang mengenainya kepada siapa yang Dia
kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dan mohonlah kepada Allah agar Dia menutupi
aib-aib kalian dan memberikan rasa aman dari ketakutan-ketakutan kalian.”
HR. Al-Qadha’i dalam Musnad ash-Shihab (701),
ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (1/250) no. (723), dan Abu Nu‘aim
dalam Hilyat al-Awliya’ (3/162).
Arti dan Penjelasan per Perkataan
افْعَلوا الخَيْرَ دَهْرَكُمْ
Berbuatlah kebaikan sepanjang hidup kalian
Perkataan ini mengajak umat Islam untuk senantiasa
menjadikan kebaikan sebagai karakter dasar dalam menjalani kehidupan.
Berbuat baik tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual semata, tetapi
juga dalam amal sosial, muamalah, serta dalam memperbaiki kondisi masyarakat.
Kata "دهركم" menunjukkan kontinuitas dan konsistensi; artinya, selama
hayat masih dikandung badan, tidak boleh ada waktu yang terbuang tanpa
kebaikan.
Kebaikan di sini bersifat luas—mencakup memberi manfaat kepada orang lain,
menjaga lisan, bekerja dengan jujur, serta memperjuangkan keadilan sosial.
Perintah ini mengajarkan bahwa amal saleh bukanlah proyek sesaat, melainkan
misi hidup yang abadi.
وَتَعَرَّضُوا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ
Dan carilah saat-saat turunnya hembusan rahmat Allah
Perkataan ini mengandung perintah untuk aktif menyambut
momentum-momentum istimewa yang diberkahi oleh Allah.
"Nafahat" bermakna hembusan lembut yang tidak
dapat dilihat, namun terasa manfaat dan keberkahannya bagi yang membuka diri
terhadapnya.
Hembusan rahmat ini bisa datang dalam bentuk waktu-waktu
mulia seperti bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga malam terakhir, atau
momen-momen doa mustajab.
Sikap yang dituntut adalah kesiapsiagaan spiritual,
yaitu menyambut rahmat dengan amal saleh, istighfar, dan harapan yang kuat
kepada ampunan Allah.
Perkataan ini mengajarkan bahwa rahmat Allah bersifat
luas, namun hanya mereka yang siap dan sadar akan kehadirannya yang dapat
merasakan manfaatnya.
فَإِنَّ لِلَّهِ نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ
Karena sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan dari rahmat-Nya
Perkataan ini memperkuat alasan dari ajakan sebelumnya,
yaitu bahwa Allah benar-benar menyediakan momen-momen khusus untuk mencurahkan
rahmat-Nya.
Kata "نَفَحَاتٍ"
menggambarkan kemurahan Allah yang datang tidak terduga, namun berdampak
besar bagi siapa yang menerimanya.
Maknanya, Allah menciptakan waktu dan
peristiwa-peristiwa tertentu yang penuh peluang untuk diampuni, ditinggikan
derajat, dan diperbaiki keadaan.
Perkataan ini juga menunjukkan sifat rahmat Allah yang
tidak monoton, tapi dinamis dan penuh kejutan ilahi.
Pesan pentingnya adalah: jangan sia-siakan waktu, karena
boleh jadi pada momen tertentu ada hembusan rahmat yang sangat berharga.
يُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Yang mengenainya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya
Perkataan ini menegaskan bahwa rahmat Allah tidak jatuh
sembarangan, melainkan berdasarkan kehendak-Nya yang bijaksana.
Allah memberikan rahmat kepada siapa yang membuka diri,
memohon dengan penuh kerendahan, dan membersihkan hatinya dari kesombongan.
Ini merupakan pengingat bahwa manusia tidak boleh merasa
aman tanpa amal, tetapi juga tidak boleh putus asa dari rahmat-Nya.
Perkataan ini menunjukkan hubungan antara ikhtiar hamba
dan keputusan Allah: rahmat datang bagi yang layak dan dikehendaki oleh-Nya.
Dengan kata lain, kita tidak bisa memaksa datangnya
rahmat, tapi bisa mempersiapkan diri agar layak dipilih sebagai penerimanya.
وَسَلُوا اللَّهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ
Dan mohonlah kepada Allah agar Dia menutupi aib-aib kalian
Perkataan ini mengajarkan pentingnya doa dalam menjaga
martabat pribadi.
"عوراتكم" mencakup
bukan hanya aurat fisik, tetapi juga dosa dan kekurangan yang memalukan jika
terbuka kepada orang lain.
Allah adalah Satir (penutup aib), dan hanya Dia yang
mampu menutupi cacat-cacat yang tersembunyi dalam diri manusia.
Permintaan ini menunjukkan bahwa seorang mukmin
menyadari kelemahannya dan tidak ingin dipermalukan di dunia maupun di akhirat.
Ini juga dorongan untuk menjaga kehormatan diri dan
tidak membuka aib sendiri atau orang lain, serta menjadikan doa ini sebagai
wirid harian.
وَأَنْ يُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ
Dan agar Dia memberikan rasa aman dari ketakutan-ketakutan kalian
Perkataan ini menggambarkan kebutuhan dasar manusia:
rasa aman lahir dan batin.
"رَوْعَاتِكُمْ" adalah ketakutan mendalam—baik
terhadap bencana, musibah, fitnah, atau ketakutan atas akibat dosa.
Allah adalah satu-satunya pemberi keamanan sejati;
perlindungan-Nya menyelimuti jasad dan jiwa.
Permohonan ini menunjukkan bahwa mukmin hidup dalam
kesadaran akan potensi bahaya, namun menggantungkan rasa aman hanya kepada
Allah.
Ini juga mengajarkan bahwa doa tidak hanya untuk
kebaikan dunia, tetapi juga untuk ketenangan batin dan keselamatan akhirat.
Syarah Hadits
Hadits ini merupakan nasihat nabawi yang sangat dalam
maknanya dan mencakup prinsip hidup seorang Muslim dalam kaitannya dengan amal,
waktu, rahmat, dan doa. Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan antara manusia
dengan amal baik secara terus-menerus, bagaimana menyambut waktu-waktu istimewa
penuh rahmat, serta pentingnya memohon perlindungan Allah atas aib dan rasa
takut. Hadits ini memuat tiga unsur utama: konsistensi dalam kebaikan,
kesiapsiagaan rohani dalam menyambut karunia ilahi, dan kebutuhan spiritual
akan perlindungan dari Allah.
Syarah
Kalimat Demi Kalimat
افْعَلُوا الخَيْرَ
دَهْرَكُمْ
Berbuatlah
kebaikan sepanjang hidup kalian.
Perintah ini menuntun kita untuk tidak menjadikan amal
kebaikan sebagai sesuatu yang sesekali atau musiman, tetapi sebagai bagian dari
nafas kehidupan. Seorang Muslim dituntut agar hidupnya bernilai, tidak kosong
dari manfaat dan kontribusi. Hal ini mencakup amal ibadah (seperti shalat,
puasa, dzikir), amal sosial (seperti membantu sesama), dan amal profesional
(seperti bekerja jujur dan penuh integritas). Amal kebaikan harus bersifat istimrār
(berkelanjutan). Allah menganjurkan dalam Al-Baqarah ayat 148:
فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ
(Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan),
yang menunjukkan bahwa amal itu harus cepat, tepat, dan terus menerus
dilakukan. Ulama juga mengingatkan bahwa keberuntungan akhirat ditentukan oleh
kualitas dan konsistensi amal.
وَتَعَرَّضُوا
لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ
Dan
carilah saat-saat turunnya hembusan rahmat Allah.
Istilah "تَعَرَّضُوا" berarti
bersiap-siap atau membuka diri agar bisa terkena angin lembut rahmat Allah. Ini
menunjukkan bahwa rahmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang jelas,
tetapi seperti hembusan angin yang lembut—harus disambut dengan kesiapan hati.
Ulama menjelaskan bahwa terdapat waktu-waktu istimewa yang menjadi ladang besar
bagi rahmat: seperti waktu sahur, hari Jumat, sepuluh malam terakhir Ramadhan,
waktu antara adzan dan iqamah, dan waktu turun hujan. Dalam QS Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ
خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan),
maka siapa yang menyambut malam itu dengan ibadah dan hati yang terbuka, dialah
yang mendapatkan “nafahat”-nya.
فَإِنَّ لِلَّهِ
نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ
Karena sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan dari
rahmat-Nya.
Nafahat (hembusan rahmat) adalah metafora untuk menjelaskan
bentuk karunia Allah yang tidak terhitung, tak terduga, dan sangat lembut. Ini
menunjukkan bahwa Allah menurunkan rahmat-Nya dalam bentuk kesempatan, taufiq,
ilham, ketenangan hati, hingga rezeki tak terduga. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ رَحْمَتِي
سَبَقَتْ غَضَبِي
(Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku).
Dengan memahami ini, kita diajarkan untuk selalu berharap kepada Allah, tanpa
pernah berputus asa, dan menyambut setiap peluang dengan amal. Nafahat ini juga
bisa datang dalam bentuk hidayah untuk taubat, dorongan untuk bersedekah, atau
ilham untuk kebaikan.
يُصِيبُ بِهَا مَنْ
يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
Yang mengenai siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki.
Hembusan rahmat ini tidak bisa ditebak—bukan berarti siapa
yang beramal pasti langsung mendapatkannya, karena Allah-lah yang memilih siapa
yang berhak menerimanya. Tetapi ayat dalam QS Al-A’raf ayat 56 menjelaskan
siapa yang lebih berpeluang:
إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ
قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
(Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang
berbuat baik).
Artinya, mereka yang memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan berdoa dengan
sungguh-sungguh lebih berpotensi untuk disinari rahmat itu. Syaratnya adalah
ihsan (berbuat baik dengan niat ikhlas dan amal yang benar). Ini menegaskan
bahwa amal bukan sekadar syarat teknis, tapi harus diiringi dengan ketulusan
dan pengharapan.
5.
وَسَلُوا اللَّهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ
Dan mohonlah kepada Allah agar Dia menutupi aib-aib kalian.
Setiap manusia memiliki aib. Baik dosa masa lalu, kesalahan
tersembunyi, atau kelemahan yang tidak diketahui orang lain. Doa agar aib
ditutup bukan hanya tentang kehormatan dunia, tapi juga keselamatan di akhirat.
Dalam QS An-Nur ayat 19, Allah mengecam orang yang suka menyebarkan aib:
إِنَّ الَّذِينَ
يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ
(Sesungguhnya orang-orang yang suka agar kejahatan
tersebar di kalangan orang beriman, bagi mereka azab yang pedih).
Maka, menjaga aib sendiri dan orang lain adalah bagian dari akhlak Islam. Allah
adalah "As-Sattar" (Yang Maha Menutupi). Maka jangan pernah berhenti
memohon agar Allah menjaga kehormatan kita di dunia dan di hari pengadilan.
6.
وَأَنْ يُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ
Dan agar Dia memberikan rasa aman dari ketakutan-ketakutan
kalian.
Ketakutan bisa bersumber dari berbagai hal: bencana,
fitnah, ancaman hidup, kemiskinan, atau bahkan kegelisahan batin. Doa ini
adalah permohonan agar Allah memberikan ketenangan hati dan perlindungan lahir
batin. Dalam QS Quraisy ayat 4:
الَّذِي أَطْعَمَهُم
مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ
(Yang telah memberi mereka makan dari lapar dan
mengamankan mereka dari ketakutan),
kita melihat bahwa keamanan adalah salah satu bentuk nikmat terbesar. Ketika
hati aman, ibadah lebih khusyuk, hidup terasa tenteram, dan langkah lebih
pasti. Rasulullah ﷺ sering berdoa:
اللَّهُمَّ اسْتُرْ
عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا
(Ya Allah, tutupilah aib-aib kami dan amankanlah
ketakutan-ketakutan kami).
Ini menjadi teladan agar kita selalu memohon keamanan dari Allah, baik fisik
maupun batiniah.
Pelajaran dari Hadits ini
1. Seriuslah Berbuat Baik Sepanjang Hidup
Dalam perkataan افْعَلوا الخَيْرَ دَهْرَكُمْ (Berbuatlah kebaikan sepanjang hidup kalian), Rasulullah ﷺ mengajarkan agar setiap waktu dalam hidup kita diisi dengan amal kebaikan. Bukan hanya saat merasa semangat, tapi sepanjang usia—kapan pun dan di mana pun. Kebaikan itu luas: bisa berupa menolong orang lain, beribadah, bekerja jujur, atau bahkan tersenyum kepada sesama. Hidup terlalu singkat jika dihabiskan dengan kemaksiatan atau kemalasan. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 148:فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
(Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan).
Jangan menunda berbuat baik, karena kita tidak tahu kapan usia berakhir.
2. Manfaatkan Momen Istimewa untuk Dekat dengan Allah
Perkataan وَتَعَرَّضُوا لِنَفَحَاتِ رَحْمَةِ اللَّهِ (Dan carilah saat-saat turunnya hembusan rahmat Allah) mengingatkan kita bahwa dalam hidup ada waktu-waktu khusus yang penuh berkah, seperti Ramadhan, hari Jumat, atau waktu sahur. Saat-saat itu adalah peluang luar biasa untuk memohon ampun, berdoa, dan memperbaiki diri. Ibarat angin sejuk yang datang tiba-tiba, rahmat Allah bisa datang kapan saja. Allah berfirman dalam QS Al-Qadr ayat 3:لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan).
Siapa yang sadar dan siap menyambutnya, maka dialah yang akan memperoleh limpahan rahmat itu.
3. Rahmat Allah Itu Banyak dan Tak Terduga
Perkataan فَإِنَّ لِلَّهِ نَفَحَاتٍ مِنْ رَحْمَتِهِ (Karena sesungguhnya Allah memiliki hembusan-hembusan dari rahmat-Nya) menunjukkan bahwa kasih sayang Allah sangat luas dan bisa datang di luar dugaan. Bisa jadi dalam satu doa, satu amal ikhlas, atau satu air mata penyesalan, Allah memberikan rahmat-Nya. Ini mengajarkan kita untuk tidak menutup pintu harapan, karena Allah tidak kikir. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim:إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
(Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku).
Kita hanya perlu membuka diri dengan taubat dan amal agar rahmat itu menghampiri.
4. Allah Memberi Rahmat kepada Siapa yang Dikehendaki-Nya
Dalam perkataan يُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ (Yang mengenainya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya), disebutkan bahwa tidak semua orang akan mendapatkan rahmat itu—hanya mereka yang dipilih oleh Allah. Namun, bukan berarti kita pasrah. Justru ini menjadi motivasi agar terus berbenah diri, memperbanyak amal, dan berharap penuh kepada Allah. Dalam QS Al-A'raf ayat 56, Allah menyebut:إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
(Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik).
Artinya, siapa yang ingin dipilih, maka jadilah orang yang sungguh-sungguh dalam kebaikan.
5. Doakan Agar Aibmu Ditutupi Allah
Perkataan وَسَلُوا اللَّهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ (Dan mohonlah kepada Allah agar Dia menutupi aib-aib kalian) mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga kehormatan diri dan memohon kepada Allah agar tidak dibuka keburukan kita di hadapan manusia. Aib bukan hanya fisik, tapi juga dosa dan kesalahan masa lalu. Doa ini penting agar kita tidak menjadi bahan celaan, dan juga agar Allah tutupi aib kita di akhirat. Dalam QS An-Nur ayat 19, Allah mengingatkan:إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(Sesungguhnya orang-orang yang suka agar kejahatan tersebar di kalangan orang beriman, bagi mereka azab yang pedih).
Maka, selain menjaga diri, kita pun jangan membuka aib orang lain.
6. Mohon Perlindungan dari Segala Ketakutan
Perkataan وَأَنْ يُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ (Dan agar Dia memberikan rasa aman dari ketakutan-ketakutan kalian) adalah doa agar Allah menjaga kita dari segala rasa takut: musibah, fitnah, kegelisahan batin, maupun bencana dunia dan akhirat. Rasa aman adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Dalam QS Quraisy ayat 4, Allah menegaskan bahwa keamanan adalah karunia-Nya:الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ
(Yang telah memberi mereka makan dari lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan).
Ketika seseorang merasa tenang, ia bisa ibadah dengan khusyuk, bekerja dengan tenang, dan hidup dengan damai. Maka, mintalah perlindungan ini setiap saat.
7. Jangan Sia-siakan Kesempatan dan Umur
Selain dari setiap perkataan dalam hadits, kita bisa mengambil pelajaran tambahan bahwa waktu dan kesempatan adalah anugerah yang tidak bisa kembali. Dalam hadis riwayat Bukhari:نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
(Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang).
Banyak orang baru sadar setelah usia tua atau sakit, bahwa waktu muda adalah ladang amal. Maka jangan menunggu momen sempurna untuk berbuat baik—mulailah sekarang juga.
8. Harapan Selalu Terbuka Selama Masih Bernyawa
Dari isi hadits ini juga terlihat bahwa selama kita masih hidup, pintu rahmat dan pengampunan Allah tetap terbuka. Ini membuat kita tidak boleh berputus asa. Allah berfirman dalam QS Az-Zumar ayat 53:قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
(Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah).
Setiap orang punya kesempatan untuk kembali dan memperbaiki diri.
Penutupan Kajian
Alhamdulillah, dengan izin Allah kita telah menyelesaikan kajian hadits mulia yang begitu dalam maknanya dan luas faedahnya. Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup bukan sekadar menunggu datangnya rahmat, tapi menjemputnya dengan amal. "افعلوا الخير دهركم" — berbuat baiklah sepanjang hayatmu, adalah panggilan agar setiap detik hidup kita bernilai di sisi Allah. Amal tak harus besar, tapi harus terus mengalir. Sedikit namun rutin lebih dicintai Allah daripada besar tapi sesekali.
Kita juga diingatkan untuk senantiasa membuka hati dan kesiapan menyambut momen-momen istimewa dalam hidup — نفحات رحمة الله — hembusan rahmat Allah yang datang tak terduga, tapi bisa mengubah nasib seseorang. Maka jangan lelah menjadi orang baik. Jangan bosan mengetuk pintu langit dengan amal dan doa, sebab kita tidak tahu di momen mana Allah akan limpahkan rahmat-Nya.
Terakhir, permohonan kita kepada Allah agar menutup aib dan menenangkan hati, adalah bukti bahwa sekuat apa pun manusia, kita tetap makhluk yang lemah. Kita butuh perlindungan Allah untuk menjaga kehormatan kita di dunia, dan untuk menjaga ketenangan batin kita dari ketakutan, kekhawatiran, dan tekanan hidup yang sering datang tiba-tiba.
Maka, hadits ini hendaknya tidak hanya berakhir di telinga kita, tapi turun ke hati dan diamalkan dalam keseharian. Jadikan amal sebagai kebiasaan, bukan sekadar momen. Jadikan doa sebagai penguat jiwa, bukan hanya pelarian saat terdesak. Dan jadikan hidup ini sebagai perjalanan menuju rahmat Allah, bukan sekadar rutinitas dunia.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.